Tradisi terus menemukan cara untuk berbicara dengan zaman. Dalam mode, pertemuan antara warisan budaya dan material kontemporer membuka ruang baru bagi para desainer untuk menerjemahkan identitas Indonesia melalui perspektif yang lebih personal.
Gagasan tersebut hadir melalui Kanvas Budaya: Satu Napas, kolaborasi Indonesian Fashion Designer Council (IFDC) dan Bakti Budaya Djarum Foundation yang menjadi bagian dari rangkaian Fashion Nation 20th Edition: The Icon Edit di Senayan City.
Mengangkat Batik Kudus sebagai material utama, program ini mempertemukannya dengan denim, material yang lekat dengan karakter kasual dan modern.
Pada presentasinya, sebanyak 23 desainer IFDC menerjemahkan kedua material tersebut ke dalam bahasa desain masing-masing.
Batik Kudus dalam Perspektif Baru

Kain tradisional ditampilkan berdampingan dengan denim. Batik membawa sejarah, motif, teknik, serta identitas kultural yang telah berkembang lintas generasi. Denim hadir dengan karakter yang lebih urban, kasual, dan universal.
KANVAS BUDAYA menjadikan perbedaan tersebut sebagai ruang eksplorasi. Pada edisi kali ini, Batik Kudus yang digunakan merupakan batik cap. Pilihan tersebut memberikan perspektif baru dalam eksplorasi program, setelah penyelenggaraan sebelumnya mengangkat perpaduan batik tulis dan batik cap.
Satu material yang sama kemudian diterjemahkan menjadi berbagai bentuk. Ada cocktail dress, streetwear, ready to wear, hingga adibusana. Masing-masing membawa karakter desainer yang mengolahnya, sekaligus memperlihatkan betapa luas kemungkinan sebuah warisan budaya ketika bertemu dengan perspektif mode yang berbeda.
Ketika material tersebut diolah oleh para desainer IFDC, hasilnya dapat membuka kejutan dan kreativitas yang berbeda. Batik dan denim memiliki filosofi serta identitas yang berbeda, tetapi keduanya dapat dipertemukan melalui perspektif desain sehingga membentuk satu kesatuan.
Satu Kanvas, 23 Interpretasi

Tema “Satu Napas” memberikan kebebasan kepada setiap desainer untuk menentukan bagaimana Batik Kudus dan denim diterjemahkan. Tidak ada satu formula mengenai siluet, proporsi, maupun karakter akhir busana.
Presentasi terasa seperti kumpulan interpretasi personal. Material yang sama dapat berubah menjadi sesuatu yang romantis, struktural, kasual, eksperimental, hingga lebih formal, bergantung pada DNA masing-masing desainer.
Deretan nama yang terlibat mencakup Adeline Esther, Andreas Odang, Carmanita, Chossy Latu, Danny Satriadi, Denny Wirawan, Didi Budiardjo, Eddy Betty, Era Soekamto, Eridani, Ghea Panggabean, Hian Tjen, Ivan Gunawan, Liliana Lim, Mel Ahyar, Priyo Oktaviano, Rama Dauhan, Ria Miranda, Sebastian Gunawan, Wilsen Willim, Yogie Pratama, Yongki Budisutisna, dan Yosafat Dwi Kurniawan.
DRAFT dan Busana Putih dengan Tujuan Lebih Besar

Rangkaian presentasi juga menghadirkan DRAFT, yang membawa eksplorasi lain melalui busana putih karya para anggota desainer IFDC.
Jika KANVAS BUDAYA menggunakan Batik Kudus dan denim sebagai titik temu, DRAFT menjadikan kemeja putih sebagai kanvas bagi kreativitas dan ekspresi personal. Koleksi tersebut kemudian berlanjut ke DRAFT IFDC Pop Up Store Installation, sehingga karya yang sebelumnya hadir di runway dapat dibawa pulang oleh publik.
Hasil penjualan dari karya tersebut diperuntukkan bagi tujuan sosial melalui kolaborasi dengan YCAB Foundation. Program ini memperluas makna presentasi mode, dari sebuah perayaan kreativitas menjadi bagian dari inisiatif yang memiliki dampak di luar panggung.
Mode sebagai Ruang untuk Menjaga Identitas

Melalui Fashion Nation 20th Edition: The Icon Edit, Senayan City kembali menghadirkan ruang bagi berbagai suara kreatif dalam mode Indonesia. Kanvas Budaya menjadi salah satu titik yang memperlihatkan bagaimana warisan budaya dapat terus berkembang ketika diberikan ruang untuk ditafsirkan.
Batik Kudus dan denim bertemu dalam satu bahasa. Bukan tentang mengubah identitas salah satunya, melainkan memberikan kesempatan bagi keduanya untuk hadir dalam konteks yang baru.

