Home FeaturesPartnersCommunitySikap Klasik Polo Shirt Bertemu Musik dan Subculture – Fred Perry DNA Night 2026

Sikap Klasik Polo Shirt Bertemu Musik dan Subculture – Fred Perry DNA Night 2026

by Syahmedi Dean
0 comments
Bagikan

“Terjebak rayu semu, hanyut dan berliku, bias, samar, redup, pilu, tak pernah menentu…” sepenggal lirik dari lagu “Zaman”, yang dilantunkan Alkateri pada satu sore di Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan. Suasana terasa tersaput syahdu, tapi tidak melankolis, apalagi para personelnya berpakaian dengan sesuatu yang stylishly klasik, mengenakan polo shirt Fred Perry Twin Tipped, lengkap dengan bordir Laurel Wreath di dada. Pakaian klasik itu tidak membutuhkan banyak aksesori untuk membangun karakter. Berkesan British, sedikit retro, dan sikap yang terasa santai tapi berwibawa.

Immersive Tunnel Fred Perry

Fred Perry DNA Night 2026

Suasana yang dihanyutkan Alkateri tersebut menjadi salah satu hal menarik dari Fred Perry DNA Night 2026, yang berlangsung pada 10 Oktober 2026 di Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan. Acara ini mempertemukan musik, mode, dan komunitas dalam satu perayaan yang membawa kembali perhatian pada DNA Fred Perry. Berangkat dari lapangan tenis, brand asal Inggris ini telah menempuh perjalanan panjang menuju jalanan dan berbagai skena musik. Identitasnya tumbuh bukan hanya melalui desain, tetapi juga lewat orang-orang yang memilih mengenakannya dan memberikan makna baru pada setiap piece. Di sinilah hubungan antara pakaian dan kultur menjadi lebih menarik daripada sekadar urusan tren.

ALKATERI

Logo Laurel Wreath

Polo shirt Fred Perry Twin Tipped menjadi contoh bagaimana desain sederhana bisa memiliki karakter kuat. Detail dua garis pada kerah dan manset, berpadu dengan logo Laurel Wreath, menciptakan identitas visual yang mudah dikenali tanpa harus tampil berlebihan. Siluetnya memiliki ketegasan khas sportswear, tetapi tetap fleksibel untuk dipadukan dengan gaya kasual sehari-hari. Pada tubuh para personel Alkateri, polo shirt tersebut terasa menyatu dengan atmosfer musik mereka, yang bergerak di antara indie-pop, post-rock, dan shoegaze. Ada pertemuan menarik antara busana yang rapi dan musik yang membiarkan emosi mengambang, samar, bahkan sedikit murung.

MERAK

Lima Hero Subculture

Fred Perry DNA Night 2026 juga mengangkat lima hero styles yang mewakili perjalanan brand lintas generasi, yakni The Fred Perry Shirt, The Tennis Bomber, The Taped Track Jacket, The Barrel Bag, dan The Tennis Shoe. Kelimanya membawa jejak fungsi olahraga yang kemudian menemukan kehidupan baru di luar lapangan. Jaket tenis menjadi bagian dari gaya jalanan, tas olahraga masuk ke rutinitas urban, sementara sepatu tenis berkembang menjadi elemen penting dalam keseharian. Ketika sebuah desain terus dikenakan oleh komunitas dengan karakter berbeda, maknanya ikut berubah. Pakaian tidak lagi sekadar menjawab kebutuhan praktis, tetapi juga menyampaikan sikap, selera musik, dan kedekatan seseorang dengan kultur tertentu.

Komunitas Polo

Unita Fatimah, Brand Manager Fred Perry Indonesia, menjelaskan, “DNA bagi Fred Perry direpresentasikan melalui Hero Styles dari brand yang menandai evolusinya dari sportswear menjadi streetwear. Styles ini telah diadopsi oleh berbagai generasi dan menjadi shorthand untuk sport, music, dan subculture.” Gagasan tersebut terasa relevan dalam lanskap mode yang bergerak cepat, ketika banyak tren muncul dan menghilang dalam hitungan musim. Fred Perry justru mempertahankan kekuatan melalui desain yang konsisten, sementara komunitas memberikan konteks yang terus berkembang. Sebuah polo shirt bisa terlihat klasik, tetapi cara mengenakannya selalu terbuka untuk interpretasi baru.

Vintage Psychedelic Rock

Musik menjadi bagian penting dari cerita itu. Selain Alkateri, DNA Night 2026 menghadirkan MERAK dengan perpaduan vintage psychedelic rock dan musik alternatif, Grrrl Gang dari Yogyakarta dengan karakter guitar-driven serta estetika DIY, kemudian The Adams dan Agrikulture. Setiap penampil membawa warna berbeda, memperlihatkan bahwa hubungan antara mode dan musik tidak harus dibangun dari keseragaman. Ada kebebasan berekspresi, eksperimen bunyi, dan identitas personal yang bertemu dalam satu ruang. Bukankah komunitas yang hidup justru terbentuk ketika perbedaan memiliki tempat untuk bersuara?

Semangat FRED PERRY

Musik Terus Berlanjut

Pengalaman di Urban Forest Cipete berlanjut di luar panggung melalui instalasi immersive tunnel, photobooth, dan aktivasi meja tenis yang mengingatkan pengunjung pada akar olahraga Fred Perry. Lingkungan terbuka dengan suasana urban memberi ruang bagi pengunjung untuk berinteraksi, menikmati musik, sekaligus melihat bagaimana elemen visual brand diterjemahkan ke dalam pengalaman langsung. Ketika malam tiba, SCRUBS!, Glasloop, dan Trip Do Brasil melengkapi suasana dengan pilihan musik yang mencakup disco, house, hypnotic grooves, hingga musik Brasil. Peralihan suasana dari sore menuju malam membuat DNA Night terasa seperti pertemuan berbagai energi kreatif, bukan hanya agenda pertunjukan musik.

GRRRL GANG

Menjelang 75 Tahun Fred Perry

Menjelang ulang tahun ke-75 pada 2027, Fred Perry kembali menyoroti gaya-gaya ikonis yang membentuk warisannya dalam sport, music, dan subculture. Unita menyebut bahwa pertemuan musisi dan komunitas Indonesia menjadi cara untuk merayakan bagaimana desain tersebut terus diadopsi oleh setiap generasi sebagai sesuatu yang timeless dan autentik. Pesan ini terasa lebih kuat ketika dilihat melalui polo shirt yang dikenakan Alkateri: satu desain klasik, lima personel, dan interpretasi yang tidak terasa dibuat-buat. Pakaian yang sama dapat hidup berdampingan dengan musik yang melankolis, sikap independen, dan gaya personal tanpa kehilangan identitasnya.

Statement Klasik

Fred Perry DNA Night 2026 pada akhirnya memperlihatkan bahwa warisan mode bukan benda yang hanya pantas disimpan di dalam arsip. Ia hidup ketika dikenakan, dipadukan, dipertanyakan, bahkan dibawa ke arah yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Dari tenis menuju musik, dari sportswear menuju streetwear, Fred Perry terus menemukan relevansinya melalui hubungan dengan komunitas. Dan ketika lagu “Zaman” mengalun, polo shirt Twin Tipped itu mengingatkan kita bahwa kemantapan berpenampilan tidak selalu membutuhkan statement besar. Kadang-kadang, cukup sebuah siluet klasik, musik yang tepat, dan sikap yang autentik untuk membuat sebuah identitas terus bergerak melintasi generasi.


Bagikan

You may also like

UA-98339383-1