Secangkir teh dan rangkaian kudapan manis bisa menjadi cara sederhana untuk menikmati sebuah sore. Di Plataran Menteng, pengalaman tersebut hadir dalam suasana heritage yang elegan, lengkap dengan sentuhan cita rasa Indonesia.
Pengalaman ini saya temukan saat menikmati Plataran Menteng Afternoon Tea: A Taste of the Archipelago, sebuah pengalaman afternoon tea yang dihadirkan Plataran Indonesia dengan memadukan tradisi klasik afternoon tea, sajian bercita rasa Indonesia, serta atmosfer heritage yang khas. Berlokasi di Plataran Menteng, pengalaman ini dirancang sebagai momen untuk menikmati waktu dengan lebih personal, baik bersama keluarga, sahabat, maupun orang terdekat.

Berlokasi di area Beranda Plataran Menteng, afternoon tea ini berlangsung di sebuah rumah bergaya kolonial Belanda. Interiornya memberikan kesan elegan tanpa terasa berlebihan, sementara area yang rindang membuat suasana sore di tengah Jakarta terasa jauh lebih tenang. Alunan piano yang terdengar sebagai latar semakin memperkuat atmosfer refined yang ingin dihadirkan Plataran.
Rasanya seperti menemukan sebuah ruang kecil untuk melambat, padahal kita masih berada di pusat Jakarta.
Menikmati Rangkaian Hidangan Manis yang Penuh Sentuhan Indonesia
Pengalaman afternoon tea tentu tak bisa dilepaskan dari sajian manisnya. Dalam rangkaian Sweet, Plataran menghadirkan beberapa kreasi yang menarik karena tetap mempertahankan karakter klasik afternoon tea, tetapi memasukkan elemen rasa dan bahan yang dekat dengan Indonesia.
Saya mencicipi seluruh pilihan sweet yang tersedia, dimulai dari Classic Scones dan Apel Bromo Scones yang disajikan bersama homemade papaya jam dan lemon bush tea chantilly.
Classic Scones memberikan karakter yang familiar dalam pengalaman afternoon tea, dengan tekstur yang lembut dan cocok dipadukan dengan selai. Sementara Apel Bromo Scones memberikan pengalaman yang sedikit berbeda, terutama ketika dinikmati bersama homemade papaya jam. Kehadiran selai pepaya memberikan sentuhan tropis yang membuat sajian scones terasa lebih khas.

Kemudian ada Royal Tea Delice, kreasi yang memadukan Earl Grey tea mousse, lime curd, dan tart shell. Perpaduan tersebut menghadirkan karakter rasa yang lebih kompleks. Aroma teh Earl Grey memberikan kesan aromatik, sementara lime curd memberikan aksen citrus yang menyegarkan.
Berikutnya adalah Es Podeng Pavlova, salah satu sajian yang menurut saya paling menarik karena membawa inspirasi dari hidangan Indonesia ke dalam format dessert yang lebih modern. Pavlova ini menghadirkan podeng coconut cream, jackfruit, avocado, dan coconut meringue. Kombinasi tersebut membuat pengalaman mencicipinya terasa familiar sekaligus berbeda.
Sementara Lobi-lobi Rouge hadir dengan lobi-lobi mousse, rouge fruit compote, dan tart shell. Tekstur mousse yang lembut berpadu dengan karakter buah memberikan penutup yang ringan dalam rangkaian sajian manis ini.
Seluruh pilihan sweet tersebut memperlihatkan bagaimana Plataran mencoba mempertahankan esensi afternoon tea klasik sambil memberikan identitas Indonesia melalui bahan dan inspirasi rasa. Hal ini juga menjadi bagian dari konsep A Taste of the Archipelago yang diusung pengalaman tersebut.
Ketika Sajian Manis Bertemu Pilihan Teh dari TWG Tea
Setelah mencicipi seluruh rangkaian sweet, saatnya memilih teh yang akan menemani sore.
Plataran menyediakan pilihan teh dari TWG Tea, sehingga tamu dapat menentukan jenis teh sesuai preferensi masing-masing.
Dari beberapa pilihan yang tersedia, saya memilih Crème Caramel, sebuah Exclusive Red Tea Blend. Teh ini memiliki karakter yang cukup lembut dan mudah dinikmati. Sesuai deskripsinya, lapisan aromanya membawa nuansa karamel dan vanilla, menghasilkan karakter yang manis, hangat, dan comforting.

