Warisan budaya tidak selalu harus disimpan di balik kaca museum. Di Bali, seni rupa Kamasan terus hidup justru karena ada tangan-tangan baru yang berani menyentuhnya. Untuk merayakan 20 tahun perjalanannya, Bvlgari Resort Bali memilih merayakan ulang tahun mereka dengan sebuah gestur yang jauh lebih puitis: menyerahkan tradisi lukis klasik Bali berusia lebih dari empat abad kepada 20 anak Bali, lalu membiarkan mereka menerjemahkan kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, kejutan, dan kemarahan ke dalam warna. Di titik ini, Kamasan bukan sekadar warisan visual, melainkan menjadi bahasa kecil tempat anak-anak belajar mengenali dirinya sendiri.

20 Seniman Cilik
Program ini mempertemukan 20 anak dari sekolah dasar di sekitar Bali, berusia enam hingga 12 tahun, dalam sebuah akhir pekan yang dirancang seperti perjalanan kecil menuju dunia seni. Mereka diajak menjelajah area resort melalui treasure hunt, berbincang tentang wellbeing, lalu berkenalan dengan Kamasan di Mansion. Di balik suasananya yang playful, terdapat gagasan yang jauh lebih serius: bagaimana anak mengenali apa yang mereka rasakan ketika kata kata belum selalu cukup untuk menjelaskannya.

Tradisi Seni Rupa Kamasan
Pilihan Kamasan terasa sangat kontekstual. Berasal dari Desa Kamasan di Klungkung, tradisi ini telah bertahan lebih dari empat abad dan dikenal sebagai sekolah tertua seni lukis klasik Bali yang masih hidup. Dahulu, lukisan dengan sapuan kuas bambu, pigmen alami, garis kontur tegas dan tata visual yang sangat teratur menghiasi langit langit istana Klungkung. Di Bvlgari Resort Bali sendiri, jejak tradisi tersebut hadir pada langit langit The Pavilion. Kali ini, sejarah itu turun dari langit langit dan masuk ke tangan anak anak.

Maestro Kamasan, I Made Sesangka
Bersama maestro Kamasan I Made Sesangka, 20 anak tersebut menerima kanvas yang telah diberi dasar gambar dengan lima emosi fundamental: happiness, sadness, fear, surprise dan anger. Mereka kemudian bebas memberi warna sesuai pengalaman dan perasaan masing masing. Hasilnya menarik justru karena tidak ada satu pun yang benar benar sama. Lima emosi yang sama berubah menjadi dua puluh interpretasi, memperlihatkan bagaimana sebuah warna dapat memiliki arti yang sangat personal bagi setiap anak.

Seni Sebagai Bahasa
Di sinilah seni bertemu dengan wellbeing. Data yang dikutip dalam program ini menyebutkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir, sementara hanya sebagian kecil yang mencari dukungan. Bagi anak yang lebih muda, mengenali dan mengucapkan emosi bahkan bisa menjadi tantangan yang lebih besar. Melalui proses melukis, perasaan yang abstrak mendapatkan bentuk yang bisa dilihat, disentuh dan dibicarakan. Seni bekerja sebagai bahasa sebelum kata kata benar benar datang.


Keberlanjutan Seni
Menariknya, proyek ini juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu tampil dalam bentuk yang seremonial. Kamasan memang memiliki aturan, sejarah dan teknik yang panjang, tetapi keberlanjutannya justru lahir dari proses transmisi antargenerasi. Menempatkannya di tangan anak anak berarti meneruskan logika hidup tradisi itu sendiri: seorang master mengajarkan, generasi berikutnya menerima, lalu memberi interpretasi baru. Dalam konteks ini, dua puluh lukisan tersebut bukan sekadar karya anak, melainkan semacam percakapan visual antara masa lalu dan masa depan Bali.

20 Tahun Bvlgari Resort Bali
Pada 23 September 2026, tepat pada hari ulang tahun ke-20 Bvlgari Resort Bali, seluruh karya dipamerkan di The Bvlgari Chapel. Setiap lukisan kemudian tersedia untuk diadopsi, dengan seluruh hasilnya disalurkan kepada Save the Children Indonesia. Dana tersebut masuk ke humanitarian pool fund yang mendukung respons awal bagi anak anak yang terdampak bencana alam di berbagai wilayah Indonesia. Bank BRI juga memberi dukungan yang lebih personal melalui BRIZZI card dan rekening BRI Junio untuk masing masing anak, lengkap dengan setoran awal sebagai langkah kecil menuju masa depan finansial mereka.

Warisan Seni Rupa dan Luxury Hospitality
Dua puluh tahun Bvlgari Resort Bali akhirnya menemukan bentuk perayaan yang lebih menarik daripada sekadar nostalgia. Ada Kamasan, ada anak anak, ada emosi, ada budaya yang diteruskan, dan ada karya yang kembali menjadi bantuan bagi mereka yang membutuhkan. Seperti sebuah lukisan Kamasan yang bertahan karena terus diwariskan, proyek ini mengingatkan bahwa luxury hospitality pun dapat menemukan maknanya ketika ia membuka pintu kepada komunitas di sekitarnya. Dua puluh anak memberi warna pada kanvas; Bali, pada gilirannya, memberi mereka sebuah bahasa untuk mengenali diri sendiri.





















