Di New York, ballet punya tradisi panjang untuk membuat cerita lama terasa kembali hidup. Dari panggung Lincoln Center hingga produksi klasik The Nutcracker dan karya-karya kontemporer New York City Ballet, yang dipertahankan bukan sekadar koreografi, melainkan kemampuan tari untuk membuat penonton percaya lagi pada sesuatu yang menebarkan memori dan positive vibes. Semangat semacam itulah yang terasa dalam Never Forget, Neverland, Ballet & Dance School Production 2026 NAMARINA, sebuah pertunjukan yang sekaligus menandai 70 tahun perjalanan NAMARINA mendidik generasi Indonesia melalui disiplin dan keindahan seni tari.

Interpretasi NAMARINA
Memilih Peter Pan karya J. M. Barrie sebagai sumber cerita terasa relevan untuk sebuah institusi yang telah melewati tujuh dekade. Dalam interpretasi NAMARINA, Neverland bukan sekadar pulau ajaib tempat Peter Pan menolak menjadi dewasa, melainkan ruang ingatan tempat Wendy kembali bertemu dengan fragmen masa kecilnya. Di malam menjelang ulang tahunnya yang ke-17, ia menemukan kembali Pixie Dust dan terbang menuju dunia yang pernah begitu akrab, sebelum akhirnya memahami bahwa kedewasaan tidak harus berarti menghapus masa kecil.

Never Forget, Neverland
Di sinilah Never Forget, Neverland meghantarkan lapisan emosionalnya. Mermaid Queen membawa harmoni dan keanggunan, Tinkerbell menjaga percikan kegembiraan, Peter Pan mempertahankan keberanian untuk tetap bermain, sementara Tiger Lily memperlihatkan kekuatan dan keberanian perempuan. Bahkan Captain Hook, yang selama ini menjadi antagonis, akhirnya melihat Wendy sebagai seseorang yang telah tumbuh. Ceritanya sederhana, tetapi bahasa ballet membuatnya menjadi lebih subtil: sebuah plié, putaran, lompatan, atau jeda bisa menjadi metafora tentang keheningan, keberanian, kehilangan, pertumbuhan, dan cara seseorang berdamai dengan perubahan.

Tradisi Balet
Seperti tradisi school production dalam dunia balet internasional, panggung NAMARINA bukan semata tempat mempertontonkan hasil latihan. Ia adalah laboratorium kecil tempat murid belajar menghadapi panggung, bekerja bersama, mengendalikan tubuh, mengelola rasa gugup, dan memahami bahwa keindahan yang terlihat selama beberapa detik di atas panggung lahir dari latihan yang panjang. Lebih dari 900 murid dan penari pilihan lintas generasi tampil dalam produksi ini, dari tingkat pemula hingga kelas dewasa dan lansia, sementara jumlah yang menonton, lebih dari 2.000 orang di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki.

Panggung Mengajarkan Pengalaman
Skalanya juga membuat produksi ini terasa seperti sebuah perayaan komunitas, bukan sekadar pertunjukan sekolah. Murid dari Sekolah Masa Kecil dan Kinderu ikut berkolaborasi bersama peserta dari berbagai cabang NAMARINA. Dua penari tamu profesional, Herdi Muhammad atau Mbuy dan Ricard Zhang dari Inspyro Moves, turut mencurahkan energi berbeda ke panggung sebagai pemeran utama. Dalam ekosistem seperti ini, pengalaman tampil menjadi bagian dari pendidikan itu sendiri. Balet mengajarkan teknik, tetapi panggung mengajarkan sesuatu yang lebih sulit didapat di ruang kelas: disiplin, keberanian, kepekaan, konsentrasi, dan rasa percaya kepada penari lain.

70 Tahun NAMARINA
Selama 70 tahun, NAMARINA juga telah menjadi semacam arsip hidup perjalanan seni dan budaya populer Indonesia. Nama-nama seperti Sherina, Agnes Monica, Vicky Burki, Ai Syarief, Galabby, Karina Salim, Triesca Arisandy, Mariska Febriani, hingga Jessica Christina pernah menjadi bagian dari perjalanan institusi ini. Bahkan Fatmawati Soekarno Putri, istri Presiden Soekarno, tercatat pernah menjadi murid Nanny Lubis, pendiri NAMARINA. Jejak lintas generasi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tari tidak berhenti pada kemampuan melakukan gerakan dengan presisi, tetapi dapat menjadi bagian dari pembentukan identitas seseorang jauh setelah ia meninggalkan studio.

Legacy to the Future
Maka kehadiran “Never Forget, Neverland” lebih dari sekadar pertunjukan Peter Pan. Ia adalah cara NAMARINA merayakan usia 70 tahun sekaligus menatap masa depan melalui tema Legacy to the Future. Seperti ballet yang baik, warisan tidak harus dibekukan agar tetap autentik; ia justru hidup ketika diteruskan, ditafsirkan kembali, dan diberikan kepada generasi berikutnya. Wendy akhirnya pulang dari Neverland, tetapi membawa sesuatu yang lebih penting daripada Pixie Dust: ingatan bahwa pernah menjadi anak-anak adalah bagian dari dirinya. Dan mungkin itulah pesan paling cantik dari panggung NAMARINA tahun ini: kita boleh tumbuh dewasa, tetapi tak perlu kehilangan kemampuan untuk percaya pada keajaiban.


