Bagi Bvlgari, warna bukan sekadar persoalan estetika. Ia adalah bagian dari identitas Maison, sekaligus bahasa yang mampu melintasi budaya, generasi dan zaman. Di Shanghai, gagasan tersebut menemukan interpretasi baru.
Warna menjadi hal pertama yang terasa ketika memasuki Bvlgari Kaleidos: Colors, Cultures and Crafts di Power Station of Art, Shanghai. Lebih dari 300 mahakarya perhiasan membawa pengunjung menyusuri lebih dari satu abad eksplorasi chromatic Bvlgari—dari High Jewelry hingga karya dari Bvlgari Heritage Collection dan sejumlah koleksi pribadi.

Namun Kaleidos bukan sekadar pameran perhiasan. Untuk edisi Shanghai, Bvlgari membawa warisan Roman-nya ke dalam dialog dengan tradisi warna, filosofi dan ekspresi artistik Tiongkok. Sebuah pertemuan yang membuat warna tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang indah, tetapi juga sebagai sesuatu yang memiliki sejarah, simbol dan emosi.
Warna sebagai Bahasa Universal

“Color is a universal artistic language,” ujar Laura Burdese, CEO Bvlgari, saat press conference pembukaan Kaleidos di Shanghai.
Pernyataan tersebut menjadi benang merah pameran. Selama lebih dari satu abad, Bvlgari dikenal melalui keberaniannya menggunakan batu permata berwarna dan menciptakan kombinasi chromatic yang khas. Di Kaleidos, tradisi tersebut dibaca kembali melalui perspektif yang lebih luas: warna sebagai titik temu antara seni, budaya dan kreativitas.
Bvlgari bahkan menempatkan warisan warnanya dalam dialog dengan tradisi Tiongkok serta ekspresi seni kontemporer, menciptakan sebuah pertemuan antara estetika Timur dan Barat.
Shanghai menjadi tempat yang tepat untuk percakapan tersebut. Sebagai salah satu pusat budaya kontemporer Asia, kota ini mempertemukan sejarah panjang Tiongkok dengan energi kreatif yang terus berkembang.
Tiga Bab untuk Memahami Warna

Kaleidos dibangun melalui tiga bab: The Science of Colors, Color Symbolism dan The Power of Light.
Bab pertama membawa warna ke wilayah sains dan persepsi. Pengunjung diajak melihat bagaimana warna terbentuk, berinteraksi dan menghasilkan harmoni maupun kontras melalui komposisi batu permata.
Kemudian Color Symbolism membawa warna ke wilayah yang lebih kultural. Untuk edisi Shanghai, Bvlgari mengambil inspirasi dari filosofi tradisional Tiongkok mengenai Five Elements and Five Colors. Warna di sini tidak berhenti sebagai visual, tetapi membawa hubungan dengan alam, sejarah dan sistem pemikiran.
Sementara The Power of Light melihat bagaimana cahaya mengubah persepsi terhadap material. Emas, perak dan batu permata seolah mendapatkan kehidupan baru melalui refleksi, transparansi dan intensitas cahaya.
Seperti yang dijelaskan Gislain Aucremanne, Heritage Curator Director Bvlgari, warna menjadi benang yang menghubungkan “reason and emotion, science, history, and culture”. Karena itu, ruang pameran sendiri dirancang sebagai bagian dari pengalaman, bukan sekadar tempat untuk menampilkan jewelry.
Jewelry sebagai Wearable Art
Di sinilah karakter Bvlgari terasa semakin jelas. Bagi Maison ini, jewelry bukan hanya objek untuk dikenakan. Ia merupakan bentuk wearable art, tempat craftsmanship dan kreativitas bertemu.
Para artisan bekerja dengan batu-batu berharga melalui penguasaan teknik yang panjang, sementara para desainer menggunakan warna untuk membuka sisi ekspresif dari High Jewelry. Hasil akhirnya bukan sekadar adornment, melainkan karya yang membawa keterampilan tangan, gagasan dan ekspresi artistik secara bersamaan.
Kaleidos kemudian memperluas gagasan tersebut dengan menghadirkan karya dua seniman kontemporer Tiongkok, Liang Manqi dan Zhang Ding. Kehadiran keduanya membuat batas antara jewelry dan contemporary art menjadi semakin cair.

Di tangan Liang Manqi, warna bergerak keluar dari kanvas melalui instalasi Boundless Synesthesia. Sementara Zhang Ding menggunakan cahaya, panel emas dan bentuk-bentuk transparan dalam The Form of Light untuk mengeksplorasi hubungan manusia dengan cahaya.
Dengan dukungan scenography dari SANAA dan Formafantasma, arsitektur, cahaya dan material turut menjadi bagian dari cerita.
Dari Power Station of Art ke Bvlgari Hotel Shanghai
Di Bvlgari Hotel Shanghai, pengalaman tersebut diteruskan melalui serangkaian instalasi dan pengalaman yang membawa tema art, craftsmanship dan Italian elegance ke ruang hospitality.
Di pintu masuk hotel, instalasi Portal karya Liang Manqi menjadi pembuka perjalanan. Di lobby, karya fotografi Matthieu Lavanchy melanjutkan narasi visual, sementara katalog pameran hadir di kamar dan suite.
Pengalaman tersebut kemudian berakhir di Bvlgari Dolci melalui koleksi cokelat edisi terbatas yang dibuat oleh Gianluca Fusto, Maître Chocolatier resmi Bvlgari Hotels & Resorts.

Ini membuat Kaleidos terasa seperti sebuah dunia yang dapat dimasuki, bukan sekadar pameran yang selesai setelah pengunjung meninggalkan galeri.
Sebuah Pertemuan yang Dibangun dari Warna
Ada sesuatu yang menarik dari cara Bvlgari memilih warna sebagai medium untuk mempertemukan dua budaya. Warna bisa sangat universal, tetapi pengalaman terhadapnya tidak pernah sepenuhnya universal. Satu warna dapat memiliki sejarah, simbol dan emosi yang berbeda bagi setiap kebudayaan. Kaleidos Shanghai memanfaatkan perbedaan tersebut bukan sebagai jarak, melainkan sebagai ruang untuk berdialog.
Dari warisan Roman Bvlgari hingga filosofi Five Elements and Five Colors, dari High Jewelry hingga contemporary art, dari Power Station of Art hingga Bvlgari Hotel Shanghai, semuanya bertemu melalui satu bahasa yang sama: warna.
Pada akhirnya, mungkin itulah kekuatan Kaleidos. Bukan hanya memperlihatkan betapa indahnya warna dalam sebuah perhiasan, tetapi menunjukkan bagaimana warna dapat membawa craftsmanship, budaya dan kreativitas ke dalam satu pengalaman yang sama.
Bvlgari Kaleidos: Colors, Cultures and Crafts berlangsung di Power Station of Art, Shanghai, dan terbuka untuk publik hingga 31 Oktober 2026.



