Home LifestyleArt & CultureArt Jakarta 2026 Membuka Gairah Semesta Seni Kontemporer Asia Tenggara

Art Jakarta 2026 Membuka Gairah Semesta Seni Kontemporer Asia Tenggara

by Redaksi Luxina
0 comments
Bagikan

Art Jakarta 2026 tampaknya tidak lagi sekadar soal melihat karya seni, berpindah dari satu booth ke booth lain, lalu pulang membawa katalog. Di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 2–4 Oktober 2026, art fair ini sedang membangun sesuatu yang lebih besar: sebuah ruang pertemuan bagi seniman, galeri, kolektor, institusi, brand, dan publik untuk membaca ke mana seni kontemporer Asia Tenggara sedang bergerak. Dengan 75 galeri yang berpartisipasi, lebih dari separuhnya berasal dari Indonesia, edisi tahun ini memperlihatkan sebuah ekosistem yang semakin berani membuka pintu ke kawasan.

33 Galeri Internasional

Skalanya juga semakin internasional. Dari 75 galeri tersebut, 33 merupakan galeri internasional dan 19 di antaranya hadir untuk pertama kalinya di Art Jakarta. Angka ini penting bukan sekadar sebagai statistik, melainkan sebagai penanda bahwa percakapan seni kontemporer di Jakarta semakin terhubung dengan jaringan regional dan global. Setelah Art Jakarta Papers dan Art Jakarta Gardens yang telah berlangsung lebih awal tahun ini, Art Jakarta International Art Fair menjadi bagian ketiga dari format tahunan baru yang kini membuat Art Jakarta hadir tiga kali dalam setahun, masing-masing dengan karakter dan fokus yang berbeda.

Enin Supriyanto – Artistic Director

Artistic Director Art Jakarta, Enin Supriyanto, melihat perubahan tersebut sebagai bagian dari evolusi ekosistem seni visual. Menurutnya, Art Jakarta berkembang menjadi salah satu art fair paling dinamis di Asia Tenggara, sekaligus mempertahankan fungsi utamanya sebagai ruang bertemu, bertukar pengetahuan, membangun jaringan, dan membuka kemungkinan kolaborasi. Dengan kata lain, nilai sebuah art fair tidak hanya berada di balik karya yang dipajang, tetapi juga pada percakapan yang lahir di antara karya-karya tersebut.

Pendukung Art Jakarta 2026

Lapisan pertama yang menarik perhatian datang dari para Lead Partners yang kembali mendukung Art Jakarta 2026: Julius Baer, Bibit dan Stockbit, Treasury, serta BCA. Julius Baer, yang merayakan 20 tahun kehadirannya di Asia, memasuki tahun kelima dukungannya terhadap Art Jakarta melalui kolaborasi dengan Handiwirman Saputra. Seniman kelahiran 1975 ini dikenal karena kemampuannya mengubah material sehari-hari menjadi karya yang memiliki daya tarik visual dan konseptual. Di VIP Lounge Julius Baer, seri Penampang Taut Berpilin dan karya-karya terbaru Handiwirman hadir berdampingan dengan Kuasa Alam, sebuah aktivasi interaktif yang mengajak pengunjung membuat interpretasi personal mereka sendiri terhadap hubungan manusia dan alam.

Percakapan dalam Lost at Sea

Bibit dan Stockbit membawa percakapan yang berbeda melalui Lost at Sea bersama seniman Yogyakarta, Endry Pragusta. Instalasi berbentuk rakit menjadi metafora tentang kemampuan beradaptasi dalam proses pendidikan dan pembelajaran, sekaligus perjalanan investor menghadapi perubahan arus finansial. Pengunjung tidak hanya menjadi penonton. Aktivitas menulis dan origami membuka ruang partisipasi, memungkinkan harapan dan aspirasi personal diterjemahkan menjadi bagian dari karya kolektif.

My Art, myBCA

Treasury mempertemukan seni, material, dan gagasan nilai melalui Gravity of the Unheld karya Etza Meisyara, pemenang Treasury Art Prize tahun ini. Instalasi intermedial dan multisensori tersebut mengeksplorasi bagaimana emas bergerak dari sekadar material bernilai tinggi menuju gagasan tentang nobility sebagai nilai yang lebih transenden. Sementara itu, BCA kembali hadir melalui myBCA District One, menghadirkan pengalaman interaktif mengenai layanan perbankan digital sekaligus berbagai penawaran khusus bagi transaksi di Art Jakarta.

The Curiosity Engine untuk rasa Penasaran

Eksperimen material menjadi benang merah lain yang menarik. iForte dan Protelindo Group berkolaborasi dengan Agnes Hansella melalui Hutan Kabel, sebuah instalasi yang memanfaatkan kembali limbah kabel. TACO menghadirkan The Curiosity Engine karya Aji Fajar/Palette Studio, yang berangkat dari kampanye New Horizon dan palet warna matahari terbit untuk membicarakan rasa ingin tahu, kemungkinan, dan cara melihat mekanisme yang familiar dari sudut berbeda. Di sini, material industri tidak berhenti sebagai benda fungsional, tetapi dipaksa masuk ke wilayah imajinasi.

