Home LifestyleArt & CultureCara Merawat Tradisi dan Menciptakan Masa Depan – Pameran 13 seniman Desa Tengkulak Kaja di The Gallery Bumi Kinar Ubud

Cara Merawat Tradisi dan Menciptakan Masa Depan – Pameran 13 seniman Desa Tengkulak Kaja di The Gallery Bumi Kinar Ubud

by Syahmedi Dean
0 comments
Bagikan

Seni tidak selalu membutuhkan panggung besar untuk menyampaikan gagasan yang besar. Terkadang, kekuatan justru tumbuh dari sebuah desa, dari tangan-tangan yang terbiasa bekerja dengan tradisi, dan dari masyarakat yang memahami bahwa kebudayaan bukan benda mati. Semangat tersebut menjadi napas Ngardi’a Manu: Nak Nak Dini, Setia Mencipta, pameran yang membawa perjalanan artistik Desa Adat Tengkulak Kaja, Gianyar, ke ruang apresiasi publik di The Gallery at Bumi Kinar Ubud. Berlangsung dari 15 Oktober hingga 25 November 2026, pameran ini memperlihatkan bagaimana sebuah komunitas dapat menjadikan seni sebagai cara merawat identitas sekaligus membicarakan masa depannya.

Ketulusan dan Kesetiaan

Nama Ngardi’a Manu merujuk pada ungkapan Satyaning i manu ngardi’a budaya, yang berbicara tentang ketulusan dan kesetiaan manusia dalam membangun serta melestarikan kebudayaan. Namun, kesetiaan di sini bukan perkara mengulang bentuk-bentuk lama tanpa perubahan. Tradisi justru membutuhkan keberanian untuk terus ditafsirkan, diuji, dan dikembangkan. Ada hubungan yang menarik antara ingatan masa lalu dan imajinasi masa depan ketika para seniman mulai melihat warisan budaya bukan sebagai batas kreativitas, melainkan sebagai sumber inspirasi yang tidak pernah habis.

Tengkulak Kaja dan Seni Kerajinan Bali

Tengkulak Kaja memiliki sejarah panjang dalam dunia seni dan kerajinan Bali. Sejak era 1990-an, desa ini dikenal melalui para pematungnya, terutama karya berbentuk bebek serta berbagai produk kerajinan yang dipasarkan hingga ke luar negeri. Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana keterampilan artistik dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Seiring perubahan zaman, praktik berkesenian di desa ini semakin beragam, mulai dari seni patung, kriya, lukisan, hingga pertunjukan tradisional. Seni tidak hanya hidup dalam konteks ritual dan adat, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas produktif yang melibatkan masyarakat lintas generasi.

Eksplorasi Kreatif Visual Bali

Perkembangan lukisan pada tedung atau payung tradisional menjadi salah satu contoh menarik dari dinamika tersebut. Sejak 2017, pendekatan visualnya tidak lagi sepenuhnya terpaku pada gaya Kamasan. Para seniman dan perajin mulai mengembangkan kemungkinan artistik dengan menyerap karakter lukisan Peliatan serta tradisi visual Bali lainnya. Hasilnya adalah pertemuan antara keterampilan tradisional dan eksplorasi kreatif yang lebih luas. Perubahan ini menunjukkan bahwa identitas visual sebuah daerah dapat berkembang tanpa harus kehilangan karakter asalnya. Justru melalui proses adaptasi, tradisi memperoleh kesempatan untuk berbicara kepada generasi yang berbeda.

Getar dari Gianyar

Terletak di kawasan Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Desa Adat Tengkulak Kaja memiliki lanskap kebudayaan yang berkelindan dengan sejarah, spiritualitas, dan kehidupan agraris Bali. Kedekatannya dengan kawasan cagar budaya Bedulu serta keberadaan Pura Dalem Desa Adat Tengkulak Kaja memperlihatkan hubungan masyarakat dengan warisan leluhur. Di sepanjang jalan desa, sanggar seni dan art shop menjadi bagian dari keseharian, memperlihatkan bahwa kreativitas memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial maupun ekonomi. Keterlibatan generasi muda dalam industri kreatif juga memberikan energi baru bagi perkembangan desa yang turut menopang pariwisata Gianyar.

