Irama musik yang berasal dari live band memenuhi Bioskop XXI Plaza Indonesia. Di tengah Kota Jakarta, Bakti Budaya Djarum Foundation menggelar peluncuran film pendek Jalan Pulang dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional pada Rabu, 22 Juli 2026.
Kebaya dan Keanggunannya
Menjadi tahun ketiga dalam kampanye pelestarian kebaya, Kebaya Kala Kini pada 2024 dan #KitaBerkebaya pada 2025, Bakti Budaya Djarum Foundation menampilkan keanggunan kebaya melalui Jalan Pulang. Terdapat instalasi yang dapat dikunjungi pada malam pemutaran film pendek, menegaskan tujuan dari kampanye tersebut: pelestarian kebaya.

Instalasi tersebut menunjukkan detail dalam styling kebaya. Dengan gambaran desain, palet warna, pola, dan sketsa kebaya. Salah satu kebaya yang ditampilkan dalam instalasi adalah Kebaya Labuh oleh Ghea Panggabean dan kain Songket milik Sjamsidar Isa.


“Selama tiga tahun terakhir, kami terus mengajak masyarakat melihat kebaya dari berbagai sudut pandang. Jika sebelumnya kami mengangkat kebaya sebagai ekspresi diri dan identitas budaya yang hidup, melalui Jalan Pulang kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa setiap kebaya menyimpan kisah yang layak diteruskan. Kebaya bukan hanya sesuatu yang dikenakan, tetapi juga membawa jejak keluarga, kenangan, nilai, dan perjalanan hidup yang membentuk siapa diri kita hari ini. Karena itu, merawat kebaya berarti juga merawat memori dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, melalui siaran pers.
Setiap Kebaya Punya Cerita
Jalan Pulang berhasil meleburkan makna kebaya sebagai warisan lintas generasi. Dibintangi oleh Sheila Dara Aisha, Widyawati Adisura Sophiaan, Asri Welas, dan Sharon Sitania — film ini menggunakan kebaya tidak hanya sebagai pakaian, tapi sebuah warisan yang mendarah daging dalam budaya Indonesia.
Mengikuti Dara (Sheila Dara Aisha) dan perjuangannya dalam memodernisasikan rumah mode kebaya Madame Yati (Asri Welas). Kegagalan Dara dalam proses pitching, membuatnya mempertanyakan cara pandangnya terhadap kebaya. Dengan kegagalan, Dara tergerak untuk pulang ke Ibu (Widyawati Adisura Sophiaan). Berada di rumah lamanya, Dara menemukan pandangan baru terhadap kebaya melalui tumpukan kebaya lama ibunya: setiap kebaya punya cerita.

Bramsky, sebagai sutrada, menawarkan perspektif berbeda yang membuat penonton lebih dekat — menggunakan hal-hal sederhana dalam alur cerita. Bramsky juga berhasil memperlihatkan interaksi antargenerasi melalui kebaya. Dalam konferensi pers, Bramsky menyatakan bahwa ‘pulang’ tidak harus rindu suatu yang hidup, ‘pulang’ memiliki arti luas.
Mengubah Stigma ‘Kuno’ Kebaya
Walau kebaya identik dengan pakaian formal, Hagai Pakan, sebagai penata busana dan konseptor, menghadirkan keseimbangan sehingga kebaya tampil versatile dalam film ini.
“Dalam membuat karya padu padan busana film, lebih sulit untuk memadupadankan yang sehari-hari tapi tetap kelihatan realis.” ucap Hagai Pakan dalam konferensi pers. Hal ini menantang Pakan untuk berkreasi agar visi tercapai di film pendek: menemukan makna kebaya.

Dengan menunjukkan bahwa kebaya dapat digunakan tidak hanya untuk pakaian formal, Asri Welas memiliki pesan terhadap generasi muda: “Kebaya bukan kekunoan, tapi kekinian.” sebut Welas dalam konferensi pers.
“Kebaya adalah warisan budaya yang saya yakini masih bisa kita pertahankan karena bisa kita kenakan dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Adrian. “Pertemuan kita [perempuan] dengan kebaya dipertemukan oleh ibu kita.” Sejalan dengan alur cerita, Adrian menegaskan bahwa kebaya merupakan sebuah core memory dari keluarga, sebagai saksi perjalanan hidup.

Sharon Sitania, hadir sebagai peran generasi muda dalam film ini menyatakan bahwa Jalan Pulang merupakan ajakan dan bentuk panggilan untuk melestarikan kebaya.
Ada cerita dan kenangan yang melekat pada tiap helai kebaya. “Kebaya yang diwariskan bukan hanya fisiknya aja, tapi emang ada cerita-ceritanya. Itu membuat kebaya semakin spesial.” ucap Sheila Dara. Untuk Dara, kebaya selalu hadir di momen spesial dan memori yang melekat dalam tiap helai kebaya menghubungkan masa lalu dan masa kini.
“Kami berharap Jalan Pulang menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya hidup di museum
atau dalam buku sejarah, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari, dalam cerita keluarga, dan
dalam kebaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebab setiap kebaya punya
cerita, dan setiap cerita layak untuk diteruskan.” tutup Adrian dalam siaran pers.

