Jauh sebelum riasan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di media sosial, riasan telah memiliki tempatnya sendiri dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bedak, lipstik, pemulas pipi, hingga berbagai ritual kecantikan menyimpan cerita tentang bagaimana perempuan memandang dirinya, mengikuti perubahan zaman, sekaligus mempertahankan sesuatu yang berasal dari masa lalu.
Di Indonesia, sejarah riasan tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama perubahan sosial, budaya, industri, dan cara masyarakat mendefinisikan kecantikan. Karena itu, ketika melihat kembali perjalanan riasan, yang muncul bukan hanya deretan produk lama, melainkan potret Indonesia dari berbagai masa.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari HYAS: Makeup Through the Ages, pameran yang berlangsung pada 3 hingga 6 September 2026 di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta. Diinisiasi oleh Sissy Sosro dan dikurasi, diteliti, serta ditulis oleh Allysha Nila, pameran ini menjadi proyek perdana HYAS untuk mengangkat sejarah riasan Indonesia melalui arsip dan benda-benda kecantikan.
Warna yang Berubah Bersama Zaman

Riasan bisa menjadi begitu personal, tetapi pada saat yang sama mampu merekam perubahan sebuah masyarakat.
HYAS menyusuri perjalanan kecantikan Indonesia melalui tiga fase waktu, yaitu masa kuno, kolonial, dan periode yang lebih baru hingga sekitar masa Reformasi. Lebih dari 350 produk riasan dari berbagai periode dipamerkan, bersama sekitar 200 majalah vintage dan 100 buku langka yang dikumpulkan melalui riset selama sembilan bulan.

Setiap benda membawa konteksnya sendiri. Sebuah kemasan bedak tua, misalnya, mungkin terlihat sederhana hari ini. Namun ketika ditempatkan dalam konteks sejarah, ia dapat berbicara tentang standar kecantikan pada suatu masa dibentuk, produk kecantikan beredar, dan perempuan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Produk tertua dalam pameran ini bahkan berupa bedak wajah dari sebuah apotek era kolonial di Surabaya yang berasal dari tahun 1920-an atau sebelumnya.
Dari Warisan Menjadi Identitas

Perjalanan riasan Indonesia juga memperlihatkan bagaimana kecantikan lokal menemukan bahasanya sendiri. Sariayu Martha Tilaar menjadi salah satu cerita yang ditampilkan dalam pameran. Sejarahnya memperlihatkan gagasan untuk membawa kekayaan alam dan budaya Indonesia ke dalam dunia kecantikan, kemudian terus menyesuaikannya dengan perubahan zaman dan kebutuhan konsumen.
Cerita serupa hadir melalui Mustika Ratu. Brand yang berawal pada 1973 ketika BRA Mooryati Soedibyo membuat produk kecantikan dan jamu dari garasi rumahnya tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu perusahaan kecantikan dan wellness Indonesia, dengan produknya telah menjangkau lebih dari 40 negara.
Maka, riasan menjadi lebih dari sesuatu yang dikenakan di wajah. Ia menjadi medium untuk membawa gagasan tentang Indonesia ke dalam bentuk yang dekat dengan keseharian.
Wajah Indonesia yang Terus Bergerak

Sejarah tentang riasan ini juga memperlihatkan bahwa kecantikan tidak pernah benar-benar diam. Generasi berganti. Selera berubah. Media baru muncul. Cara orang menemukan produk pun ikut bergeser.
Hari ini, sebuah brand riasan dapat dikenal luas melalui media sosial dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan generasi sebelumnya. Namun perubahan tersebut tidak serta-merta menghapus apa yang telah ada sebelumnya.
Warisan justru dapat memperoleh kehidupan baru ketika nilai lama diterjemahkan kembali ke dalam bahasa yang dipahami generasi hari ini. Itulah yang terlihat dalam perjalanan industri kecantikan Indonesia. Tradisi, bahan alam, gagasan tentang kecantikan lokal, inovasi, hingga teknologi terus bertemu dan membentuk wajah baru.
Melihat Kecantikan dengan Cara yang Lebih Utuh

HYAS: Makeup Through the Ages menempatkan riasan sebagai titik awal untuk membaca cerita yang lebih luas. Pengunjung tidak hanya melihat produk, tetapi juga arsip, majalah, buku, workshop, dan talk show yang melengkapi pengalaman pameran.
Warna yang kita lihat pada wajah Indonesia hari ini berasal dari banyak lapisan. Ada warna dari masa lalu, dari budaya yang diwariskan. Dari industri yang dibangun para pionir, hingga warna baru yang muncul dari generasi yang terus bereksperimen.
Riasan menjadi salah satu cara paling sederhana untuk melihat perubahan itu. Apa yang dahulu tersimpan dalam kotak bedak atau halaman majalah. Kini berlanjut melalui layar ponsel, meja rias, dan kreativitas generasi baru.
Sebab sejarah kecantikan Indonesia ternyata juga merupakan sejarah tentang bagaimana kita belajar melihat diri sendiri.

