Fashion biasanya bicara tentang apa yang kita inginkan. Kali ini, ia bicara tentang apa yang dibutuhkan orang lain. Sebanyak 22 desainer Indonesia melepas ego masing-masing dan memilih satu kanvas yang sama: kemeja putih. Bukan untuk membuat lemari kita terlihat lebih mahal, melainkan untuk mengubah sebuah pembelian menjadi bantuan. DRAFT IFDC Pop-Up Store Installation, kolaborasi Indonesian Fashion Designer Council (IFDC), Senayan City dan Cotton USA, menghadirkan kemeja serta atasan putih edisi terbatas dengan harga Rp1.200.000–Rp1.999.000. Seluruh hasil penjualan akan disalurkan kepada korban gempa Nusa Tenggara Timur melalui Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Fashion, kali ini, punya urusan yang jauh lebih penting daripada sekadar terlihat bagus.

Kemeja Amal untuk Nusa Tenggara Timur
Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Flores dan NTT pada 15 Agustus lalu bukan sekadar berita yang lewat di layar ponsel. Lebih dari 100 orang kehilangan nyawa, ribuan lainnya terluka, dan kebutuhan untuk bangkit tentu tidak selesai dalam satu-dua hari. Maka ketika industri mode turun tangan, pertanyaannya bukan lagi siapa memakai apa, tetapi apa yang bisa dilakukan dari apa yang kita punya. Yosafat Dwi Kurniawan melihat DRAFT sebagai cara bagi fashion untuk memberikan nilai lebih kepada karya. Eddy Betty bahkan menyebutnya sebagai bentuk tanggung jawab yang lebih besar. Dua suara dari generasi berbeda, tetapi bertemu di tempat yang sama: kepedulian tidak harus menunggu kita menjadi sempurna.


DRAFT putih dari 22 interpretasi
Yang membuat DRAFT menarik, charity di sini tidak membuat fashion menjadi murahan secara gagasan. Justru desainnya tetap menjadi pusat perhatian. Putih diperlakukan seperti halaman kosong yang bebas dicoret oleh 22 karakter berbeda. Ada yang bermain dengan siluet, ada yang mengeksplorasi konstruksi, ada yang mengandalkan detail, dan ada yang membiarkan potongan bicara dengan tenang. Cotton USA memberikan material katun yang lembut, ringan dan nyaman, tetapi tetap memiliki struktur yang membuatnya terlihat refined. Satu warna, 22 interpretasi. Dan tidak satu pun harus terlihat seperti pakaian seragam kegiatan sosial.

DRAFT IFDC di Senayan City
Opening DRAFT pada 2 September di Lower Ground Senayan City juga jauh dari kesan fashion show yang terlalu serius. Para desainer membawa muse masing-masing, berjalan, bergaya, lalu penonton mulai memilih. Yang kemudian terjadi justru bagian paling menyenangkan: orang membeli bukan hanya karena ingin membantu, tetapi karena memang menginginkan bajunya. Para muse bahkan membeli rancangan desainer lain. Wilsen Willim tidak memilih desainnya sendiri; ia membeli kemeja karya Yosafat Dwi Kurniawan dan mengenakannya dengan effortless. Sebuah gestur kecil yang terasa sangat besar. Di sini kompetisi fashion sejenak minggir. Sesama desainer saling mendukung, saling membeli, saling memberi panggung.


Membeli Baju untuk Membantu
Dan mungkin itulah wajah fashion Indonesia yang paling menarik: bukan ketika ia sedang berusaha terlihat hebat, tetapi ketika ia tahu untuk apa kehebatannya digunakan. DRAFT IFDC Pop-Up Store berlangsung hingga 30 September 2026 di Senayan City, membawa gagasan sederhana yang justru terasa powerful: kita tetap boleh membeli baju karena suka, tetapi akan jauh lebih berarti ketika baju itu juga bisa membantu seseorang. Dua puluh dua desainer datang dengan kemeja putih. Yang mereka tinggalkan bukan sekadar koleksi, melainkan sebuah pengingat bahwa fashion punya hati—dan hati itu ternyata bisa dipakai.
















