Ada perjalanan yang tujuan akhirnya begitu jauh hingga proses untuk mencapainya menjadi bagian penting dari pengalaman. Antarctica adalah salah satunya. Benua paling selatan ini bukan destinasi yang bisa dicapai dengan sekadar memesan penerbangan dan hotel. Jarak, kondisi geografis, cuaca, serta akses menuju wilayahnya membuat perjalanan ke sana membutuhkan perencanaan yang lebih serius.
Bagi Silversea, tantangannya bukan hanya membawa tamu ke Antarctica, tetapi bagaimana seluruh perjalanan menuju ujung dunia tersebut dapat tetap terasa nyaman, personal, dan bermakna. Pendekatan itu terlihat semakin jelas melalui The Cormorant at 55 South, hotel baru Silversea di Puerto Williams, Chile. Dijadwalkan menyambut tamu mulai Oktober 2026, hotel dengan 150 kamar ini dirancang sebagai pintu masuk menuju Antarctica sekaligus bagian dari pengalaman perjalanan itu sendiri. Ini membawa luxury cruising ke pengertian yang sedikit berbeda. Kapal bukan lagi satu-satunya pusat perjalanan. Hotel, penerbangan charter, pengalaman di darat, ekspedisi, kuliner dan layanan personal semuanya menjadi bagian dari satu perjalanan yang dirancang sebagai satu kesatuan.
Sebuah perjalanan dimulai sebelum kapal berlayar

The Cormorant berada di Puerto Williams, kawasan di ujung selatan Chile yang menjadi titik penting dalam pendekatan baru Silversea menuju Antarctica. Melalui program Antarctica Fly Cruise, traveler dapat melewati Drake Passage dengan penerbangan charter langsung menuju King George Island. Rangkaian perjalanan tersebut dimulai dengan akomodasi di Santiago, dilanjutkan penerbangan ke Puerto Williams dan menginap di The Cormorant sebelum perjalanan diteruskan menuju Antarctica. Setelah ekspedisi selesai, tamu kembali ke hotel tersebut sebelum terbang kembali ke Santiago.
Silversea menawarkan alternatif lain bagi traveler yang justru ingin merasakan perjalanan klasik menuju Antarctica: menyeberangi Drake Passage dengan kapal. Pada musim 2025/2026, dari 38 perjalanan Antarctica yang dilakukan tiga kapal ekspedisinya, 20 voyage melewati Drake Passage sementara 18 lainnya menggunakan konsep Antarctica Fly Cruise.
Dua pilihan ini menunjukkan sesuatu yang menarik. Luxury travel tidak selalu berarti menghilangkan tantangan dari sebuah perjalanan. Kadang, yang dilakukan adalah memberikan pilihan tentang bagaimana seseorang ingin mengalami perjalanan tersebut. Untuk sebagian traveler, Drake Passage mungkin merupakan bagian dari cerita yang ingin dialami. Bagi yang memiliki waktu terbatas atau ingin segera mencapai Antarctica, penerbangan langsung memberikan alternatif yang berbeda. Silversea kemudian membangun pengalaman di sekitar kedua pilihan tersebut.
The Cormorant: lebih dari sekadar hotel

The Cormorant sendiri dirancang untuk menjadi bagian dari cerita itu. Sebanyak 150 kamar menawarkan pemandangan hutan maupun Beagle Channel, dengan interior yang menggunakan elemen kayu dan warna-warna earthy. Setiap kamar juga akan memiliki elemen kerajinan yang dibuat oleh artisan Chile, membawa identitas lokal ke dalam pengalaman menginap.
Ada Fireplace Lounge, tempat tamu dapat menikmati wine dan signature cocktails sambil melihat lanskap Patagonia melalui jendela besar. Ada pula Latitude 55, restoran yang mengambil inspirasi dari bahan dan tradisi kuliner Chile bagian selatan. Pada malam hari, restoran tersebut dirancang menjadi ruang makan bergaya family-style untuk berbagi cerita sebelum perjalanan ke Antarctica dimulai.
Kemudian terdapat Bar Sur, yang menawarkan wine dari Patagonia serta pengalaman tasting Chilean Pisco, dan Uncharted, boutique yang menjual karya artisan Chile serta berbagai kebutuhan ekspedisi. Detail-detail tersebut membuat The Cormorant terasa lebih seperti sebuah threshold daripada hotel transit. Silversea sendiri menggambarkannya sebagai bagian dari perjalanan menuju Antarctica, tempat pengalaman dimulai sebelum tamu melihat es dan pegunungan benua tersebut.
Dari luxury cruise menjadi experiential travel

