Home FashionMencari Identitas Menswear Indonesia

Mencari Identitas Menswear Indonesia

by Ion Akhmad
0 comments
Bagikan

Banyak label, banyak klaim sebagai desainer, tetapi di mana identitas dan kualitas menswear Indonesia sebenarnya?

Selama saya berkarir sebagai jurnalis fashion lebih dari 20 tahun, yang saya sadari bahwa Indonesia tidak pernah kekurangan orang kreatif di bidang fashion. Setiap tahun, label baru bermunculan, koleksi diperkenalkan, fashion show digelar, dan semakin banyak nama yang memperkenalkan diri sebagai fashion designer. Industri fashion lokal terlihat semakin ramai. Namun, ketika pembicaraan dipersempit pada satu kategori, yaitu menswear, muncul sebuah pertanyaan yang cukup mengganggu: sejauh mana perkembangan pakaian pria Indonesia benar-benar berjalan?

Kita mungkin memiliki banyak label yang menjual pakaian pria. Ada yang bermain di ranah streetwear, contemporary fashion, tailoring, hingga busana dengan sentuhan budaya lokal. Tetapi apakah semuanya bisa disebut sebagai perkembangan menswear yang sesungguhnya? Membuat pakaian pria dan menjadi seorang menswear designer adalah dua hal yang berbeda.

Menswear bukan hanya tentang membuat kemeja dengan potongan oversized, celana berukuran lebar, jaket dengan siluet eksperimental, atau menggabungkan beberapa referensi dari runway internasional. Ada pengetahuan yang lebih mendalam di balik sebuah rancangan. Mulai dari konstruksi, pola, proporsi tubuh, karakter material, teknik jahit, fungsi, hingga pemahaman mengenai bagaimana pakaian membentuk karakter seorang pria.

Sebuah koleksi seharusnya memiliki pemikiran di balik setiap potongannya. Bukan sekadar terlihat menarik ketika dikenakan model di atas runway atau tampil bagus dalam sebuah editorial fashion atau sekarang dalam sekotak foto postingan instagram.

The Difference Between Making Clothes and Designing Menswear

Salah satu persoalan yang cukup terasa dalam perkembangan fashion pria Indonesia adalah kaburnya batas antara memiliki clothing label dan benar-benar menjadi seorang fashion designer. Saat ini, membangun sebuah label fashion memang semakin mudah. Seseorang bisa memiliki ide, mencari vendor produksi, menentukan konsep visual, melakukan pemotretan, lalu memperkenalkan koleksinya melalui media sosial. Tidak ada yang salah dengan proses tersebut. Bahkan, perkembangan teknologi dan akses produksi seharusnya membuka kesempatan lebih luas bagi siapa pun yang ingin masuk ke industri fashion.

Namun, branding tidak selalu sejalan dengan kemampuan desain. Memiliki selera berpakaian yang baik belum tentu berarti memahami konstruksi pakaian. Mampu melakukan styling bukan berarti menguasai teknik desain. Dan memiliki label dengan identitas visual yang menarik tidak otomatis menjadikan seseorang seorang desainer yang memiliki kapasitas teknis dan artistik.

Di sinilah industri perlu lebih jujur dalam membedakan antara fashion entrepreneur, clothing brand owner, stylist, dan fashion designer. Semuanya memiliki peran masing-masing dan sama-sama penting. Tetapi menyamakan seluruhnya hanya akan membuat standar profesi desainer kehilangan makna.

Persoalan lainnya adalah kecenderungan mengikuti estetika yang sedang populer. Ada label yang terlihat sangat dekat dengan Japanese minimalism, ada yang mengadopsi gaya workwear Amerika, ada yang bermain dengan pendekatan streetwear Korea, dan tidak sedikit yang mengambil referensi dari rumah mode Eropa. Yang terakhir: demam beskap Jawa yang di dekonstruksi. Terinspirasi oleh desainer lain merupakan bagian dari proses kreatif. Namun, inspirasi seharusnya menjadi titik awal untuk menemukan sesuatu yang personal, bukan menjadi hasil akhir dari sebuah koleksi.

