Home WatchesLongines: Menjaga Waktu dari Lembah Saint-Imier

Longines: Menjaga Waktu dari Lembah Saint-Imier

by Ion Akhmad
0 comments
Bagikan

Perjalanan ke manufacture Longines di Swiss membawa saya lebih dekat pada sejarah sebuah maison yang telah menjaga tradisi horologi selama hampir dua abad. Di balik jam tangan yang dikenal di seluruh dunia, ada sebuah lembah yang tenang, ruang arsip yang menyimpan sejarah panjang, dan hubungan yang telah terjalin dengan Indonesia sejak 1912.

Perjalanan menuju Saint-Imier membawa saya ke sebuah lembah di wilayah Bernese Jura, Swiss. Bukit-bukit hijau mengelilingi kota kecil ini, dengan suasana yang begitu tenang, jauh dari kesibukan kota besar. Pemandangannya mengingatkan pada desa-desa Swiss yang kerap kita lihat dalam kartu pos. Namun, di balik ketenangan tersebut, terdapat sebuah tempat yang memiliki peran penting dalam sejarah horologi Swiss: manufacture Longines.

Berdiri sejak 1832, Longines telah menjadikan Saint-Imier sebagai rumahnya selama hampir dua abad. Kompleks manufacture yang luas ini menjadi saksi perjalanan sebuah merek jam tangan yang tumbuh dari usaha keluarga menjadi salah satu nama penting dalam industri horologi dunia.

Kunjungan ke tempat ini memberikan pengalaman yang berbeda dari sekadar melihat koleksi jam tangan di butik. Di sini, kita bisa melihat bagaimana sejarah, tradisi, dan teknologi bertemu dalam sebuah proses yang terus berlangsung.

Dari lembah Saint-Imier menuju dunia

Kisah Longines dimulai pada 1832, ketika Auguste Agassiz mendirikan usaha pembuatan jam tangan di Saint-Imier. Pada masa itu, produksi jam masih dilakukan melalui sistem pengrajin yang bekerja dari rumah masing-masing. Komponen jam dibuat secara terpisah, kemudian dikumpulkan untuk dirakit. Perubahan besar terjadi ketika Ernest Francillon mengambil alih perusahaan dan mendirikan pabrik terpusat pada 1867. Langkah ini menjadi bagian penting dari perkembangan industri jam Swiss, karena berbagai tahapan produksi dapat dilakukan dalam satu tempat.

Pabrik tersebut dibangun di sebuah lokasi bernama Les Longines. Nama tempat inilah yang kemudian menjadi nama merek, sekaligus identitas yang terus dibawa hingga hari ini. Melihat kompleks manufacture Longines saat ini, kita bisa memahami bagaimana sebuah keputusan hampir 160 tahun lalu membentuk perjalanan perusahaan. Saint-Imier bukan hanya tempat berdirinya pabrik pertama, tetapi juga pusat yang terus menjaga hubungan Longines dengan sejarahnya.

Sebuah museum yang menyimpan perjalanan waktu

Di dalam kompleks manufacture, terdapat museum yang memperlihatkan perjalanan Longines dari masa ke masa. Koleksinya mencakup berbagai jam tangan bersejarah, instrumen pengukuran waktu, dokumen, dan benda-benda yang berkaitan dengan perkembangan merek. Yang mana pada awalnya, Longines lebih banyak menciptakan instrumen pengukur, jarak, luas, yang pada akhirnya terciptalah pengukur waktu. Namun, pengalaman yang paling berkesan bagi saya justru datang dari ruang arsip.

Ruangan ini menyimpan dokumen-dokumen berusia ratusan tahun yang tertata begitu rapi. Setiap arsip menjadi bagian dari perjalanan Longines, mulai dari sejarah produksi, perkembangan desain, hingga hubungan merek dengan berbagai negara bahkan dengan pemakaianya juga.

Ada sesuatu yang menarik ketika melihat bagaimana sebuah perusahaan menjaga dokumen dari masa lalu dengan begitu serius. Di industri jam tangan, sejarah bukan hanya cerita yang disampaikan melalui katalog atau kampanye. Sejarah juga hadir dalam bentuk catatan, gambar, dan dokumen asli yang masih disimpan dengan baik. Ruang arsip ini memperlihatkan bahwa menjaga sebuah warisan membutuhkan lebih dari sekadar mempertahankan desain atau nama merek. Ada upaya untuk merawat bukti-bukti perjalanan yang membentuk identitas Longines hingga sekarang.

Longines dan perjalanan ke Indonesia

Salah satu informasi menarik yang saya temukan selama kunjungan adalah hubungan Longines dengan Indonesia yang ternyata sudah berlangsung sejak awal abad ke-20. Pada 1912, jam tangan Longines telah hadir di Indonesia melalui sejumlah retailer, yaitu Ancona di Surabaya, Weltevreden di Jakarta, dan Goldenberg & Co. di Medan.

Informasi ini memberikan perspektif yang berbeda tentang sejarah Longines. Merek yang lahir di sebuah lembah kecil di Swiss ternyata telah menjangkau pasar Indonesia lebih dari satu abad lalu. Surabaya, Jakarta, dan Medan menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Ketiga kota ini memperlihatkan bagaimana jam tangan Swiss mulai dikenal dan dipasarkan di Indonesia pada masa itu.

Hubungan panjang ini juga membuat kunjungan ke Saint-Imier terasa lebih dekat dengan Indonesia. Di balik sebuah jam tangan Longines yang mungkin pernah dimiliki keluarga kita, ada perjalanan panjang dari Swiss menuju berbagai kota di Tanah Air.

Sebuah warisan yang terus berjalan

Kunjungan ke manufacture Longines memberikan pemahaman bahwa sebuah jam tangan tidak hanya berbicara tentang desain, mesin, atau presisi. Ada sejarah panjang yang ikut membentuk karakter sebuah merek.

Di Saint-Imier, tradisi tersebut terasa melalui suasana lembah yang tenang, kompleks manufacture yang luas, dan ruang arsip yang menyimpan perjalanan Longines selama hampir dua abad.

Di tempat ini, waktu tidak hanya diukur melalui jarum yang bergerak di atas dial. Waktu juga tersimpan dalam dokumen, koleksi, dan berbagai cerita yang terus dirawat. Longines mungkin telah berkembang menjadi merek global, tetapi Saint-Imier tetap menjadi tempat yang mengingatkan kita pada awal perjalanannya. Sebuah lembah kecil di Swiss yang menyimpan sejarah panjang, sekaligus menjadi rumah bagi salah satu nama penting dalam dunia horologi.


Bagikan

You may also like

UA-98339383-1