Home FeaturesPartnersCommunityIchwan Thoha Merayakan 30 Tahun Berkarya Lewat Buku Navigasi Mode Pria

Ichwan Thoha Merayakan 30 Tahun Berkarya Lewat Buku Navigasi Mode Pria

by Syahmedi Dean
0 comments
Bagikan

Mode pria bukan sekadar urusan memilih jas yang pas, sepatu yang tepat, atau dasi yang serasi dengan warna kemeja. Di balik setiap potongan pakaian, ada sejarah, perubahan sosial, identitas, dan cara seorang pria mempresentasikan dirinya kepada dunia. Pemahaman inilah yang membuat buku referensi mode tetap relevan, bahkan ketika tren berganti secepat algoritma media sosial. Di dunia internasional, buku seperti Dressing the Man karya Alan Flusser menjadi rujukan klasik tentang seni berpakaian pria, sementara The Handbook of Style dari Esquire merangkum berbagai prinsip berpakaian dan grooming dalam perspektif editorial. Kini, melalui Navigasi Mode Pria: Kamus, Istilah, dan Referensi, Ichwan Thoha menghadirkan kontribusi dari Indonesia yang mengajak pembaca memahami busana pria lebih jauh daripada sekadar penampilan.

30 Tahun Berkarya dan Navigasi Mode Pria

Diluncurkan di Kinokuniya Grand Indonesia, Jakarta, buku ketiga Ichwan Thoha ini sekaligus menandai perayaan 30 Tahun Ichwan Thoha Berkarya di dunia mode dan pendidikan mode. Format kamus menjadi pilihan yang menarik karena pembaca dapat menelusuri beragam item mode berdasarkan urutan alfabet, lengkap dengan sketsa khas Ichwan, sejarah, argumentasi, dan storytelling di balik setiap elemen. Ada pendekatan yang terasa personal di sini: pakaian tidak diperlakukan sebagai benda mati, melainkan sebagai produk budaya yang menyimpan perjalanan gagasan, fungsi, dan selera. Dalam dunia yang semakin akrab dengan inspirasi instan dari TikTok, Instagram, dan Pinterest, buku semacam ini menawarkan sesuatu yang berbeda, yakni kesempatan untuk berhenti sejenak dan memahami mengapa sebuah item menjadi bagian penting dari sejarah gaya pria.

Buku Ekspresi Minat Mode

Bagi Ichwan, menerbitkan buku juga merupakan mimpi personal yang tumbuh bersama perjalanan profesionalnya. Ia menyebut buku sebagai ungkapan rasa syukur atas bakat, minat, keberuntungan, dan kesempatan yang diterimanya, sekaligus warisan bagi industri mode dan pendidikan mode di Indonesia. Ia juga melihat penerbitan buku sebagai cara memperkuat identitasnya sebagai akademisi, dengan istilah yang cukup jenaka dan percaya diri: tajir intelektual. Pernyataan ini terasa relevan ketika industri mode semakin dipenuhi citra, promosi, dan pergantian tren yang cepat. Sebab, seberapa jauh seseorang bisa membangun gaya personal jika ia hanya mengenali merek tanpa memahami bahasa, sejarah, dan konstruksi visual yang membentuknya? Pengetahuan bukan pengganti selera, tetapi bisa membuat selera memiliki arah dan argumentasi.

Literasi Mode

Dengan sasaran pembaca mulai dari pria yang ingin memahami penampilannya hingga mahasiswa, pengajar, sekolah mode, dan pelaku seni, Navigasi Mode Pria memiliki peluang untuk menjadi jembatan antara praktik berpakaian dan literasi mode. Kekuatan format referensi terletak pada kemudahannya untuk dibuka kembali, dibaca secara acak, lalu digunakan ketika rasa ingin tahu muncul tentang suatu item atau istilah. Ini bukan hanya soal mengetahui nama pakaian, tetapi juga memahami konteks yang membuatnya bertahan, berubah, atau kembali populer. Peluncuran buku ini turut mendapat dukungan Kinokuniya Grand Indonesia, keluarga besar HM Thoha Saleh, tim penyelenggara, para kontributor Adi Barlan, Reza Bustami, dan Aditya Pradipta Wardhana, serta sejumlah rekanan. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa sebuah buku mungkin lahir dari gagasan personal, tetapi perjalanan menuju publik selalu melibatkan banyak tangan.

Kamus, Istilah, dan Referensi

Tiga dekade berkarya memberi Ichwan Thoha alasan untuk merayakan perjalanan, sekaligus kesempatan meninggalkan sesuatu yang dapat terus dipelajari generasi berikutnya. Melalui Navigasi Mode Pria: Kamus, Istilah, dan Referensi, ia menempatkan pengetahuan sebagai bagian dari gaya hidup pria modern, berdampingan dengan rasa ingin tahu, kepekaan visual, dan keberanian membangun identitas. Di sinilah arti sebuah buku mode melampaui fungsi panduan berpakaian: ia dapat menjadi arsip, alat belajar, sekaligus pintu masuk menuju percakapan yang lebih luas tentang budaya dan kreativitas. Karena pria yang berpakaian baik belum tentu memahami mode, tetapi pria yang mau mempelajarinya memiliki lebih banyak kemungkinan untuk menemukan gaya yang benar-benar terasa miliknya.


Bagikan

You may also like

UA-98339383-1