IWAN TIRTA, adalah salah satu jenama batik yang selalu berhasil mengangkat batik ke level selanjutnya. Di saat yang lainnya mengikutinya, jenama ini berhasil melakukan hal lain yang belum pernah dillakukan dan selalu tereksekusi dengan baik. Pionir.
Dan kali ini, untuk koleksi Runway 2027, Iwan Tirta mempresentasikan koleksinya dengan cara yang berbeda dengan koleksi yang lebih modern dari sebelumnya. Diadakan di Gedung Kesenian Jakarta, show ini tampil sedikit lebih taetrikal dengan iringan musik live dari Efek Rumah Kaca.
Koleksinnya sendiri berbicara tentang memori. Bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi melihat bagaimana sesuatu yang sudah pernah ada dapat berubah ketika dibaca kembali oleh generasi berikutnya. Gagasan itulah yang terasa pada SMERTI, judul koleksi IWAN TIRTA Runway Collection 2027, yang dipresentasikan melalui 50 tampilan busana pria dan wanita. Koleksi ini mengambil memori sebagai titik berangkat, kemudian menerjemahkannya melalui batik, siluet, skala motif, material, dan konstruksi busana yang terasa lebih ringan dan kontemporer.
Sebagai sebuah koleksi, SMERTI tidak mencoba menjadikan arsip sebagai benda museum. Justru sebaliknya, motif-motif dari khazanah IWAN TIRTA diperlakukan seperti sebuah ingatan: sesuatu yang kita kenal, tetapi tidak pernah benar-benar kembali dalam bentuk yang sama. Motif yang familiar muncul dengan perubahan skala, komposisi dan repetisi. Ada yang ditampilkan secara utuh, sementara sebagian lainnya hadir dalam bentuk yang terfragmentasi. Pendekatan ini membuat batik terasa lebih dinamis ketika diterapkan ke dalam busana.
Di sinilah SMERTI menjadi menarik untuk dibaca dari perspektif fashion. Batik tidak lagi selalu ditempatkan sebagai pusat perhatian yang harus terlihat secara penuh. Ia bisa menjadi bagian dari konstruksi busana, menjadi bidang visual, atau muncul sebagai detail yang baru terbaca ketika siluet bergerak. Dengan cara tersebut, identitas IWAN TIRTA tetap kuat, tetapi tampilannya tidak berhenti pada bahasa batik yang sudah kita kenal.
Siluet yang Lebih Ringan


Secara bentuk, SMERTI mengeksplorasi pendekatan soft structured atau soft architectural. Ada struktur yang tetap terasa terukur, tetapi garis busana dan pergerakannya dibuat lebih lembut. Kontras inilah yang menjadi salah satu kekuatan koleksi.
Batik secara historis memiliki hubungan yang kuat dengan ketelitian, proses dan struktur. Dalam SMERTI, kualitas tersebut tidak dihilangkan, tetapi diseimbangkan dengan siluet yang lebih cair. Hasilnya adalah busana yang terasa memiliki konstruksi, tanpa terlihat terlalu kaku. Pendekatan ini juga membuat koleksi bergerak cukup natural antara busana pria dan wanita. Batas gender tidak menjadi persoalan utama. Yang lebih penting adalah bagaimana motif, volume, material dan proporsi bekerja pada tubuh.
Material ikut memainkan peran penting. Batik berbahan 100 persen katun dan TENCEL™ digunakan bersama styling items berbahan sutra dan denim. Perpaduan tersebut memberikan variasi tekstur sekaligus menjauhkan batik dari kesan bahwa ia hanya memiliki satu cara untuk tampil. Styling pada koleksi ini, terlihat sangat berhasil. setiap look memperlihatkann kekuatan batik tanpa berlebihan, apalagi dengan adanya komponen lain seprti denim dan inner shirt sebagai bagian gaya layering. Scarf sebagai bandana yang mengingatkan saya pada film Pirates of Carebbean, feathers dan topi baret yang besar mengingatkan pada gaya-gaya royalti Spanyol, dibuat dalam gaya yang relevan modern. Komposisi dari setiap look terlihat cukup dan sesuai.
Membaca Ulang Arsip
Bagi IWAN TIRTA, pendekatan seperti ini sebenarnya cukup relevan dengan cara sebuah arsip fashion seharusnya diperlakukan. Rumah mode ini memiliki repositori lebih dari 13.000 pola batik warisan Iwan Tirta. Tantangannya tentu bukan sekadar memiliki arsip sebanyak itu, melainkan bagaimana membuat arsip tersebut terus memiliki alasan untuk dikenakan hari ini. SMERTI memberikan salah satu jawabannya.
Alih-alih membuat kembali apa yang sudah pernah dibuat, koleksi ini mengambil elemen-elemen tersebut dan mengubah konteksnya. Motif menjadi lebih eksperimental melalui skala dan repetisi. Siluet menjadi lebih modern. Material bergerak di luar batik. Dan keseluruhan koleksi tidak diposisikan sebagai nostalgia, melainkan sebagai percakapan antara apa yang pernah ada dengan apa yang sedang berlangsung sekarang. Ini penting, karena ketika berbicara mengenai warisan dalam fashion, ada perbedaan besar antara melestarikan dan mengulang.
Melestarikan berarti menjaga nilai dan identitasnya. Mengulang hanya berarti membuatnya kembali. SMERTI memilih yang pertama.

