Seni topeng, manuskrip lontar, dan kisah spiritual dari Jawa, Bali, Madura, hingga Lombok menjadi bagian dari sebuah pameran yang mengajak pengunjung mengenal kembali kekayaan budaya Indonesia.
Warisan budaya tidak hanya tersimpan dalam museum atau catatan sejarah. Ia hidup melalui cerita yang diwariskan, simbol yang memiliki makna, serta tradisi yang terus dipraktikkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Gagasan ini menjadi inti dari Heroes, Gods and Guardians, sebuah pameran budaya yang dihadirkan oleh The Meru Sanur dan Bali Beach Hotel, The Heritage Collection, hingga Februari 2027.
Berlokasi di kawasan Sanur, Bali, pameran ini merangkum kekayaan tradisi dari Jawa, Bali, Madura, dan Lombok melalui seni pertunjukan topeng, penceritaan sakral, seni rupa, serta manuskrip lontar Bali. Pengunjung diajak melihat lebih dekat bagaimana kisah, kepercayaan, dan nilai spiritual menjadi bagian penting dari identitas budaya Indonesia.
Salah satu sorotan pameran ini adalah tradisi tari topeng Bali yang berkaitan dengan Maestro Profesor I Made Bandem. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana topeng memiliki peran lebih dari sekadar objek artistik. Di balik bentuk, karakter, dan ekspresinya, terdapat narasi yang membawa pesan budaya serta nilai-nilai yang diwariskan melalui pertunjukan.
Pameran ini juga menyoroti manuskrip lontar Bali sebagai sumber pengetahuan yang menyimpan berbagai cerita dan pemikiran dari masa lalu. Tradisi membaca dan memahami lontar menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menyimpan artefak. Pengetahuan yang terkandung di dalamnya perlu terus dipelajari, dipahami, dan diperkenalkan kepada generasi baru.
Menjaga Tradisi Tetap Relevan

Dikembangkan bersama Samsara Living Museum, Dwiva Art, Museum Nasional Indonesia, dan Indonesia Heritage Legacy, Heroes, Gods and Guardians dirancang sebagai ruang pertemuan antara seni, pengetahuan, dan apresiasi budaya.
Program peluncurannya berlangsung pada 11 September 2026 di Sukarno Lounge. Acara tersebut mencakup pertunjukan Gender dan pembacaan lontar oleh Ida Bagus Made Gunawan dari Samsara Living Museum, dilanjutkan dengan dua sesi diskusi mengenai pelestarian warisan budaya Indonesia.
Salah satu pembahasan penting adalah bagaimana tradisi dapat tetap terjaga tanpa kehilangan integritasnya ketika semakin banyak orang tertarik pada wisata berbasis warisan budaya. Tantangannya bukan hanya memperkenalkan budaya kepada audiens yang lebih luas, tetapi juga memastikan bahwa cerita dan pengetahuan di baliknya disampaikan secara tepat.
Diskusi pertama menghadirkan Bagus Agung Gunarthawa, yang dikenal sebagai Gus Agung, pendiri Samsara Living Museum, bersama Iskandar Eko Priyotomo, S.S., M.Hum., Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Bali. Sementara itu, sejarawan seni, penulis, dan spesialis seni serta budaya Indonesia Bruce W. Carpenter berbagi perspektif mengenai kekayaan artistik dan budaya Indonesia dalam sesi kedua.
Percakapan tersebut menempatkan pendidikan dan penceritaan sebagai bagian penting dari pelestarian. Generasi muda perlu memiliki akses untuk mengenal tradisi melalui pendekatan yang relevan dengan kehidupan mereka saat ini, tanpa melepaskan makna dan nilai yang membuat tradisi tersebut istimewa.
Dari Ruang Pamer ke Pengalaman Budaya

Bagi The Meru Sanur dan Bali Beach Hotel, pameran ini juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman hospitality yang memiliki hubungan lebih dekat dengan budaya setempat.
“True hospitality is about creating meaningful connections,” ujar Ed Brea, General Manager The Meru Sanur dan Bali Beach Hotel, The Heritage Collection, dalam pernyataannya. Melalui pameran ini, kedua properti tersebut ingin memperkenalkan kekayaan warisan budaya Indonesia kepada para tamu sekaligus merayakan cerita dan tradisi yang terus menginspirasi lintas generasi.
Pengalaman tersebut bahkan dapat berlanjut di luar ruang pamer. Melalui kolaborasi dengan Samsara Living Museum di Karangasem, para tamu hotel dapat mengikuti kunjungan untuk mengenal tradisi Bali secara lebih langsung, termasuk melalui lontar, pertunjukan, dan cerita yang berkaitan dengan kehidupan budaya setempat. Pengalaman ini tersedia dengan biaya tambahan.
Bagi pengunjung yang ingin mendalami seni topeng Bali, buku karya Bruce W. Carpenter juga tersedia di Presidential Suites di The Meru Sanur dan Bali Beach Hotel.
Hingga Februari 2027, Heroes, Gods and Guardians menawarkan kesempatan untuk melihat warisan budaya Indonesia melalui sudut pandang yang lebih luas. Bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai pengetahuan yang terus hidup melalui seni, cerita, dan manusia yang menjaganya.



