Breitling membawa kembali dua interpretasi Navitimer dari era 1960-an ke koleksi permanennya. Satu mengingatkan pada perjalanan para pilot, sementara yang lain menyimpan cerita tentang jam tangan Swiss pertama yang mengorbit bumi.
Breitling Navitimer, diciptakan untuk membantu manusia menjelajah dunia dan juga bisa mencatat bagaimana manusia melampau batasnya saat menjelajah. Diperkenalkan pada 1952 sebagai instrumen untuk penerbang, Navitimer menggabungkan chronograph dengan circular slide rule yang memungkinkan pilot melakukan perhitungan melalui bezel. Sebuah fungsi yang menjadikan jam tangan ini lebih dari sekadar penunjuk waktu, karena pada awalnya ia dirancang untuk mendukung kebutuhan navigasi di udara.
Sepuluh tahun kemudian, Navitimer mendapatkan cerita baru. Atas permintaan astronaut NASA Scott Carpenter, Breitling mengembangkan Cosmonaute, sebuah jam tangan dengan tampilan waktu 24 jam yang dirancang untuk lingkungan perjalanan luar angkasa. Ketika Carpenter mengenakannya dalam penerbangan Mercury-Atlas 7 pada 24 Mei 1962, Cosmonaute menjadi jam tangan Swiss pertama yang dibawa ke luar angkasa.
Kini, Breitling membawa kembali dua bagian penting dari sejarah tersebut melalui Navitimer B02 Chronograph 41 Cosmonaute dan Navitimer B09 Chronograph 41. Keduanya mengambil inspirasi dari era 1960-an, tetapi masing-masing memiliki karakter dan cerita yang berbeda.
Cosmonaute, ketika Navitimer meninggalkan bumi
Navitimer B02 Chronograph 41 Cosmonaute menjadi pengingat bagaimana kebutuhan manusia dapat mendorong perkembangan sebuah jam tangan.
Scott Carpenter membutuhkan jam yang dapat membantunya membaca waktu dalam lingkungan orbit, ketika pergantian siang dan malam tidak lagi mengikuti siklus yang biasa dialami manusia di bumi. Breitling kemudian mengembangkan tampilan 24 jam yang menjadi ciri khas Cosmonaute. Interpretasi terbarunya mempertahankan karakter tersebut melalui Breitling Manufacture Caliber B02, sebuah movement chronograph manual-winding yang digunakan secara eksklusif pada Cosmonaute.

Case stainless steel berdiameter 41 mm memberikan proporsi modern, sementara dial hitam dengan counter chronograph putih mempertahankan tampilan yang mudah dikenali. Date display ditempatkan secara discreet pada subdial bagian bawah, dengan warna yang disesuaikan agar tetap menyatu dengan dial.
Pilihan strap brown gradient calfskin leather atau seven-row stainless steel bracelet memberikan dua karakter berbeda. Strap kulit menghadirkan kesan vintage yang lebih kuat, sementara bracelet stainless steel mempertahankan hubungan Cosmonaute dengan karakter instrumen penerbangan. Namun, daya tarik utamanya tetap pada fungsi waktu 24 jam. Sebuah detail yang bukan sekadar estetika, melainkan bagian dari alasan mengapa jam ini diciptakan.

Navitimer B09, kembali ke karakter chronograph klasik
Berbeda dari Cosmonaute, Navitimer B09 Chronograph 41 membawa cerita kembali ke karakter chronograph mekanis era 1960-an.
Breitling mengambil inspirasi dari jam tangan yang dikenakan pembalap Jim Clark dan Graham Hill. Keduanya dikenal sebagai pembalap sekaligus penerbang, sehingga Navitimer memiliki relevansi dalam kehidupan mereka, baik di lintasan maupun di udara. Model terbaru ini menjadi Navitimer pertama dalam koleksi utama yang menggunakan manual-winding Caliber B09. Sebelumnya, movement tersebut hanya digunakan pada limited edition atau jam tangan commemorative.
Desainnya menghadirkan dial reverse panda, dengan counter putih yang kontras terhadap dial hitam atau biru. Circular slide rule tetap menjadi bagian penting dari identitas Navitimer, sementara absennya date display memberikan ruang visual yang lebih bersih.
Case stainless steel berdiameter 41 mm dipadukan dengan profil yang lebih ramping, menghadirkan proporsi yang mengingatkan pada Navitimer historis. Pilihan dial hitam menggunakan brown gradient calfskin strap, sedangkan dial biru dipasangkan dengan strap biru senada. Keduanya juga tersedia dengan seven-row stainless steel bracelet.
Di sini, Breitling tidak mencoba mengubah karakter Navitimer menjadi sesuatu yang sepenuhnya baru. Sebaliknya, jenama ini mempertahankan detail yang membuatnya dikenal, kemudian menghadirkannya dengan movement modern dan proporsi yang sesuai untuk koleksi masa kini.