Gedung Kesenian Jakarta sebagai Bagian dari Koleksi
Pilihan venue juga memperkuat gagasan tersebut. SMERTI menjadi peragaan busana pertama yang diselenggarakan di Gedung Kesenian Jakarta, sebuah bangunan yang sendiri memiliki lapisan sejarah dan memori dalam perjalanan seni serta budaya Jakarta. Dalam konteks fashion show, gedung ini bukan sekadar latar.
Arsitekturnya memberikan atmosfer yang berbeda dari ruang runway konvensional. Koleksi hadir di dalam sebuah ruang yang sudah memiliki sejarahnya sendiri, sehingga gagasan mengenai memori terasa tidak hanya berada pada pakaian, tetapi juga pada tempat pakaian tersebut dipresentasikan.
Art Director Shadtoto Prasetio menerjemahkan hubungan tersebut melalui tata panggung, pencahayaan, pergerakan model, musik dan ritme pertunjukan. Tujuannya bukan sekadar membawa runway ke dalam gedung pertunjukan, tetapi membuat ruang ikut membentuk cara koleksi dilihat. Pendekatan ini membuat presentasi SMERTI terasa lebih seperti sebuah pertunjukan daripada sekadar parade pakaian.
Musik kemudian menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Finale koleksi ditutup dengan penampilan Efek Rumah Kaca, mempertemukan fashion, musik dan ruang dalam satu narasi yang sama.
Batik yang Tidak Berhenti di Masa Lalu

Yang paling menarik dari SMERTI mungkin justru bukan satu motif atau satu siluet tertentu, melainkan keberanian untuk melihat batik sebagai sesuatu yang masih bisa bergerak. Batik sering kali dibicarakan dalam konteks heritage. Tetapi sebagai fashion editor, yang lebih menarik adalah melihat apa yang terjadi setelah label heritage tersebut dilepas: apakah ia masih memiliki kekuatan sebagai pakaian? SMERTI menunjukkan bahwa jawabannya bisa ya.
Ketika motif diolah melalui proporsi baru, ketika konstruksi dibuat lebih lembut, ketika batik bertemu dengan denim, sutra dan material kontemporer, ia mendapatkan konteks baru tanpa harus kehilangan asal-usulnya. Di situlah nilai sebuah rumah mode seperti IWAN TIRTA terasa. Bukan hanya pada kemampuannya menjaga warisan Iwan Tirta, tetapi pada keberanian untuk mempertanyakan bagaimana warisan tersebut seharusnya terlihat hari ini.
Pada akhirnya, SMERTI bukan koleksi tentang masa lalu. Ia adalah koleksi tentang bagaimana masa lalu terus berubah ketika kita membawanya ke masa kini.
Dan memang begitu seharusnya sebuah warisan bekerja: bukan disimpan agar tetap sama, tetapi terus digunakan, ditafsirkan dan diberi kehidupan baru.

