Di tengah lanskap hijau Taman Menteng, Jakarta Pusat, hanya sekitar dua kilometer dari bekas kediaman legendaris Raden Saleh di Cikini, pelukis cat air Galuh Tajimalela menghadirkan sebuah penghormatan visual yang melampaui sekadar potret sejarah. Dalam pameran Jakarta Provoke 2026, ia menempatkan Raden Saleh sebagai poros narasi, menghadirkan sang maestro abad ke-19 sebagai figur yang tetap relevan dalam percakapan budaya Indonesia hari ini. Setiap karya menjadi ruang temu antara sejarah, seni, dan identitas Jakarta.

Menghiasi Presisi dengan Rembesan Air
Kekuatan utama karya-karya Galuh terletak pada keberhasilannya menyatukan dua bahasa visual yang tampak bertolak belakang. Di satu sisi hadir garis-garis tinta yang presisi, membangun karakter wajah, ketajaman bola mata, gestur tangan, lipatan busana aristokrat, hingga kumis khas Raden Saleh dengan ketelitian hampir dokumenter. Di sisi lain, sapuan cat air menggunakan teknik wet-on-wet dibiarkan mengalir bebas, menciptakan rembesan warna yang organik dan puitis. Kontras ini menghadirkan ketegangan visual yang justru menjadi daya tarik utama setiap lukisan.

Raden Saleh Simbol Intelektual
Kurator Tubagus ‘Andre’ Sukmana menyampaikan bahwa pilihan Galuh mengangkat Raden Saleh bukanlah keputusan yang lahir dari nostalgia semata. Sosok pelukis besar Hindia Belanda itu memiliki karakter visual yang begitu kuat sekaligus kaya makna. Sorban, pakaian bangsawan, ekspresi dramatis, dan wajah yang ikonik memberinya ruang eksplorasi artistik yang luas. Lebih dari itu, Raden Saleh telah lama dipandang sebagai simbol intelektual, kebebasan berpikir, dan semangat perlawanan terhadap kolonialisme, terutama melalui karya monumentalnya Penangkapan Pangeran Diponegoro.

Raden Saleh & A Cup of Tea
Ketertarikan tersebut telah diwujudkan Galuh dalam berbagai karya selama beberapa tahun terakhir. Judul-judul seperti Raden Saleh & a Cup of Tea (2018), Potret van Raden Saleh (2020), hingga Berteduh di bawah Pohon Raden Saleh (2023) menunjukkan bahwa hubungan kreatifnya dengan tokoh ini berkembang secara berkelanjutan. Setiap karya menawarkan sudut pandang baru, bukan sekadar mengulang citra historis yang telah dikenal publik, melainkan membuka kemungkinan pembacaan yang lebih personal sekaligus kontemporer.

Jakarta Provoke! 2026
Dalam seri terbaru yang dipamerkan di Jakarta Provoke! 2026, Galuh memperluas narasi tersebut dengan menghadirkan jejak-jejak peninggalan Raden Saleh di Jakarta. Salah satu karya penting bertajuk Plattegrond van het Cikini-huis van Raden Saleh menghubungkan sosok sang pelukis dengan ruang tempat ia pernah hidup dan berkarya. Ada pula visualisasi Raden Saleh bersama istrinya dengan latar puri pribadinya di Cikini, menghadirkan dimensi yang lebih intim terhadap figur yang selama ini lebih sering dikenang melalui sejarah seni.

Galuh dan Realis Impresif
Pendekatan realis-impresif yang menjadi ciri Galuh memperlihatkan kematangannya dalam mengolah medium cat air. Ia tidak membiarkan teknik tradisional membatasi kemungkinan artistik. Melalui eksperimen bentuk, tekstur, pola, dan komposisi dekoratif, Galuh memperluas cakrawala cat air menjadi medium yang mampu menyampaikan narasi sejarah secara emosional. Setiap sapuan kuas tidak hanya membangun rupa, tetapi juga menyimpan lapisan cerita yang mengundang penonton untuk berhenti lebih lama di depan karya.

Cairnya 500 Tahun Jakarta
Di balik kualitas estetikanya, lukisan-lukisan ini sesungguhnya menghidupkan kembali memori kolektif tentang Jakarta. Menjelang peringatan lima abad Jakarta, karya-karya tersebut mengingatkan bahwa identitas kota tidak hanya dibangun oleh gedung pencakar langit atau infrastruktur modern, tetapi juga oleh tokoh-tokoh yang pernah memberi pengaruh besar terhadap perkembangan budaya dan sejarahnya. Jejak Raden Saleh menjadi bagian penting dari narasi tersebut, sekaligus berpotensi terus dikembangkan sebagai sumber edukasi dan destinasi wisata budaya.

Figur-Figur Bersejarah
Ketertarikan Galuh terhadap figur-figur bersejarah juga tampak konsisten sepanjang perjalanan artistiknya. Ia telah melukiskan Pangeran Diponegoro, Sisingamangaraja XII, Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Jenderal Sudirman, Hoegeng Iman Santoso, Abdurrahman Wahid, Dalai Lama, hingga Pope Leo XIV. Di ranah seni rupa, dua nama yang paling banyak menginspirasi eksplorasinya adalah Raden Saleh dan Frida Kahlo. Kesamaan keduanya terletak pada kemampuan menjadikan kehidupan pribadi sebagai medium ekspresi yang melampaui zamannya.

Cat Air Perekam Warisan Budaya
Di perayaan ini, Galuh menunjukkan kematangannya dalam mengolah figuratif. Ia bukan sekadar merekam potret manusia, melainkan menangkap ritual elegan yang penuh keanggunan. Raden Saleh tampak kembali hadir bukan sebagai sosok yang membeku di dalam buku sejarah, melainkan sebagai figur yang menyebar seperti air dan berdialog dengan masa kini. Pameran ini menunjukkan bahwa seni memiliki kemampuan menjaga ingatan kolektif tetap hidup, sekaligus membangun rasa hormat terhadap tokoh-tokoh yang telah membentuk perjalanan bangsa. Di tangan Galuh, cat air menjelma menjadi medium yang bukan hanya merekam rupa, tetapi juga merawat warisan budaya Indonesia agar terus relevan bagi generasi mendatang.