Manual-winding, sebuah ritual yang kembali
Kedua model memiliki kesamaan yang cukup menarik: manual-winding movement.
Sebelum automatic chronograph diperkenalkan pada 1969, memutar crown merupakan bagian dari rutinitas pemilik chronograph mekanis. Breitling membawa kembali interaksi tersebut melalui Caliber B02 dan B09. Keduanya memiliki power reserve sekitar 70 jam, menggunakan column-wheel chronograph dengan vertical clutch, serta frekuensi 28.800 vph atau 4 Hz. Movement masing-masing juga memiliki sertifikasi COSC.
Manual-winding bukan hanya pilihan teknis. Ia memberikan pengalaman berbeda dalam menggunakan jam tangan mekanis, karena pemilik perlu berinteraksi langsung dengan movement untuk menjaga jam tetap berjalan.
Pada Navitimer, ritual ini terasa relevan dengan sejarahnya. Jam tangan yang dahulu digunakan sebagai instrumen penerbangan kini kembali menghadirkan hubungan yang lebih personal antara pemilik dan mekanisme di dalamnya.

Twin Jet, detail kecil dengan sejarah panjang
Salah satu detail yang menyatukan kedua model adalah Twin Jet logo berwarna emas. Breitling telah menggunakan logo tersebut sejak 1957, sebelum tampil pada dial Navitimer pada 1965. Logo ini awalnya menjadi counterpart sipil dari AOPA logo yang digunakan pada Navitimer untuk anggota asosiasi penerbang tersebut. Seiring waktu, Twin Jet menjadi bagian dari identitas visual Breitling yang paling mudah dikenali.
Pada kedua model terbaru, logo emas tersebut hadir di atas dial monochrome. Kontrasnya memberikan aksen yang tidak terlalu dominan, tetapi cukup untuk menghubungkan jam tangan modern ini dengan referensi historisnya. Detail tersebut memperlihatkan bagaimana Breitling menggunakan elemen desain lama tanpa harus membuat keseluruhan jam terlihat seperti reproduksi vintage.
Dua ikon yang kembali menjadi bagian dari koleksi utama
Navitimer B02 Chronograph 41 Cosmonaute dan Navitimer B09 Chronograph 41 memiliki asal yang sama, tetapi membawa cerita berbeda. Cosmonaute mengingatkan pada perjalanan Navitimer menuju luar angkasa, ketika kebutuhan seorang astronaut melahirkan tampilan waktu 24 jam yang khas.
B09 kembali pada karakter chronograph mekanis era 1960-an, dengan manual-winding movement, reverse-panda dial, dan proporsi yang terinspirasi dari jam tangan historis. Keduanya kini menjadi bagian permanen dari Navitimer collection, bukan hanya model yang hadir untuk memperingati sebuah peristiwa.
Breitling mempertahankan dua interpretasi penting dari sejarahnya, sekaligus memberikan kesempatan bagi generasi baru untuk mengenal cerita yang berbeda dari sebuah ikon. Dari kokpit pesawat hingga kapsul luar angkasa, Navitimer memperlihatkan bagaimana sebuah jam tangan dapat berkembang mengikuti kebutuhan manusia. Dan melalui dua model terbaru ini, Breitling kembali mengingatkan bahwa sejarah terbaik dalam horologi bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana sebuah desain terus menemukan tempatnya di masa kini.