ART MEETS MUSIC

Musik dan seni juga menemukan iramanya sendiri. SUPERMUSIC membawa para pemenang kompetisi ART MEETS MUSIC, yang sejak awal menantang peserta untuk menerjemahkan energi, sikap, dan gaya hidup sebuah scene musik, bukan sekadar menampilkan atribut musisi di atas panggung. MR.D.I.Y., sebagai Main Partner baru, menghadirkan karya tujuh pemenang MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 bertema Strength & Resilience, ditambah enam pemenang dari rangkaian kompetisi di Malaysia dan Thailand. Seni menjadi semacam bahasa bersama yang melintasi gaya hidup, generasi, bahkan batas negara.

Seni Kolaborasi

Kolaborasi brand pun tampil semakin cair. ALCHEMIST menggandeng pelukis kontemporer Jepang Mai Yokoyama untuk desain gerai dan kemasan produknya. Djournal memilih Darbotz sebagai kolaborator untuk menerjemahkan karakter visualnya ke dalam desain brand, merchandise eksklusif, tiga kreasi kopi, gerai, hingga sebuah patung. MINI membawa energi kolaborasinya bersama Paul Smith ke Art Jakarta, dengan gerai yang mengajak pengunjung memikirkan kembali arti personal dari sebuah destination. Seni di sini tidak ditempatkan sebagai dekorasi, melainkan sebagai cara sebuah brand membangun dunia dan identitas.

Ada Iwan Tirta dan AIA

Beberapa nama baru turut memperlebar spektrum edisi 2026. AIA hadir melalui The Living Legacy, kolaborasi yang mengangkat warisan maestro batik Iwan Tirta. EDISII, yang sebelumnya mendukung Art Jakarta Papers, kini membawa pilihan art prints karya Ugo Untoro, Sunaryo, Agus Suwage, dan sejumlah seniman lainnya. Aesop menghadirkan Aesop Women’s Library, sementara The Solitaire untuk pertama kalinya menjadi partner Art Jakarta. Kehadiran mereka menunjukkan bagaimana batas antara seni, desain, lifestyle, dan budaya konsumsi semakin lentur di dalam ekosistem kreatif kontemporer.

SPOT. ROH. SCENE

Di dalam fair, sejumlah section unggulan kembali dengan pendekatan yang semakin luas. SPOT kembali menawarkan presentasi yang melampaui format gerai konvensional, memungkinkan galeri bermain dengan skala dan pendekatan spasial. Tahun ini, seniman dari Indonesia dan kawasan hadir dalam section tersebut, termasuk Nguyễn Phương Linh dari Vietnam bersama Ara Contemporary, Henryette Louise bersama ArtSociates, Albertho Wanma dan Budi Santoso bersama ROH, serta Angki Purbandono bersama SAL Project. SCENE juga berkembang menjadi platform bagi artist collective dan proyek kolaboratif, dengan 39 peserta dari berbagai kota di Indonesia.

Regional hingga Korea

Percakapan regional semakin kuat melalui AJX. Korea Focus kembali untuk tahun kedua melalui kolaborasi dengan Korean Ministry of Culture, Sports and Tourism dan Korea Arts Management Service, membawa 14 galeri dari Korea Selatan. Dari Indonesia, Natta-Cita Art Space atau N-CAS dari ISI Bali menghadirkan seniman-akademisi kontemporer Bali. Pertemuan ini membuat Art Jakarta terasa seperti sebuah peta yang terus digambar ulang, tempat praktik seni lokal bertemu dengan berbagai aksen visual dari Asia.

ART ART ART

Peta tersebut semakin menarik dengan hadirnya SCOPE, section baru yang didukung National Talent Management for Arts and Culture atau MTN Seni Budaya yang dikembangkan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Melalui MTN Market, sejumlah art fair dan komunitas seni dari berbagai daerah Indonesia dibawa ke Jakarta melalui proses open call. Mini Art Malang, Artists Art Fair dari Pekanbaru, ART HEY dari Banyumas, Maa Ledungga dari Gorontalo, Hello Goodbye Photo Market dari Bekasi, serta Watercolor Art Fair dari Yogyakarta menjadi bagian dari program ini. Kehadirannya memberi sinyal penting bahwa lanskap seni Indonesia tidak berhenti di Jakarta.

Kekuatan Seni Art Jakarta 2026

Kekuatan Art Jakarta 2026 justru berada pada kemampuannya mempertemukan begitu banyak dunia dalam satu ruang tanpa harus menyeragamkannya. Galeri mapan dan pendatang baru, seniman individual dan kolektif, institusi internasional dan komunitas daerah, batik dan instalasi multisensori, limbah kabel dan lukisan, semuanya bertemu dalam satu ekosistem yang terus bergerak. Dengan 75 galeri dan rangkaian program yang membentang dari Jakarta hingga berbagai simpul Asia, Art Jakarta 2026 bukan hanya menawarkan cara baru melihat seni kontemporer. Ia sedang memperlihatkan bagaimana sebuah ekosistem seni tumbuh ketika pertemuan, pertukaran gagasan, dan rasa ingin tahu dibiarkan terus hidup.


Bagikan

You may also like

UA-98339383-1