Home LifestyleArt & CultureMuseum MACAN Mempertemukan Algoritma dan Wayang dalam Percakapan tentang Ruh

Museum MACAN Mempertemukan Algoritma dan Wayang dalam Percakapan tentang Ruh

by Redaksi Luxina
0 comments
Bagikan

Ketika algoritma mulai belajar mencipta dan boneka dapat terasa seolah memiliki kehidupan sendiri, pertanyaan tentang apa artinya menjadi manusia tiba-tiba menjadi jauh lebih liar. Museum MACAN membawa pertanyaan itu ke ruang pamer melalui rangkaian pameran yang dibuka November 2026 hingga April 2027, mempertemukan teknologi, wayang, animasi, bunyi, tubuh, dan kepercayaan leluhur dalam satu percakapan tentang ruh dan daya hidup. Presentasi ini mencakup pameran tunggal pertama Tromarama dalam skala museum di Indonesia, presentasi khusus Eko Nugroho dan Iwan Effendi, serta Ruang Seni Anak yang menghadirkan praktik interaktif Mira Rizki. Di sini, benda ciptaan manusia tidak lagi sekadar objek, tetapi menjadi cermin yang perlahan memantulkan kembali cara manusia berpikir dan memahami dunia.

TROMARAMA ALGORITMIK

Tromarama, kolektif yang didirikan Febie Babyrose, Herbert Hans, dan Ruddy Hatumena di Bandung pada 2006, membawa wilayah tersebut ke dalam bahasa video, animasi stop-motion, instalasi, dan pemrograman algoritmik. Praktiknya berhadapan langsung dengan batas yang semakin tipis antara ruang fisik dan virtual, sekaligus mempertanyakan posisi manusia ketika kecerdasan artifisial mulai memasuki wilayah kreativitas. Sementara itu, Eko Nugroho menghadirkan lapisan lain melalui pertemuan kerajinan tradisional, seni jalanan, komik, dan citraan populer, sedangkan Iwan Effendi membawa tubuh, gerak, ingatan, dan boneka ke dalam relasi yang intim antara objek, dalang, dan penonton. Wayang dalam konteks ini bukan sekadar warisan bentuk, melainkan metafora yang tajam tentang siapa sebenarnya yang menggerakkan siapa.

Ruang Seni Anak

Persoalan itu kemudian diperluas melalui Ruang Seni Anak bersama Mira Rizki, perupa media baru, pendidik, dan musisi asal Bandung yang bekerja dengan bunyi serta pengalaman sensorik. Platform sensorial yang ia hadirkan mengajak anak-anak mendengarkan, menyentuh, mengamati, dan merasakan lingkungan sebagai entitas yang hidup. Dari algoritma hingga wayang, dari kecerdasan artifisial hingga getaran bumi, rangkaian pameran Museum MACAN ini menyodorkan satu kegelisahan yang sangat kontemporer: ketika manusia semakin piawai menciptakan sesuatu yang menyerupai kehidupan, mungkin pertanyaan terbesarnya bukan lagi apakah ciptaan itu bisa hidup, melainkan bagaimana ciptaan tersebut perlahan mengubah cara manusia memahami kehidupan itu sendiri.


Bagikan

You may also like

UA-98339383-1