Home FashionHouse of Dior Milan, Ketika Parisian Elegance Bertemu Milanese Spirit

House of Dior Milan, Ketika Parisian Elegance Bertemu Milanese Spirit

by Redaksi Luxina
0 comments
Bagikan

Dior menghadirkan sebuah rumah baru di Via Monte Napoleone, area belanja paling prestisius di Milan, yang mempertemukan karakter Parisian couture dengan arsitektur, seni, dan landscape. Dirancang oleh Peter Marino, ruang tiga lantai ini menawarkan pengalaman Dior yang lebih dekat dengan kehidupan kota.

Milan memiliki cara tersendiri dalam menerjemahkan luxury. Arsitektur, desain, seni, dan fashion berjalan beriringan, membentuk karakter kota yang tidak hanya dikenal sebagai pusat mode, tetapi juga sebagai tempat kreativitas menemukan bentuknya. Di Via Monte Napoleone, salah satu alamat paling penting dalam peta luxury Milan, Dior membuka sebuah House of Dior yang membawa karakter tersebut ke dalam pengalaman berkunjung.

Berlokasi di bangunan neoklasik dari akhir abad ke-17, House of Dior Milan menjadi pertemuan antara identitas Maison dari Paris dan karakter Milan sebagai kota fashion dan desain. Hubungan Dior dengan Italia menjadi bagian dari cerita ini, terutama melalui pendekatan yang menggabungkan French art de vivre dengan Milanese spirit.

Dirancang oleh arsitek Peter Marino, House of Dior Milan menempati tiga lantai dengan konsep yang terasa terbuka, terang, dan terhubung dengan lingkungan sekitarnya. Bukan sekadar ruang untuk melihat koleksi, boutique ini dirancang sebagai sebuah rumah yang menghadirkan berbagai sisi Dior melalui arsitektur, interior, seni, dan landscape.

Arsitektur yang Membuka Ruang untuk Dior

Dari luar, bangunan ini mempertahankan karakter historisnya melalui fasad batu, wrought-iron balconies, serta jendela tinggi dengan shutters berwarna abu-abu gelap. Kontras antara arsitektur klasik dan window display yang berwarna menjadi salah satu elemen pertama yang menarik perhatian.

Window display tersebut memiliki cerita tersendiri. Dior menggunakan fabric remnants dari Ateliers untuk menciptakan instalasi yang terinspirasi oleh taman-taman Milan. Manekin yang mengenakan koleksi Jonathan Anderson berada di antara pohon lemon, bunga, kupu-kupu, burung, dan berbagai elemen dekoratif yang membentuk sebuah landscape imajinatif. Pendekatan ini memberikan karakter yang lebih playful pada fasad bangunan. Window display tidak hanya menjadi tempat menampilkan koleksi, tetapi juga memperkenalkan suasana yang berlanjut ke dalam butik.

Peter Marino kemudian menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam interior dengan penggunaan material berwarna terang, garis desain yang sederhana, dan banyak bukaan yang memungkinkan cahaya alami masuk. Di antara Women’s dan Men’s universes, sebuah glass atrium menjadi titik penghubung yang memperlihatkan hubungan antara ruang interior dan area luar.

Karakter 30 Montaigne, alamat historis Dior di Paris, juga hadir sebagai referensi. Namun, identitas tersebut tidak diterjemahkan secara literal. House of Dior Milan membawa pendekatan yang lebih terbuka, dengan karakter arsitektur dan desain yang terasa sesuai dengan kota tempatnya berada.

Tiga Lantai, Dua Karakter Tangga

Pengalaman butik ini dibangun melalui pembagian ruang yang memiliki karakter berbeda. Ground floor menjadi titik awal yang mempertemukan koleksi tas dan aksesoris untuk perempuan maupun pria, bersama men’s ready-to-wear dan shoes. Atrium kaca, restoran, dan taman menjadi bagian dari pengalaman lantai dasar. Dari sini, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan melalui dua tangga monumental yang masing-masing memiliki pendekatan desain berbeda.

Tangga di sisi Women’s universe memadukan stone dengan wrought-iron arabesques yang memberikan karakter klasik. Karya seni kontemporer Lee Bul dan Claudia Wieser menjadi bagian dari komposisi ruang tersebut. Sementara itu, tangga di sisi Men’s universe memiliki karakter yang lebih hangat melalui penggunaan wooden wall yang dihiasi iconic white toiles. Elemen ini menjadi penghormatan terhadap keunggulan haute couture Ateliers, sekaligus menghadirkan referensi langsung kepada proses kreatif Dior.

Perbedaan kedua tangga tersebut memperlihatkan bagaimana interior House of Dior Milan tidak dibangun melalui satu bahasa desain yang seragam. Setiap bagian memiliki karakter tersendiri, tetapi tetap berada dalam satu identitas Maison. Pada lantai pertama, Women’s collections yang dirancang Jonathan Anderson ditampilkan bersama shoes, signature bags, precious editions of Lady Dior, serta high jewellery dari Victoire de Castellane.