13 Seniman

Pameran ini mempertemukan 13 seniman dan kolektif, yakni Gusti Mangku Desa, I Wayan Sukrayasa, Adi Meindra, Wayan Werta, I Gusti Ngurah Dwi Ari Purnomo, Yoga Pranata, I Wayan Bayu Bhuwana, I Wayan Rio Kharisma, Genta Swara Wresani, Dewa Satriawan, Ngurah Windya Putra, Gusti Made Ngurah, dan BRT Official. Keragaman latar praktik mereka menghadirkan percakapan artistik yang tidak berhenti pada persoalan teknik atau keindahan visual. Bahasa Kamasan, misalnya, kembali menjadi salah satu titik penting dalam pameran, membawa cerita mitologi, nilai spiritual, ingatan kolektif, dan persoalan kehidupan ke dalam konteks seni hari ini.

Perang Bhatarayuda

BRT Official menghadirkan instalasi yang mengambil inspirasi dari narasi Dewa Iswara, Dewa Wisnu, Bhuta Kala, dan Durga. Sementara itu, I Wayan Sukrayasa mengangkat kisah gugurnya Abimanyu dalam perang Bharatayuda melalui lukisan bergaya Kamasan. Dua pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana kisah mitologi dan wiracarita tetap memiliki ruang dalam praktik seni kontemporer. Cerita yang diwariskan selama berabad-abad tidak kehilangan daya tariknya ketika diterjemahkan melalui perspektif artistik yang berbeda. Sebaliknya, ia membuka kesempatan bagi penonton untuk menemukan kembali makna keberanian, keseimbangan, pengorbanan, dan hubungan manusia dengan kekuatan spiritual.

Regenerasi dan Warisan Budaya

Persoalan regenerasi mendapat perhatian melalui Pepangkah, karya Sekaa Teruna Desa Adat Tengkulak Kaja yang terinspirasi dari mitologi Bhuta Kala dan Lontar Kala Purana. Keterlibatan kelompok pemuda desa ini menjadi bagian penting dari gagasan besar Ngardi’a Manu. Pewarisan budaya tidak cukup dilakukan melalui cerita atau dokumentasi, tetapi membutuhkan pengalaman langsung dalam proses penciptaan. Sementara itu, karya-karya bendera yang turut dihadirkan para seniman memperluas pembicaraan mengenai simbol, identitas, dan kebersamaan. Berbagai pendekatan visual tersebut menunjukkan bahwa tradisi selalu memiliki kemungkinan untuk dibaca ulang melalui pengalaman masyarakat masa kini.

The Gallery di Bumi Kinar Ubud

Ngardi’a Manu: Nak Nak Dini, Setia Mencipta pada akhirnya memperlihatkan sesuatu yang lebih luas daripada sebuah pameran seni di Ubud. Ini adalah pernyataan tentang kemampuan sebuah desa untuk membangun ekosistem kebudayaannya sendiri, melibatkan seniman, perajin, generasi muda, dan masyarakat dalam satu percakapan kreatif. Bagi siapa pun yang ingin memahami wajah seni Bali dari perspektif komunitas, pameran ini menawarkan pengalaman yang layak disimak. Kunjungi The Gallery at Bumi Kinar Ubud, Jalan Raya Goa Gajah, Kemenuh, Sukawati, Gianyar, hingga 25 November 2026. Pameran terbuka untuk umum setiap hari pukul 10.00–21.00 WITA. Sebab, kebudayaan yang hidup bukan hanya kebudayaan yang diwariskan, melainkan yang terus dikerjakan dan diciptakan bersama.


Bagikan

You may also like

UA-98339383-1