Di tengah riuhnya dunia yang bergerak semakin cepat, Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud menghadirkan sebuah jeda yang terasa begitu bermakna. Bertajuk SAMATRA: Quiet Gestures, pameran kelompok yang berlangsung pada 25 Juli hingga 3 Oktober 2026 ini mengundang pengunjung untuk kembali memperhatikan hal-hal kecil yang selama ini nyaris tak terdengar. Bukan tentang karya yang berteriak meminta perhatian, melainkan tentang rupa bisikan-bisikan hati yang mengajak manusia mengingat kembali kedekatannya dengan alam.

SAMATRA penuh lapisan makna
Kata Samatra dalam bahasa Bali menyimpan lapisan makna yang kaya. Ia dapat berarti suguhan sederhana, sapaan singkat, sambutan yang tulus, hingga pemberian yang secukupnya. Dari pengertian yang sederhana itu tumbuh gagasan besar mengenai kehidupan: bahwa hubungan yang paling dalam sering kali lahir bukan dari kemegahan, melainkan dari perhatian yang diberikan dengan tulus. Filosofi tersebut menjadi napas utama yang menghubungkan seluruh karya dalam pameran ini.

Gerak tak terlihat tapi ada
Dikurasi oleh Gustra Adnyana, SAMATRA tidak menawarkan narasi yang bombastis. Sebaliknya, pameran ini mengajak publik membaca bahasa yang sering diabaikan dalam keseharian—gerak yang nyaris tak terlihat, keheningan yang menyimpan makna, serta tindakan-tindakan kecil yang diam-diam membentuk masa depan. Kepedulian, rasa syukur, perhatian, dan kesadaran menjadi benang-benang halus yang merangkai pengalaman artistik setiap pengunjung.

Lima seniman di BUKI Gallery
Lima seniman yang terlibat menghadirkan interpretasi yang berbeda mengenai tema tersebut. Studio Estéh mengajak audiens mempertanyakan paradoks cara berpikir manusia, menyadari bahwa setiap perspektif memiliki batasnya sendiri. Novieta Tourisia merangkai percakapan puitis antara tanah, tumbuhan, kain, dan tubuh sebagai satu siklus kehidupan yang saling menghidupi. Melalui pendekatan yang kontemplatif, karya-karyanya menghadirkan pengalaman yang terasa organik sekaligus reflektif.

Menghapus untuk mengingat
Sementara itu, Made Virgie Avianthy menelusuri bagaimana seseorang tetap hidup melalui ingatan, cerita, serta ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi. A. Jasmine menjadikan proses menghapus sebagai cara untuk mengingat, menemukan cahaya yang lahir dari ruang-ruang gelap. Adapun Dyah Ayu Wulandari mengingatkan bahwa setiap langkah manusia selalu berpijak pada bumi yang sama, sehingga setiap keputusan memiliki daya untuk menjaga kehidupan atau justru mengakhirinya.

Refleksi dari Yayasan Kinar
Pada malam pembukaan pameran, 25 Juli 2026, Wiwied Muljana, Pendiri Yayasan Kinar, membagikan refleksi yang menjadi ruh penyelenggaraan SAMATRA. Menurutnya, hidup di Bumi Kinar mengajarkan bahwa alam tidak pernah tergesa-gesa, namun selalu menghasilkan keajaiban. Sebagaimana alam bekerja dalam kesunyian, karya-karya dalam pameran ini juga lahir dari proses yang dipelihara melalui kesabaran, perhatian, dan cinta.

Keindahan yang tumbuh
Pemikiran tersebut berkembang menjadi pesan yang lebih luas. Keindahan tidak selalu hadir melalui perubahan yang dramatis, tetapi tumbuh dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Sebuah sapaan, kepedulian terhadap lingkungan, atau kesediaan merawat sesuatu dengan sepenuh hati dapat menjadi awal dari perubahan yang jauh lebih besar. Dalam konteks itulah SAMATRA menghadirkan seni bukan hanya sebagai objek untuk dinikmati, melainkan sebagai pengalaman untuk dijalani.

Pameran di resor eksklusif
Pengalaman tersebut diperluas melalui berbagai program publik yang berlangsung sepanjang periode pameran, mulai dari temu seniman, diskusi, hingga lokakarya yang menghubungkan seni dengan lingkungan serta praktik hidup sehari-hari. Seluruh rangkaian acara diselenggarakan di kawasan Bumi Kinar, resor eksklusif di Ubud yang memadukan arsitektur tradisional Bali dengan sentuhan desain modern, dikelilingi lanskap hijau yang memperkuat dialog antara karya seni dan alam.

SAMATRA: Quiet Gestures
Pada akhirnya, SAMATRA: Quiet Gestures bukan sekadar pameran seni kontemporer. Ia merupakan undangan untuk memperlambat langkah, mendengarkan keheningan, dan menyadari bahwa setiap perubahan besar selalu berawal dari isyarat-isyarat kecil yang dilakukan dengan kesadaran. Di Buki Gallery, seni menjadi jembatan yang mempertemukan manusia dengan bumi, mengingatkan bahwa masa depan yang lebih baik dibangun melalui gestur-gestur sederhana yang terus dirawat dengan kasih, perhatian, dan rasa hormat kepada alam.


