Home Fashion“Tanö Niha” Mari Angkat Tanah Nias Setinggi-tingginya bersama Mel Ahyar Archipelago – Fashion Nation 2026 Senayan City Jakarta

“Tanö Niha” Mari Angkat Tanah Nias Setinggi-tingginya bersama Mel Ahyar Archipelago – Fashion Nation 2026 Senayan City Jakarta

by Syahmedi Dean
0 comments
Bagikan

Kenapa Mel Ahyar peduli dengan Nias? Pertanyaan itu menjadi pintu masuk paling menarik untuk membaca Tanö Niha, koleksi Mel Ahyar Archipelago yang tampil di Fashion Nation 20th Edition, Senayan City Jakarta. Bukan sekadar karena Nias memiliki kekayaan visual yang eksotis, melainkan karena di balik ukiran kayu, pahatan batu, arsitektur Omo Salawa dan simbol-simbol tradisionalnya tersimpan ingatan sebuah peradaban yang nyaris tidak memiliki dokumentasi tertulis. Mel melihat semua itu bukan sebagai artefak yang harus dibiarkan membeku, melainkan sebagai bahasa visual yang masih mungkin diterjemahkan, dipetik, dibentuk dan dihidupkan kembali melalui persembahan fashion. Mel masuk lebih jauh, menuju ingatan visual sebuah peradaban yang selama berabad-abad menyimpan sejarahnya melalui kayu dan batu.

Rumah Panggung Para Raja

Gagasan tersebut berangkat dari kenyataan bahwa masyarakat Nias tradisional tidak mengenal sistem aksara sebelum masuknya abjad Latin melalui misionaris Eropa pada abad ke-19. Karena itu, berbagai pengetahuan tentang kehidupan, hukum adat, sejarah dan identitas justru diwariskan melalui bahasa visual. Omo Salawa, rumah panggung para raja dan bangsawan, menjadi semacam perpustakaan hidup bagi Mel. “Omo Salawa inilah yang akan menjadi perpustakaan hidup sekaligus ground zero koleksi Mel Ahyar Archipelago kali ini,” ujarnya. Di sinilah kekuatan koleksi Tanö Niha terasa: budaya tidak diperlakukan sebagai ornamen dekoratif, melainkan sebagai sumber bahasa desain.

Mel Ahyar Archipelago dan Ornamen Nias

Sebanyak 20 look memperlihatkan bagaimana Mel mengubah kekayaan visual tersebut menjadi couture kontemporer. Ornamen Nias hadir kembali melalui konstruksi bodice, rok bertingkat dan ruffle, abstraksi embroidery pada sweater, hingga eksplorasi material yang membuat detail tradisional terasa jauh dari kesan kostum. Biji Taigue atau Hanjeli dari bunga liar lokal Nias bahkan digunakan sebagai beads, sementara siluet angular mengambil referensi baru oholu, zirah dari kayu pohon oholu yang dahulu memiliki fungsi intimidatif. Sarung printed organdi berbordir dan sunburst pleats pada see-through dress memperlihatkan bagaimana craftsmanship Mel bergerak bebas antara warisan dan eksperimen.

Tanö Niha

Yang membuat Tanö Niha menarik justru ketika referensi tradisional itu bertemu dengan gaya urban kontemporer. Dress dengan konstruksi yang sengaja tampak bergeser, asimetri, kerah yang tersusun dari bagian-bagian berbeda, tailoring, hingga embellishment strass (seni mendekorasi pakaian) yang ditempatkan secara tidak terduga menciptakan kesenangan visual khas Mel Ahyar. Hasilnya bukan romantisasi masa lalu, melainkan sebuah percakapan antara Nias dan kehidupan urban: heritage yang dipotong, dibentuk ulang, lalu diberi kebebasan untuk hidup dalam konteks fashion kontemporer hari ini.

Momentum Nias

Bagi Arie Panca, Co-Founder & CEO Maison MAC, keunikan Nias juga terletak pada posisinya yang relatif terisolasi oleh Samudra Hindia. Patung batu, arsitektur Omo Sebua dan tradisi lompat batu menjadi jejak budaya Megalitik yang membuat Nias memiliki karakter berbeda dari wilayah mainland Sumatra Utara. Kini, perhatian terhadap Nias kembali menemukan momentumnya, dari pengajuan Desa Adat Bawomataluo sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2026 hingga geliat pariwisata dan olahraga selancar di Pantai Sorake. Fashion menjadi kanal berikutnya untuk membawa identitas tersebut ke ruang publik yang lebih luas.

Mari Angkat Nias

Pada 18 September, ketika musik tradisional dan tari Faluaya Hombo Batu mengiringi kemunculan para muse seperti Anggun C. Sasmi, Kirana dan Vira Tandia, Tanö Niha terasa seperti sebuah pernyataan: bahwa warisan budaya tidak harus dibekukan agar tetap otentik. Ia justru bisa bergerak, dipotong, dijahit, dibentuk menjadi volume tiga dimensi, lalu berjalan di runway. Mel berharap koleksi ini membuat Nias kembali masuk ke dalam percakapan publik, sementara Arie membayangkan dampak yang lebih konkret, ketika Pulau Nias kembali menjadi wishlist perjalanan. Jika fashion mampu membuat orang menoleh, mungkin perjalanan berikutnya adalah membuat mereka datang dan melihat sendiri tanah yang selama ini menyimpan begitu banyak cerita.


Bagikan

You may also like

UA-98339383-1