Kata gotong-royong dapat ditemukan di mana-mana. Dalam buku pelajaran, berita, bahkan dalam pembicaraan kehidupan sehari-hari. Wajar saja karena ini adalah salah satu nilai budaya masyarakat Indonesia yang sangat penting. Gotong royong berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama.
Nilai ini diadopsi oleh Yozua Makes, Founder dan CEO Plataran, dalam menjalankan usaha hospitality tersebut bersama sang istrinya Dewi Makes. “Plataran dapat menjadi kuat karena memiliki tim yang kuat. Saya terus terang saja tidak punya pendidikan di bidang hospitality. Dalam perjalanannya sejak 2009, kami merekrut orang-orang yang kompeten di bidang ini,” ujarnya saat ditemui di suatu siang di Plataran Menteng, Jakarta.
Dengan profesi sebagai pengacara dan pendidik, Yozua dan Dewi membangun Plataran pada tahun 2009. Diawali dengan 25 karyawan, saat ini dengan 2.600 karyawan nama Plataran sudah tidak asing lagi di dunia hospitality Indonesia. Yozua mengatakan keputusannya terjun dalam dunia ini bukan karena pilihannya sendiri melainkan karena terpilih dengan sendirinya. Ia sebelumnya memiliki kekhawatirannya akan generasi penerus dalam mempertahankan identitas Indonesia. “Cara termudah, menurut kami (ia dan Dewi) adalah melalui pariwisata.”
Nama Plataran sendiri datang karena keterbiasaan. Jika dapat diandaikan, menurut Yozua, Tuhan paling suka duduk di pelataran rumahnya sambil melihat kita, manusia, sedang melakukan apa saja di dunia. Dan kata itu pun akrab di telinga kita, seperti Presiden menjamu tamu di pelataran Istana.

Jika manusia memiliki molekul berisi informasi genetik, tersusun dalam DNA (Deoxyribonucleic Acid) yang menjadi cetak biru kehidupannya, Plataran Indonesia memiliki tiga pilar yang menyusun DNA-nya. Alam, budaya, dan manusia Indonesia. Lewat pariwisata, ketiga pilar DNA tadi dapat terjaga sekaligus.
Kita ambil contoh Plataran Menjangan Resort & Spa yang berlokasi di dalam Taman Nasional Bali Barat. Penugasan Plataran saat itu adalah membangun resor yang menjaga alam. Namun Yozua memilih pendekatan dari hati ke hati terlebih dahulu. “Saya katakan yang harus kita lakukan pertama kali adalah mensejahterakan masyarakat. Jika mereka sejahtera akan mudah mengajak mereka untuk tidak menembak rusa, tidak menebang pohon sembarangan,” ujarnya. Masyarakat yang hidup di area tersebut adalah subjek bukan objek, yang sama pentingnya dengan alamnya. Yang datang berkunjung pun kemudian akan melihat masyarakat lokal berpartisipasi aktif menjaga alam tempat tinggal mereka.
Selama 16 tahun menjalankan Plataran, salah satu tantangan terbesar di bidang hospitality menurut Yozua adalah manusia yang punya visi panjang dan bagaimana mendidik mereka.“ Guru yang bagus pasti guru yang tegas. Ada yang bisa menerima, ada yang belum apa-apa sudah teler duluan,” begitu kata penyuka Udang Sriwedari, salah satu menu hidangan di restoran Plataran.
Salah satu idealisme Plataran adalah keberlanjutan. Tidak melulu bicara soal keberlanjutan yang terkait dengan lingkungan, ini juga berarti bisnis harus jalan terus. “Tandanya harus mengerti market. Dan untuk mengerti itu tidak harus mengubah identitas,” ujarnya. Ia meyakini pasti ada market niche tertentu untuk setiap jasa yang ditawarkan.
Yozua berharap visinya, yang diserap seluruh tim Plataran, membuatnya tidak lelah dan gigih untuk membangun suatu platform di bidang hospitality yang bisa berkelanjutan. Karena itu di tengah kesibukannya, jika ada waktu luang ia menghabiskannya dengan bepergian. Tapi bukan ke sembarang destinasi. Tujuan yang dimaksudkan Yozua adalah pergi ke proyek Plataran. Alasannya, karena bertemu dengan banyak orang membuatnya senang.