Pertanyaannya sederhana: jika semua referensi tersebut dilepaskan, apa yang tersisa dari identitas desain mereka?

Fashion Week dan bahasa Menswear

Untuk memahami perkembangan menswear hari ini, kita tidak bisa mengabaikan peran fashion week. Pekan mode bukan sekadar panggung untuk memperlihatkan koleksi terbaru atau tempat berkumpulnya selebritas, editor, buyer, dan fotografer street style. Fashion week merupakan salah satu ruang penting tempat arah perkembangan pakaian pria diperkenalkan, diperdebatkan, dan kemudian diterjemahkan oleh industri. Terutama di kota pusat fashion dunia, Paris dan Milan.

Di antara berbagai pekan mode dunia, Paris memiliki posisi yang sangat kuat dalam membentuk percakapan menswear internasional.

Paris Men’s Fashion Week menjadi panggung bagi rumah mode besar seperti Dior, Louis Vuitton, Hermès, Saint Laurent, hingga berbagai desainer independen yang menawarkan pendekatan berbeda terhadap pakaian pria. Pengaruhnya tidak hanya terlihat dari koleksi yang ditampilkan, tetapi juga dari bagaimana sebuah rumah mode membangun kembali definisi pria modern melalui siluet, material, tailoring, teknologi tekstil, hingga cara berpakaian.

Kita bisa melihat bagaimana perubahan kepemimpinan kreatif di rumah mode besar mampu memunculkan interpretasi baru terhadap pakaian pria. Jonathan Anderson di Dior, Pharrell Williams di Louis Vuitton, atau evolusi panjang desain menswear Hermès menunjukkan bahwa pakaian pria bukan kategori yang statis. Ia terus berkembang mengikuti perubahan budaya, gaya hidup, teknologi, dan cara pria mengekspresikan dirinya.

Musim menswear Paris juga memperlihatkan bagaimana satu gagasan desain dapat menyebar menjadi pembicaraan global. Eksplorasi tailoring, permainan proporsi, oversized outerwear, workwear, hingga pendekatan baru terhadap pakaian formal bisa menjadi referensi bagi industri fashion di berbagai negara.

Tentu saja, Paris bukan satu-satunya pusat pengaruh. Milan memiliki tradisi tailoring dan luxury craftsmanship yang sangat kuat. London sering menjadi ruang bagi pendekatan yang lebih eksperimental, sementara Florence melalui Pitti Uomo memiliki peran penting dalam membentuk budaya classic menswear, tailoring, dan contemporary gentleman’s style.

Namun, Paris memiliki daya pengaruh yang sangat besar karena mempertemukan kekuatan rumah mode luxury, desainer independen, media internasional, dan industri komersial dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Dari sana, tren tidak hanya muncul sebagai bentuk pakaian, tetapi juga sebagai sebuah gagasan tentang bagaimana pria seharusnya berpakaian pada zamannya.

Lalu bagaimana dengan Jakarta?

Jakarta Fashion Week, memiliki peran penting sebagai platform bagi desainer lokal untuk memperkenalkan karya dan membangun eksposur. Kehadiran program seperti Lomba Perancang Mode Menswear yang pertama kali diselenggarakan pada 2017 oleh Jakarta Fashion Week merupakan langkah positif untuk membuka ruang bagi talenta baru di kategori pakaian pria.

Tetapi, sebuah fashion week seharusnya tidak berhenti pada penyelenggaraan runway ( yang bersifat seremonial ) dan banyaknya desainer yang tampil. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah panggung tersebut mampu membangun standar desain, melahirkan identitas baru, dan mendorong perkembangan menswear secara konsisten?

Fashion week memiliki kekuatan untuk membentuk tren, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membangun kualitas industri. Runway seharusnya menjadi tempat untuk memperlihatkan pemikiran desain, bukan hanya menjadi panggung presentasi koleksi.