Men’s wardrobe juga mendapatkan ruang yang lebih luas, mulai dari bespoke tailoring hingga formalwear. Fragrances dari La Collection Privée dan decorative homeware melengkapi koleksi yang tersedia. Sementara itu, lantai kedua menghadirkan suasana yang lebih tenang. Mouldings yang mengingatkan pada interior apartemen Paris menghiasi private lounges dan beauty room, menciptakan kontras dengan ruang utama yang lebih terbuka.

Seni yang Menjadi Bagian dari Interior

Salah satu karakter House of Dior Milan adalah bagaimana seni ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman ruang, bukan sekadar elemen dekoratif. Pendekatan ini memiliki hubungan dengan Christian Dior sendiri, yang memiliki ketertarikan terhadap seni dan pernah bekerja sebagai gallerist sebelum mendirikan Maison. Dan di Milan, hubungan tersebut diterjemahkan melalui berbagai karya yang tersebar di dalam boutique. Sebuah portrait Monsieur Dior karya Michelangelo Pistoletto menjadi salah satu karya yang hadir di ruang ini.

Furnitur juga memiliki peran dalam membangun karakter interior. Ginkgo Bench karya Claude Lalanne, shelving units dari Vittorio Introini, coffee table Paul Kingma, serta metal chairs karya B. G. Robinson menjadi bagian dari komposisi desain. Kehadiran karya seni dan furnitur tersebut membuat interior terasa seperti sebuah ruang koleksi. Setiap elemen memiliki identitasnya sendiri, tetapi saling terhubung melalui pendekatan desain yang dipilih Peter Marino.

Garden sebagai Bagian dari Pengalaman

Na menjadi salah satu inspirasi penting dalam House of Dior Milan. Christian Dior memiliki ketertarikan terhadap taman dan bunga, dan karakter tersebut kembali hadir melalui landscape yang dirancang Peter Wirtz. Teras, inner courtyards, dan living walls membentuk hubungan antara butik dengan ruang luar. Garden bukan sekadar pelengkap interior, tetapi menjadi bagian dari pengalaman yang berlangsung di dalam bangunan.

Melalui jendela-jendela besar, cahaya alami masuk ke berbagai area, memberikan perspektif berbeda terhadap koleksi dan interior. Hubungan antara ruang dalam dan luar juga membuat boutique terasa lebih terbuka terhadap kota. Di bagian window display, inspirasi taman Milan diterjemahkan melalui lemon trees, flowerbeds, butterflies, dan birds. Flamingo yang hadir dalam instalasi tersebut merujuk pada burung-burung yang menghuni Villa Invernizzi, salah satu kediaman khas Milan.

Elemen-elemen tersebut juga berlanjut ke dalam butik. Seekor burung hantu, squirrels, dan bear menjadi bagian dari playful menagerie yang ditempatkan di antara leather goods. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana Dior menggunakan alam sebagai benang merah untuk menghubungkan arsitektur, window display, dan interior.

Monsieur Dior, Sebuah Rumah dengan Pengalaman Gastronomi

House of Dior Milan juga menghadirkan Monsieur Dior restoran by Enrico Bartolini, yang dirancang Peter Marino sebagai bagian dari pengalaman Maison. Restoran ini memiliki suasana terang dengan light-coloured materials dan Versailles parquet flooring. Sebuah floral painting karya Francesco Clemente menjadi bagian dari interior, sementara arcades mengelilingi inner courtyard dengan graphic paving dan boxwood.

Di bawah glass roof, cahaya alami masuk ke ruang tengah, memberikan suasana yang lebih terbuka dan tenang. Enrico Bartolini membawa pendekatan gastronomi yang berakar pada tradisi Italia, dengan interpretasi terhadap simbol-simbol Dior. Konsep layering menjadi salah satu gagasan utama dalam menu, menghubungkan rasa, warna, dan tekstur dengan cara Maison membangun sebuah couture silhouette.

Kehadiran restaurant ini memperluas pengalaman House of Dior. Fashion, interior, landscape, dan gastronomi tidak berdiri sebagai elemen terpisah, tetapi menjadi bagian dari satu perjalanan di dalam Maison.

Dior dan Milan, Sebuah Pertemuan Kreatif

House of Dior Milan memperlihatkan bagaimana sebuah butik dapat menjadi ruang yang membawa identitas Maison ke dalam konteks kota yang berbeda. Karakter 30 Montaigne tetap menjadi referensi, tetapi Milan memberikan perspektif baru melalui arsitektur historis, desain kontemporer, karya seni, dan hubungan dengan landscape.

Peter Marino membangun pengalaman yang tidak hanya berpusat pada koleksi, tetapi juga pada bagaimana pengunjung bergerak, melihat, dan berinteraksi dengan ruang. Tiga lantai butik ini menghadirkan berbagai karakter, dari atrium yang terbuka hingga private lounges yang lebih intim.

Di Via Monte Napoleone, Dior tidak hanya membuka alamat baru. Maison ini menghadirkan sebuah ruang yang mempertemukan Parisian elegance dan Milanese creativity melalui arsitektur, seni, dan pengalaman yang dirancang sebagai bagian dari kehidupan kota.


Bagikan

You may also like

UA-98339383-1