Ini sangat menarik, ketika karya Keith Haring masuk ke dalam dunia Louis Vuitton. Garis-garis hitam yang spontan, figur manusia yang menari, Radiant Baby, Running Heart, hingga karakter-karakter yang begitu lekat dengan budaya jalanan New York, tiba-tiba hadir di atas sebuah handbag yang identik dengan konstruksi dan craftsmanship tingkat tinggi.
Pertemuan itu menjadi bab kedelapan dari Artycapucines, proyek Louis Vuitton yang sejak 2019 mempertemukan siluet Capucines dengan interpretasi para seniman kontemporer. Untuk edisi terbaru ini, Louis Vuitton menghadirkan 13 tas dan collector pieces yang mengambil karya serta bahasa visual Keith Haring sebagai sumber inspirasi. Koleksi ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan Keith Haring Foundation.
Haring sendiri lahir di Pennsylvania pada 1958 dan kemudian menjadi salah satu figur penting dari skena downtown New York pada era 1980-an. Karyanya dikenal melalui figur-figur sederhana, garis yang ritmis dan simbol-simbol bercahaya yang terasa spontan sekaligus mudah dikenali. Bahasa visual tersebut kemudian menjadi bagian dari percakapan antara seni, budaya jalanan dan kehidupan sehari-hari.

Louis Vuitton tidak sekadar menempatkan gambar Haring di permukaan tas. Justru di sinilah koleksi Artycapucines ini menjadi menarik. Setiap karya menerjemahkan karakter Haring menggunakan teknik berbeda—mulai dari leather marquetry, embroidery, enamel, laser printing, hingga aplikasi kristal dan teknik embossing.
Salah satu yang paling spektakuler adalah Capucines Nano Running Heart. Mengambil ikon Running Heart karya Haring tahun 1984, minaudière ini dibuat dari metal bernuansa silver dan dihiasi lebih dari 12.000 strass yang dipasang satu per satu dengan tangan. Prosesnya membutuhkan lebih dari satu minggu pengerjaan untuk memastikan setiap kristal mampu mempertahankan bentuk dan energi gambar asli Haring.
Interpretasi lainnya memperlihatkan pendekatan yang jauh lebih taktil. Capucines East-West Mini Maze, misalnya, mengambil inspirasi dari Untitled (Painting for Francesca Alinovi) tahun 1984. Komposisi berliku karya Haring diterjemahkan menjadi permukaan yang dipenuhi beads dan benang melalui teknik needlework dan crochet. Pengerjaannya mencapai sekitar 240 jam untuk membangun relief dan dimensi pada permukaan tas.

Teknik berbeda terlihat pada Capucines Mini Figures, yang mengambil detail figur-figur saling berinteraksi dari Untitled (Heart). Beads dan benang dikerjakan dengan teknik embroidery dan crochet di atas calfskin putih, menghasilkan permukaan tiga dimensi. Karya ini juga membutuhkan sekitar 240 jam pengerjaan.
Sementara Capucines BB Holiday membawa sisi Haring yang lebih bebas dan penuh warna. Terinspirasi dari gambar yang dibuat Haring di Napoli pada 1983, komposisi manusia dan lumba-lumba diterjemahkan menggunakan teknik leather marquetry. Potongan-potongan leather disusun secara berlapis, dengan penggunaan calfskin, ostrich dan karung leather yang memberikan perbedaan tekstur sekaligus kedalaman visual.
Namun, mungkin salah satu cerita paling menarik datang dari Capucines MM Genesis dan Valisette Genesis. Keduanya berangkat dari sebuah koper leather Louis Vuitton dari era 1930-an yang kemudian dipersonalisasi Keith Haring pada 1984. Haring menggambarkan Radiant Baby dengan motion lines di permukaan koper tersebut—sebuah objek yang akhirnya menjadi artefak dari pertemuan antara sejarah Louis Vuitton dan kultur seni New York era 1980-an.

Empat dekade kemudian, kisah koper tersebut berlanjut. Objek aslinya kembali muncul dalam koleksi womenswear Louis Vuitton Cruise 2027 karya Nicolas Ghesquière yang dipresentasikan di New York, sebelum kemudian menjadi inspirasi bagi dua desain baru dalam Artycapucines VIII.
Interpretasi yang lebih playful hadir melalui Capucines BB Figures dan Capucines Mini Symbols. Dancing Figures Haring diterjemahkan menjadi elemen seperti charms berbentuk perhiasan, sementara Running Heart, Skateboarder dan Mr. Boombox muncul sebagai figur enamel berukuran mini. Pada beberapa bagian, garis hitam khas Haring bahkan tidak berhenti pada permukaan leather, tetapi diteruskan menuju hardware dan handle sehingga batas antara gambar dan konstruksi tas menjadi semakin samar.
Ada pula Nano Capucines Dancer Hug, sebuah interpretasi yang lebih subtil. Dibuat dari black crocodile leather, figur penari Haring ditempatkan langsung ke dalam struktur signature LV. Figur tersebut membentuk huruf “L” yang kemudian seolah memeluk huruf “V”. Sebuah gesture sederhana yang secara visual mempertemukan identitas Louis Vuitton dengan bahasa artistik Haring.
Koleksi ini memperlihatkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kolaborasi antara fashion house dan seniman. Artycapucines VIII memperlakukan tas sebagai medium untuk menerjemahkan karya seni ke dalam bahasa craftsmanship. Garis yang awalnya dibuat secara spontan di atas kanvas atau ruang kota kemudian harus dipikirkan kembali melalui leather, benang, beads, enamel, metal dan teknik pengerjaan tangan.

Itulah daya tarik utama Artycapucines. Louis Vuitton tidak berusaha menjadikan karya Keith Haring terlihat lebih “luxury”. Sebaliknya, craftsmanship digunakan untuk mempertahankan energi dan karakter visual Haring, sambil memberi bentuk baru pada medium yang berbeda.
Artycapucines VIII – The Keith Haring Artycapucines Collection terdiri dari 13 interpretasi dalam edisi terbatas, dan akan tersedia di butik Louis Vuitton di seluruh dunia mulai 1 Januari 2027.


