Ada cara lain untuk menjelajahi Indonesia selain berpindah pulau, bagaimana itu? Duduk di meja makan dan membiarkan rasa bercerita. Itulah gagasan yang kembali dihadirkan The Westin Resort Nusa Dua, Bali melalui Travelogues of the Archipelago Chapter Two, sebuah perjalanan gastronomi yang kali ini membawa kekayaan kuliner Minangkabau ke tepian selatan Bali. Berlangsung pada 21 dan 22 Agustus 2026 di Ikan Restaurant & Bar, pengalaman ini mempertemukan Chef Fernando Sindu dari Salira Jakarta dengan Chef Raviel Sidik dalam sebuah perjamuan yang merayakan West Sumatra melalui rempah, teknik memasak perlahan, dan resep yang diwariskan lintas generasi.
Semangat Travelogues of the Archipelago
Setelah debut pertamanya, Travelogues of the Archipelago kembali dengan semangat yang sama: membaca Indonesia melalui makanan. Setiap chapter mengambil satu wilayah, satu tradisi, dan satu cerita gastronomi untuk kemudian diterjemahkan ke dalam pengalaman bersantap yang lebih kontemporer. Untuk chapter kedua, giliran Minangkabau mendapatkan panggung. Sebuah pilihan yang terasa tepat, mengingat kuliner Sumatra Barat bukan sekadar soal rasa pedas dan rempah yang berani, melainkan juga tentang identitas, sejarah, teknik, serta cara sebuah komunitas menjaga warisan melalui makanan.
Pahami Tempat dan Kebudayaan ala Chef Fernando Sindu
Di balik interpretasi menu kali ini adalah Chef Fernando Sindu, yang akrab disapa Nando. Lulusan Culinary Institute of America ini pernah mengasah pengalaman kulinernya di New York sebelum kembali ke Indonesia dan memimpin Salira Jakarta, restoran pertama The Union Group yang sepenuhnya mengangkat masakan Indonesia. Perjalanannya menyusuri berbagai wilayah Nusantara membentuk pendekatan yang menarik: menghormati keaslian bahan dan tradisi, namun tidak terjebak dalam nostalgia. Filosofi tepo seliro, atau empati, menjadi salah satu fondasi cara Nando melihat makanan—sebagai medium untuk memahami tempat, manusia, dan kebudayaan.
Karakter Kuliner Chef Raviel Sidik
Di Ikan Restaurant & Bar, Chef Fernando berkolaborasi dengan Chef Raviel Sidik, Head Chef yang selama ini membangun karakter kuliner restoran melalui interpretasi modern terhadap kekayaan pesisir Indonesia. Pertemuan keduanya menghasilkan menu à la carte yang mempertemukan karakter Minangkabau dengan suasana coastal Bali. Ada Kaleo Domba Muda, Ikan Bakar dengan Saus Asam Padeh, rangkaian Rendang Series, Itiak Lado Mudo Bukittinggi, hingga Udang Bakar Pariaman. Masing-masing membawa aksen rasa yang kuat, dari pedas dan aromatik hingga kedalaman rasa yang lahir dari proses memasak yang sabar.


Minangkabau di Bali
Yang menarik, pengalaman ini tidak mencoba mengubah Minangkabau menjadi sesuatu yang asing. Justru kekuatannya terletak pada bagaimana cita rasa tradisional diberi ruang untuk berbicara dalam konteks baru. Rendang, misalnya, bukan sekadar hidangan ikonik yang sudah mendunia, tetapi representasi dari ketekunan, penguasaan teknik, dan hubungan masyarakat dengan rempah. Begitu pula asam padeh, itiak lado mudo, dan udang bakar membawa cerita geografis masing-masing—dari dataran tinggi Bukittinggi hingga pesisir Pariaman—sebelum akhirnya bertemu dengan lanskap laut Bali.
Ikan Restaurant & Bar
Pilihan lokasi di Ikan Restaurant & Bar juga memberi dimensi tersendiri. Menghadap panorama Samudra Hindia dengan atmosfer santai khas garis pantai selatan Bali, restoran ini menjadi semacam titik temu antara dua lanskap kuliner: Sumatra Barat yang kaya rempah dan Bali yang identik dengan budaya pesisir. Di sinilah Travelogues of the Archipelago terasa lebih dari sekadar program makan malam. Ia menjadi perjalanan lintas pulau tanpa harus meninggalkan meja, sebuah cara untuk memahami bahwa keragaman gastronomi Indonesia sesungguhnya seluas bentang kepulauannya.
Dua Malam di The Westin Resort Nusa Dua, Bali
Untuk dua malam saja, 21–22 Agustus 2026, para tamu The Westin Resort Nusa Dua, Bali dapat menikmati Chapter Two dari Travelogues of the Archipelago secara eksklusif di Ikan Restaurant & Bar. Di antara suara ombak, angin laut, dan aroma rempah yang perlahan memenuhi ruang, Minangkabau hadir bukan sebagai sekadar destinasi kuliner, tetapi sebagai cerita tentang Indonesia yang terus hidup di dalam piring. Dan mungkin, seperti perjalanan terbaik lainnya, yang dibawa pulang bukan hanya rasa kenyang, melainkan sebuah pemahaman baru tentang negeri yang begitu luas—satu hidangan pada satu waktu.

