Ada perjalanan yang tujuannya adalah tempat. Ada pula perjalanan yang justru menemukan maknanya di sepanjang jalan.
Louis Vuitton Dolomites Classic Run 2026 adalah sebuah perjalanan yang bertujuan ke sebuah tempat tapi juga menemukan maknanya di sepanjang perjalanan. Berlangsung pada 1 hingga 4 September 2026, perjalanan ini membawa 22 mobil klasik istimewa dari Venice, melintasi lanskap Dolomites, hingga mencapai Monza. Sebuah perjalanan sejauh kurang lebih 600 kilometer yang mempertemukan dunia otomotif klasik, seni, arsitektur, heritage, dan craftsmanship dalam satu rangkaian pengalaman.
Bagi Louis Vuitton, perjalanan bukan sekadar berpindah dari satu titik ke titik lain. Sejak awal berdirinya Maison pada 1854, perjalanan telah menjadi bagian penting dari identitasnya. Gagasan mengenai Art of Travel kemudian berkembang jauh melampaui koper dan luggage, menjadi sebuah cara untuk melihat dunia—dengan rasa ingin tahu, kreativitas, dan perhatian terhadap detail.
Melalui Dolomites Classic Run, filosofi tersebut diterjemahkan ke dalam dunia mobil klasik.

Sebuah Grand Tour di Era Modern
Dimulai di Venice, perjalanan ini membawa para kolektor dan mobil-mobil mereka menuju Villa Pisani di Stra, salah satu villa bersejarah paling indah di daratan Venesia. Dari sana, rute bergerak menuju Dolomites, melewati jalur pegunungan, jalan berliku, dan lanskap dramatis yang menjadi bagian dari pengalaman perjalanan itu sendiri. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Monza, rumah bagi Temple of Speed, sebelum ditutup di Castello Sforzesco, Milan.
Formatnya pun bukan perlombaan kecepatan biasa. Sebagai regularity race, para peserta dinilai berdasarkan presisi dan ketepatan waktu. Driver dan navigator harus menjaga kecepatan yang telah ditentukan dengan akurasi tinggi, menjadikan konsentrasi, koordinasi, dan pemahaman terhadap mobil sama pentingnya dengan kemampuan mengemudi.
Di sinilah karakter mobil-mobil yang berpartisipasi menjadi semakin menarik.
Para Ikon di Atas Jalan

Sebanyak 22 mobil klasik dari koleksi-koleksi terkemuka hadir dalam perjalanan ini. Di antaranya terdapat Bentley 8 Litre Vanden Plas, Bugatti Type 51 Grand Prix, Mercedes-Benz 380 Special Roadster, Ferrari 250 GT Zagato, Ferrari 250 GT SWB Spyder California, Ferrari 400 Superamerica, Lamborghini Miura P400, hingga Ferrari 365 GTS4 Daytona Spyder Prototype.
Mobil-mobil tersebut bukan sekadar benda koleksi. Masing-masing membawa sejarahnya sendiri—tentang kompetisi, desain, coachbuilding, restorasi, dan para pemilik yang mempertahankan warisan otomotif tersebut hingga hari ini.
Louis Vuitton menempatkan mobil-mobil ini dalam konteks yang lebih luas: sebagai bagian dari sejarah perjalanan dan evolusi manusia dalam bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Hubungan itu bukan sesuatu yang baru bagi Maison.
Ketika Louis Vuitton Bertemu Dunia Otomotif

