Ada jenis lukisan yang tidak cukup hanya dilihat. Mata seperti ditarik untuk masuk lebih jauh, sementara otak sibuk mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi di hadapannya. Karya Mochamad Rizky Aditya bekerja di wilayah yang menggelitik ini. Menggunakan kanvas berbentuk heksagon, ia menciptakan kecohan mata berupa kubus peti kemas yang tampak memiliki kedalaman 3D, padahal seluruh ruang tersebut sebenarnya hanya lahir dari permukaan datar 2D. Efeknya, ada kepuasan kecil yang muncul ketika mata akhirnya menyerah pada ilusi dan otak berkata, “Aha”.

Dopamin dari Seni Rupa
Dalam neuroscience, momen semacam ini berkaitan dengan cara otak bekerja sebagai mesin prediksi. Ketika berhadapan dengan kanvas datar, otak tentu mengantisipasi sebuah gambar dua dimensi. Namun perspektif, bayangan, tekstur dan permainan cahaya yang dibangun Aditya membuat prediksi itu tergelincir. Otak kemudian harus menyusun ulang informasi visual sampai menemukan penjelasan yang terasa masuk akal. Ketika teka-teki visual tersebut berhasil dipecahkan, sistem otak teraktivasi dan memunculkan sensasi menyenangkan yang berkaitan dengan dopamin. Seni, dalam situasi ini, terasa seperti teka-teki yang hadiahnya adalah sebuah anggukan kecil.

Cerita dalam kanvas heksagon
Secara teknis, ilusi tersebut bertumpu pada disiplin perspektif dan pencahayaan yang cukup presisi. Tiga bidang utama pada heksagon disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan kesan sudut interior sebuah ruang. Aditya kemudian memperkaya permukaannya dengan tekstur papan kayu, guratan material, cat yang tampak lapuk dan stensil bergaya peti pengiriman. Penggambaran kayu-kayu sangat realistis bagai fotografi, lengkap dengan alur serat kayu dan luka cat. Warna merah, oranye dan turquoise bertemu dalam konstruksi visual yang membuat kubus imajiner itu terasa seperti benda yang memiliki sejarah, bukan sekadar latihan perspektif. Di sinilah kecakapan teknis berhenti menjadi trik dan mulai berubah menjadi bahasa artistik.

Gagasan Alam di Dalam Peti Kemas
Menariknya, pohon-pohon yang muncul di dalam peti kemas membawa percakapan ke wilayah yang jauh lebih filosofis. Gagasan tentang sejarah ditarik Aditya ke simbol pohon, yang menyimpan jejak waktu melalui batang, serat dan guratannya. Kayu menjadi semacam arsip organik: merekam perjalanan, menyerap energi alam, sekaligus menjadi material yang selama berabad-abad menopang kehidupan manusia. Pohon bukan hanya objek biologis dalam karya ini, tetapi metafora tentang ingatan, pertumbuhan dan bagaimana kehidupan meninggalkan jejaknya sendiri.

Sisi Peti Kemas yang Terbuka
Di sisi lain, ide peti kemas menurut Aditya adalah representasi dari kesibukan hidup modern saat ini, ketika semakin banyak orang membeli dan mengirim barang lewat ekspedisi kemasan. Banyak yang penasaran, apa yang terdapat di dalam setiap kemasan? Nah, di sini Aditya membuka satu sisi peti kemasnya, memuakan rasa penasaran publik. Di dalam peti kemas Aditya tidak berhenti pada permainan persepsi saja, ia melancarkan kritik mengenai cara manusia memperlakukan alam sebagai komoditas. Pabrik yang mengepulkan asap di atas sebuah pulau melayang, lengkap dengan label “FRAGILE” dan logo SNI pada bingkai kotaknya. Pulau, industri dan kemasan perdagangan bertemu menjadi metafora tentang lingkungan. Siapa sebenarnya yang sedang kita lindungi ketika kita memberi label fragile pada alam yang dikemas dalam peti?

Lapisan Narasi dalam ilusi 3D
Detail suara visual Aditya berlanjut, membawa kita ke lanskap biologis dengan flora kebiruan dan kawanan lebah, sementara simbol daur ulang memperkuat pembacaan tentang keberlanjutan. Kontras ini membuat karya terasa seperti sebuah objek yang memiliki dua kehidupan: dari kejauhan ia memukau sebagai ilusi optik, tetapi semakin diperhatikan, semakin banyak lapisan narasi yang terbuka. Aditya memanfaatkan bentuk heksagon bukan hanya sebagai medium eksperimental, melainkan sebagai perangkat untuk menghubungkan persepsi, material, sejarah dan ekologi.

Karya yang melahirkan pertanyaan baru
Mungkin itu sebabnya lukisan 3D seperti karya Aditya terasa begitu memuaskan. Kita datang untuk melihat sebuah gambar, lalu mendapati mata kita dibohongi dengan cara yang menyenangkan. Kita menyadari kebohongan itu, menikmatinya, kemudian menemukan bahwa di balik permainan tersebut terdapat cerita tentang pohon, industri, perdagangan dan lingkungan. Seni bekerja paling menarik ketika ia membuat kita berhenti sejenak, tersenyum karena berhasil menemukan jawabannya, lalu pulang dengan pertanyaan baru yang justru lebih sulit dijawab.