The Missing Identity

Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat menarik untuk membangun identitas menswear sendiri. Kita memiliki kekayaan tekstil, teknik tenun, batik, kerajinan kulit, tradisi tailoring, serta berbagai teknik kriya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Semua itu dapat menjadi sumber eksplorasi yang sangat luas bagi desainer pakaian pria. Namun, memasukkan kain tenun ke dalam sebuah jaket atau menggunakan motif batik pada kemeja belum tentu menghasilkan sebuah identitas desain yang kuat.

Yang lebih penting adalah bagaimana material dan tradisi tersebut diterjemahkan menjadi bahasa desain yang relevan dengan kehidupan pria masa kini. Bagaimana sebuah tenun bisa menjadi bagian dari contemporary tailoring? Bagaimana teknik tradisional dapat diterapkan pada konstruksi pakaian modern? Dan bagaimana identitas lokal bisa hadir tanpa membuat sebuah koleksi terasa seperti kostum, pakaian etnik upacara adat atau sekadar produk yang mengandalkan label heritage? Di sinilah dibutuhkan pemahaman desain yang lebih dalam.

Kita membutuhkan desainer yang tidak hanya mampu mengolah referensi budaya, tetapi juga memahami konstruksi pakaian, memiliki visi yang konsisten, dan mampu menghasilkan karya dengan kualitas yang dapat diperhitungkan secara internasional.

Building Designers, Not Just Labels

Tentu saja, perkembangan menswear Indonesia tidak bisa hanya dibebankan kepada para desainer. Ekosistemnya juga harus berkembang. Pendidikan desain perlu memberikan perhatian lebih pada spesialisasi pakaian pria. Industri produksi harus mampu mendukung kualitas konstruksi dan finishing. Tailor, pattern maker, pengrajin, hingga produsen material perlu mendapatkan ruang yang lebih besar dalam rantai industri fashion.

Media juga memiliki peran. Apresiasi terhadap karya lokal memang penting, tetapi apresiasi tidak seharusnya berarti semua karya harus dipuji. Kritik yang objektif justru dibutuhkan agar desainer memiliki ruang untuk berkembang dan memahami standar yang lebih tinggi. Sebab, industri fashion yang sehat bukan industri yang hanya dipenuhi oleh pujian, melainkan industri yang mampu menerima evaluasi.

Kita juga perlu berhenti mengukur perkembangan fashion hanya dari jumlah label baru, banyaknya fashion show, jumlah pengikut media sosial, atau seberapa sering seorang desainer muncul dalam pemberitaan. Semua itu bisa menjadi indikator popularitas, tetapi belum tentu menjadi ukuran kualitas desain.

So, Where Is Indonesian Menswear?

Pertanyaan ini mungkin terdengar tidak nyaman, terutama bagi mereka yang sedang membangun label pakaian pria di Indonesia. Tetapi justru pertanyaan seperti inilah yang perlu diajukan jika kita ingin melihat industri menswear berkembang lebih jauh.

Indonesia tidak kekurangan kreativitas. Yang masih perlu dibangun adalah kedalaman pengetahuan, konsistensi, keberanian untuk memiliki identitas sendiri, dan standar profesional yang lebih tinggi. Kita tidak membutuhkan lebih banyak label yang sekadar mengikuti apa yang sedang terlihat di runway Paris, Milan, atau Tokyo. Kita membutuhkan desainer yang memahami mengapa sebuah desain dibuat, memiliki sudut pandang yang jelas, dan mampu menawarkan sesuatu yang tidak bisa dengan mudah ditemukan di tempat lain.

Menswear Indonesia tidak harus menjadi versi lokal dari Paris, Milan, atau London. Ia harus memiliki karakter sendiri, tanpa kehilangan relevansi terhadap perkembangan fashion global. Dan mungkin, sebelum kita terlalu cepat menyebut Indonesia sebagai salah satu kekuatan baru dalam industri menswear, ada baiknya kita menjawab satu pertanyaan terlebih dahulu: Di antara begitu banyak orang yang membuat pakaian pria hari ini, berapa banyak yang benar-benar bisa kita sebut sebagai menswear designer?


Bagikan

You may also like

UA-98339383-1