Perubahan ini sejalan dengan positioning Silversea yang lebih luas. Brand tersebut kini membawa konsep experiential luxury dan expedition travel ke tujuh benua, dengan armada 12 kapal ocean dan expedition yang relatif intim. Pengalaman yang ditawarkan menggabungkan personalized service, eksplorasi dan kuliner sebagai bagian dari perjalanan.
Untuk Antarctica, pendekatan tersebut diterjemahkan melalui kapal-kapal ekspedisi seperti Silver Endeavour, Silver Cloud dan Silver Wind. Ketiganya dirancang untuk membawa tamu lebih dekat dengan lingkungan polar, menggunakan Zodiac untuk mencapai lokasi-lokasi yang tidak dapat dijangkau kapal secara langsung.
Pada musim 2025/2026, pengalaman tersebut mencakup perjumpaan dengan humpback dan fin whales, orcas, leopard seals, emperor penguins hingga perjalanan melalui Weddell Sea dan Lemaire Channel. Ekspedisi juga didukung oleh tim ahli yang mencakup biolog, geolog, naturalist dan historian. Artinya, unsur luxury tidak berdiri berlawanan dengan expedition. Keduanya justru berjalan bersama: akses terhadap alam yang ekstrem, dengan tingkat kenyamanan dan layanan yang tetap terjaga.
Destination Tour: ketika perjalanan membutuhkan kurasi

Di sinilah peran travel designer menjadi relevan. Di Indonesia, Destination Tour memposisikan diri sebagai penyedia bespoke luxury travel experience. Berdiri pada 2015, perusahaan ini menyebut spesialisasinya berada pada tailor-made journeys dan destinasi yang unik maupun eksotis. Destination Tour juga merupakan member Serandipians by Traveler Made, jaringan luxury travel designers global.
Destination Tour tercatat sebagai member agency Serandipians untuk Indonesia dengan basis di Jakarta. Posisi tersebut memberikan konteks yang menarik ketika membicarakan perjalanan seperti Silversea. Sebuah perjalanan ke Antarctica membutuhkan lebih dari sekadar pemesanan cruise. Ada penerbangan internasional, koneksi domestik, hotel, transfer, pilihan itinerary, expedition experience dan berbagai detail perjalanan yang harus tersusun dengan baik.
Destination Tour menawarkan layanan tailor-made/customized travel design, accommodation selection, ticketing, travel documentation dan kebutuhan perjalanan lainnya.
Dalam konteks luxury travel, travel advisor kemudian tidak hanya berfungsi sebagai pihak yang menjual produk perjalanan. Perannya lebih dekat kepada curator—memahami bagaimana sebuah pengalaman dapat disusun sesuai karakter, waktu dan keinginan traveler. Dan justru di titik ini Silversea menjadi menarik.
The luxury of choice

Perjalanan luxury hari ini tidak selalu harus didefinisikan oleh kemewahan yang terlihat. Bisa jadi kemewahan justru hadir dalam bentuk pilihan. Memilih menyeberangi Drake Passage atau terbang langsung menuju Antarctica. Memilih berapa lama tinggal di sebuah destinasi. Memilih pengalaman di darat. Memilih bagaimana perjalanan dimulai dan diakhiri. Silversea bahkan menyiapkan 41 voyage untuk musim Antarctica 2026/2027, dengan 29 Antarctica Fly Cruise dan 12 expedition voyages yang tetap menggunakan Drake Passage.
The Cormorant kemudian menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut. Sebuah hotel di Puerto Williams yang bukan hanya menyediakan tempat tidur sebelum ekspedisi, tetapi menghadirkan kuliner, desain, kerajinan lokal, aktivitas alam dan hospitality sebagai bagian dari transisi menuju salah satu wilayah paling terpencil di planet ini. Inilah bentuk baru luxury travel: bukan sekadar mencapai tempat yang jauh, tetapi memiliki kesempatan untuk mengalami setiap tahap perjalanan dengan cara yang lebih personal.
Silversea membawa traveler lebih dekat kepada destinasi. Destination Tour membantu mengkurasi bagaimana perjalanan tersebut dapat dimulai dari Indonesia. Dan melalui jaringan seperti Serandipians, pengalaman tersebut berada dalam ekosistem travel designer yang memang berfokus pada perjalanan bespoke.
Antarctica tetap menjadi sebuah tempat yang jauh, liar dan penuh tantangan. Tetapi cara menuju ke sana kini bisa menjadi bagian dari kemewahannya. Karena dalam luxury travel, terkadang perjalanan menuju destinasi bukan sekadar jalan untuk sampai ke sana. Perjalanan itu sendiri adalah bagian dari destination.



