Home PeopleEvents50 Tahun MASARI yang Membentuk “The Curve: Lapisan Waktu” Sebagai Pendorong Level Fashion Indonesia

50 Tahun MASARI yang Membentuk “The Curve: Lapisan Waktu” Sebagai Pendorong Level Fashion Indonesia

by Syahmedi Dean
0 comments
Bagikan

Lima puluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk menyaksikan mode berganti kulit berkali-kali. Namun MASARI memilih tidak menjadi museum bagi masa lalu. Di Senayan City, MASARI justru membuka ruang baru untuk bergerak lebih jauh, merayakan ulang tahun ke-50 dengan butik yang terasa seperti persilangan antara fashion gallery dan contemporary living space. Abu-abu, warm white, brushed metal, struktur ekspos, garis linear, dan lekuk sculptural membangun atmosfer yang modern, dan hangat. Di sini, fashion tidak sekadar digantung untuk dilihat, tetapi dikurasi untuk dialami, ditampilkan layaknya presentasi jenama-jenama global.

ARI SEPUTRA

Gagasan 50 Tahun MASARI

Untuk ulang tahun ke-50, MASARI menyajikan cerita “The Curve: Lapisan Waktu” sebagai gagasan utama. Lengkung, lipatan, pleats, dan bentuk bunga menjadi metafora perjalanan kreativitas yang tidak pernah benar-benar berjalan lurus. Fashion tumbuh melalui lapisan pengalaman, ingatan, teknik, dan perubahan selera. Gagasan ini kemudian diterjemahkan ke runway Fashion Nation 2026 melalui lima nama yang memiliki sejarah khusus bersama MASARI: ARI, Friederich Herman, Sean Sheila, Peggy Hartanto, dan TOTON. Masing-masing menghadirkan koleksi eksklusif yang membaca The Curve melalui bahasa desain, heritage, dan hubungan personal mereka dengan perjalanan MASARI.

Lima Jenama

ARI membawa refleksi tentang kekayaan busana Indonesia melalui BIJANA, mempertemukan referensi baju kurung, kebaya encim, baju bodo, beskap, dan kain wiron lewat embroidery serta beadwork yang kaya detail. Friederich Herman membuka kembali arsipnya, mengolah rounded shoulders, cape sleeves, sculpted peplums, wrap skirts, pleats, hingga wing-shaped collar dengan proporsi baru. Sean Sheila bermain dengan benturan tailoring Barat dan busana Indonesia, mengubah uniform dan military silhouettes melalui distorsi, deconstruction, serta sulaman bunga. Peggy Hartanto menerjemahkan curve melalui draping, rounded forms, scalloped edges dan asymmetric hemlines, sementara TOTON mempertemukan siluet klasik dengan bahasa desain yang terus berkembang. Lima perspektif ini membuat masa lalu terasa bukan sebagai sesuatu yang harus disalin, melainkan material yang bisa terus dibentuk.

PEGGY HARTANTO

MASARI dan Naungan Yayasan Anak Tanah Air (NYATA)

Perayaan ini juga membawa MASARI keluar dari wilayah fashion menuju isu yang lebih human. Bersama Naungan Yayasan Anak Tanah Air (NYATA), MASARI mendukung pembangunan kembali sekolah yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur sekaligus membantu akses pendidikan bagi anak-anak di komunitas terdampak. Bersama kelima desainer, MASARI menciptakan T-shirt edisi khusus 50 tahun yang masing-masing mendapat interpretasi kreatif berbeda. Setiap pembelian menjadi bagian dari dukungan bagi anak-anak dan komunitas di NTT, menjadikan sebuah merchandise anniversary memiliki kehidupan yang lebih panjang daripada sekadar memorabilia.

FRIEDERICH HERMAN

MASARI – Senayan City Jakarta

Di luar kolaborasi anniversary, MASARI Senayan City memperluas kurasinya dengan nama-nama internasional seperti Marge Sherwood yang baru hadir, bersama SIMKHAI, PH5, serta pilihan ready-to-wear, tas, sepatu, dan aksesori lainnya. Setelah setengah abad, MASARI tampaknya tidak sedang melihat ke belakang untuk bernostalgia. The Curve justru bekerja seperti gerakan berkelanjutan: kembali, membengkok, berubah, lalu bergerak lagi. Lima puluh tahun menjadi lapisan yang telah terbentuk, sementara bentuk berikutnya masih terbuka untuk diciptakan.

SEAN SHEILLA


Bagikan

You may also like

UA-98339383-1