Tak semua butiran kisah Nusantara terdata dalam aksara. Jauh di sisi luar barat provinsi Sumatera Utara, di Pulau Nias, ada kisah budaya tanpa aksara yang menyimpan cerita pada batu dan kayu. Hal yang dijadikan pintu masuk oleh Mel Ahyar dan ia terjemahkan menjadi koleksi Tanö Niha, koleksi terbaru Mel Ahyar Archipelago yang kini hadir di Mel Ahyar Boutique, Senayan City, Jakarta. Di sini, fashion tidak sekadar menjadi perkara siluet dan material, tetapi menjadi cara membaca kembali sebuah peradaban melalui bahasa yang lebih kontemporer.

Tanö Niha Tanpa Aksara
Tanö Niha berangkat dari gagasan bahwa wastra dan artefak budaya adalah penyimpan memori. Nias menjadi sangat menarik karena sebelum diperkenalkannya abjad Latin melalui misionaris Eropa pada abad ke-19, masyarakat Nias tradisional tidak memiliki sistem aksara. Cerita tentang kehidupan, hukum adat, hingga berbagai peristiwa penting kemudian menemukan bentuknya melalui pahatan kayu dan batu, termasuk relief yang menghiasi Omo Salawa, rumah panggung para raja dan bangsawan. Bagi Mel Ahyar, ruang inilah yang menjadi semacam “perpustakaan hidup” sekaligus titik awal eksplorasi Tanö Niha menjadi ssatu koleksi rancangan yang telah tersedia di butik Mel Ahyar Archipelago, di Senayan City, Jakarta.

Relief Batu di Atas Pakaian
Kisah dari Tanah Nias (Tanö Niha) tampil bagai sculptural yang kuat. Palet gelap didesain seolah relief batu, siluet angular, ornamen tiga dimensi, dan konstruksi pakaian yang tegas membuat koleksi ini terasa seperti artefak yang berpindah medium, dari permukaan kayu dan batu menjadi pakaian urban modern yang siap berjalan di kehidupan megapolitan, mengabarkan cerita tentang Nias. Bagi Mel Ahyar sendiri ini menjadi semacam a return to form, ketika struktur, volume, dan craftsmanship kembali menjadi pusat perhatian.


Biji Taigue dan Bunga Hanjeli
Detail-detailnya rancangan, termasuk ada Biji Taigue atau Hanjeli dari bunga liar Nias yang disematkan sebagai beads, sementara beberapa siluet mengambil inspirasi dari baru oholu, zirah berbahan kayu pohon oholu yang secara historis digunakan dalam konteks peperangan dan intimidasi terhadap lawan. Sarung printed organdi berbordir hingga sunburst pleats see-through dress kemudian membawa elemen tradisional tersebut ke wilayah fashion yang lebih ringan, transparan, dan eksperimental.

The highest form of craftsmanship
Mel Ahyar sendiri melihat craftsmanship bukan sekadar keterampilan tangan. “The highest form of craftsmanship is made when we work not only with our hands but also with our heart,” ujarnya. Kalimat tersebut terasa relevan dengan pendekatan Tanö Niha, karena koleksi ini tidak mencoba menjadikan Nias sekadar dekorasi. Relief, pahatan, arsitektur dan benda-benda tradisional dibaca sebagai sumber pengetahuan visual, kemudian diolah menjadi bahasa mode yang memiliki kehidupan baru. Co-Founder & CEO Maison MAC Arie Panca menyampaikan; “Karena di daratan Sumatra sendiri, budayanya telah bercampur dengan pengaruh Hindu-Buddha-Islam. Jadi budaya Nias malah ‘terawetkan’ dengan sendirinya.”

Mutiara dari Sumatera Utara
Karakter Nias pun tidak bisa dilepaskan dari geografisnya. Terpisah oleh Samudra Hindia, masyarakat Nias berkembang dengan karakter budaya yang relatif berbeda dari daratan Sumatera Utara. Kekayaan Megalitikum, patung batu, arsitektur Omo Sebua, hingga tradisi lompat batu memperlihatkan dunia visual yang khas. Melalui Mel Ahyar Archipelago, semua referensi tersebut tidak direproduksi mentah sebagai simbol, melainkan diterjemahkan menjadi fashion yang lebih abstrak, modern, dan terasa hidup di tubuh hari ini.

Rumah Tanö Niha di Mel Ahyar Boutique, Senayan City, Jakarta
Kini, Tanö Niha menemukan rumahnya di Mel Ahyar Boutique, Senayan City. Kehadiran butik ini memperluas perjalanan Mel Ahyar Archipelago dalam mempertemukan fashion, wastra, craftsmanship, dan cerita Nusantara dengan publik urban Jakarta. Pada akhirnya, kekuatan koleksi ini justru terletak pada caranya membuat sejarah terasa bukan sebagai sesuatu yang jauh di belakang kita, melainkan sesuatu yang masih bisa dikenakan, bergerak, dan terus ditafsirkan kembali.