Ketika diminum tanpa tambahan gula, karakter karamel dan vanilla terasa cukup jelas. Ada kelembutan yang membuatnya cocok dipadukan dengan rangkaian sweet, terutama scones dan dessert dengan karakter buah.
Menariknya, pengalaman menikmati teh di Plataran Menteng tak berhenti pada pilihan jenis teh saja.
Saya juga sempat mencicipi Moroccan Mint Tea, sebuah Exclusive Green Tea Blend dengan karakter mint Sahara yang aromatik. Berbeda dengan Crème Caramel yang cenderung hangat dan lembut, Moroccan Mint Tea terasa lebih segar. Aroma mint memberikan sensasi yang clean dan refreshing, sehingga menjadi pilihan yang menarik setelah menikmati beberapa sajian manis.
Saat Secangkir Teh Terasa Lebih Personal
Salah satu detail kecil yang justru membuat pengalaman afternoon tea ini terasa lebih personal adalah pilihan gula batu yang ditawarkan untuk menemani teh.
Saya ditawarkan beberapa pilihan gula batu yang berasal dari Cilacap, Majalengka, dan Cirebon. Ketiganya dibuat menggunakan 100 persen madu murni, tetapi memiliki proses yang berbeda.
Gula batu dari Cilacap dibuat melalui proses kristalisasi, sementara pilihan dari Cirebon menggunakan madu sebagai bagian dari proses pembuatannya.
Dari beberapa pilihan tersebut, saya akhirnya memilih gula batu dari Cirebon. Satu bongkah gula batu kemudian saya masukkan ke dalam teh Crème Caramel yang telah dituangkan ke dalam cangkir.
Hasilnya menarik. Rasa manisnya tidak terasa sekadar menambahkan gula pada teh, tetapi justru membantu mempertegas karakter lembut dari teh. Perpaduan aroma karamel dan vanilla dengan sentuhan manis dari gula batu membuat secangkir Crème Caramel terasa semakin rounded dan nyaman diminum perlahan.
Ada sesuatu yang menyenangkan dari ritual sederhana ini. Memilih teh, menentukan pemanis, menuangkannya ke dalam cangkir, kemudian menikmatinya sedikit demi sedikit.
Sore yang Tenang di Tengah Jakarta
Yang membuat pengalaman ini semakin lengkap bukan hanya makanannya.
Plataran Menteng memang memiliki karakter yang berbeda. Berada di dalam rumah kolonial Belanda dengan suasana heritage, area Beranda memberikan nuansa yang tenang dan rindang. Interior yang elegan berpadu dengan pelayanan dalam balutan busana tradisional Indonesia, menciptakan atmosfer yang terasa khas Plataran.

Dan ketika denting piano mulai terdengar, suasana sore terasa semakin elegan.
Saya duduk menikmati teh perlahan, ditemani rangkaian dessert yang tersaji di meja. Tak ada kesan harus terburu-buru. Justru inti dari pengalaman ini adalah menikmati waktu.
Hal tersebut sejalan dengan konsep Plataran Menteng Afternoon Tea yang memang dirancang sebagai kesempatan untuk memperlambat ritme, berbincang, bersantai, dan menikmati waktu bersama keluarga, sahabat, maupun orang terdekat.
Afternoon Tea dengan Karakter Indonesia
Afternoon tea di Plataran Menteng pada akhirnya bukan hanya tentang teh dan kue-kue kecil yang disajikan bertingkat.
Pengalaman ini terasa seperti interpretasi Plataran terhadap sebuah tradisi klasik. Ada scones dan teh yang menjadi bagian penting dari afternoon tea, tetapi di saat yang sama ada Es Podeng Pavlova, Apel Bromo Scones, Lobi-lobi Rouge, hingga Tahu Kocok Makassar dan Wagyu Rawon Tart pada pilihan savory.
Bahkan pilihan tehnya pun memberikan ruang bagi tamu untuk menentukan pengalaman sesuai selera masing-masing.

Perpaduan antara sajian yang dikurasi, rumah kolonial yang heritage, suasana hijau dan rindang, serta alunan piano membuat afternoon tea ini terasa intimate dan elegan, tanpa kehilangan identitas Indonesia yang menjadi karakter Plataran.
Bagi saya, justru di situlah daya tariknya. Plataran Menteng berhasil membuat sebuah sore sederhana terasa lebih istimewa. Secangkir teh, beberapa sajian manis, dan waktu yang sengaja diperlambat… terkadang memang itu yang kita butuhkan dari sebuah sore di Jakarta.
Plataran Menteng Afternoon Tea: A Taste of the Archipelago tersedia dengan harga Rp600.000++ untuk dua orang, setiap Selasa dan Kamis pukul 14.30 hingga 17.00 WIB di Plataran Menteng.