Pada 1897, Georges Vuitton menciptakan Auto Trunk, sebuah trunk dengan desain yang disesuaikan dengan kebutuhan perjalanan menggunakan mobil. Beberapa tahun kemudian, pada 1905, hadir Sacs Chauffeur, sebuah trunk berbentuk lingkaran yang dirancang untuk ditempatkan pada ruang roda cadangan kendaraan.
Pada masa ketika mobil masih menjadi simbol modernitas dan petualangan, Louis Vuitton telah melihat kemungkinan baru dari sebuah perjalanan. Luggage tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan barang, tetapi menjadi bagian dari pengalaman berkendara itu sendiri.
Dolomites Classic Run seolah membawa kembali semangat tersebut ke masa kini.
Bedanya, jika dahulu perjalanan menggunakan mobil merupakan bentuk eksplorasi menuju sesuatu yang belum dikenal, hari ini perjalanan tersebut menjadi sebuah perayaan terhadap sejarah yang telah terbentuk.
Heritage yang Bergerak
Yang membuat Dolomites Classic Run terasa berbeda adalah bagaimana Louis Vuitton tidak memisahkan otomotif dari kebudayaan.
Sepanjang perjalanan, Maison bekerja sama dengan sejumlah institusi budaya dan bangunan bersejarah Italia. Di Villa Pisani, Louis Vuitton mendukung refurbishment dan sistem pencahayaan baru untuk Sala di Bacco. Di Venice, hubungan dengan Fondazione MUVE telah mendukung restorasi lebih dari 200 karya seni dari koleksi museum-museum yang berada di bawah MUVE sejak 2013. Sementara di Monza, Louis Vuitton mendukung restorasi jam bersejarah dan fasad sayap barat Villa Reale.
Perjalanan ini dengan demikian tidak hanya melewati heritage Italia. Ia juga ikut mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungannya.
Pada akhirnya, luxury dalam konteks ini bukan hanya mengenai objek yang langka. Ia juga berbicara mengenai kemampuan untuk mempertahankan sesuatu yang bernilai dan memastikan warisan tersebut dapat terus dilihat oleh generasi berikutnya.
Victory Travels in Louis Vuitton

Perjalanan berakhir dengan sebuah simbol kemenangan.
Untuk Dolomites Classic Run 2026, Louis Vuitton menugaskan seniman Sabine Marcelis untuk menciptakan trophy yang diproduksi oleh rumah kaca seni Italia, Venini. Trophy tersebut diperkenalkan di Venice dan kemudian dibawa sepanjang perjalanan menggunakan Louis Vuitton Trophy Trunk.
Tradisi Trophy Trunk sendiri telah menjadi bagian dari sejarah Louis Vuitton sejak 1988, ketika Maison mulai menciptakan trunk khusus untuk melindungi dan membawa berbagai trophy paling bergengsi di dunia.
Dari FIFA World Cup hingga Ballon d’Or, America’s Cup hingga berbagai kompetisi tenis, gagasan “Victory Travels in Louis Vuitton” mempertemukan craftsmanship dengan dunia olahraga dan pencapaian.
Dalam Dolomites Classic Run, filosofi tersebut menemukan bentuk yang sangat natural: sebuah trophy melakukan perjalanan bersama para peserta, melewati jalan yang sama, sebelum akhirnya tiba di Milan.
Dari Classic Cars Menuju Era Formula 1
Monza menjadi titik temu antara masa lalu dan masa depan.
Pada 4 September, mobil-mobil peserta melakukan parade di Autodromo Nazionale di Monza, salah satu sirkuit paling ikonik dalam sejarah motorsport, bertepatan dengan pembukaan Formula 1 Italian Grand Prix 2026.
Momentum tersebut sekaligus memperlihatkan hubungan baru Louis Vuitton dengan dunia Formula 1. Melalui kemitraan global selama 10 tahun yang dimulai pada musim 2025, Maison membawa savoir-faire dan bahasa visualnya ke dalam dunia motorsport modern, termasuk melalui pembuatan Trophy Trunk khusus untuk setiap Grand Prix.
Dari Auto Trunk pada 1897 hingga trophy di podium Formula 1, benang merahnya tetap sama: perjalanan, craftsmanship, performance, dan kemenangan.
The Road Becomes the Destination
Pada akhirnya, Louis Vuitton Dolomites Classic Run 2026 bukan hanya tentang mobil-mobil langka atau sebuah rute indah di Italia.
Ia adalah interpretasi modern terhadap Grand Tour—sebuah perjalanan yang mengajak seseorang untuk menikmati bukan hanya tujuan akhir, tetapi juga jalan menuju ke sana.
Venice, Dolomites, dan Monza menjadi tiga bab dalam sebuah cerita yang lebih besar: tentang bagaimana sebuah Maison yang lahir dari perjalanan terus menemukan cara baru untuk merayakan perjalanan itu sendiri.
Karena mungkin, dalam dunia luxury yang semakin menghargai pengalaman daripada kepemilikan, kemewahan paling istimewa bukanlah sekadar memiliki mobil klasik.
Melainkan memiliki kesempatan untuk mengendarainya, melintasi Italia, bersama sejarah yang ikut bergerak di sepanjang jalan.


