Semakin hari, semakin kita terpana dengan semakin bertambahnya desainer-desainer Indonesia yang mengemuka dengan kreatifitas berkualitas. Mereka diharapkan bisa kembali merebut pasar Indonesia yang empuk ini. Kali ini yang layak kita kasih ‘shout-out’ adalah Yosafat Dwi Kurniawan, ia baru saja melangsir “power” nya di koleksi “Après la Révolution” yang ditampilkan di The Langham Fashion Soirée 2026. Yosafat sangat cerdas, ‘ngotak’, ia meletupkan imajinasi dan wearability yang sama kuat, sejajar. Sebuah jalan tengah setapak antara creator dan consumer.

Kemana Napoleon Pergi?
“Après la Révolution” (pasca revolusi), dipetik Yosafat dari penggambaran situasi mode dan sosial setelah revolusi Prancis berakhir. Satu era peralihan dari kerajaan Prancis ke era Directoire hingga akhirnya kepemimpinan Napoleon Bonaparte kembali mengambil alih dan menjadi kekaisaran besar di Eropa dan dunia. Pada masa ini, para bangsawan Prancis merasa takut diberi label borjuis dan memilih untuk mengenakan busana yang tampak lebih sederhana dan ringan, selayaknya busana bergaya Yunani yang merupakan penggalang sistem demokrasi pertama di dunia. Namun Yosafat tidak ikut-iktan bergerak ke Yunani. Lalu kemana?

Jejak-Jejak Après la Révolution
Jejak-jejak monarki muncul pada jaket-jaket croped berdetail deret kancing keemasan dari serapan seragam tentara Raja Louis XVI. Deret kancing dibuat minimal. Lalu ada epaulet militer diletakkan pada top berbentuk cropped cape (pasti hits ini). Mood formalitas militer Prancis ini tidak berputar di tempat, dengan powerful-nya Yosafat terbang ke tahun 70an, ke era Hippies dan flower generation. Bayangkan, jaket Napoleon berkerah tinggi, lalu dibaliknya ada kemeja berkerah ruffled, dan celananya bell bottom denim.

Maskulitas dan Aksen Baroque
Maskulinitas militer disandingkan pula dengan celana-celana Hareem dengan slit tinggi di bagian depan ke dua kaki. Bayangkan ketika pemakai celana ini duduk dengan kaki menumpang, chic dan chaos, antara jaket militer dan sensualitas. Temukan juga sederetan gaun-gaun Gypsy tanpa lengan, ada yang tube dress, off shoulder, dan ada yang halter neck, semuanya polos dalam palet warna militer klasik. Yosafat tak tergoda membuat gaun-gaun ini bermotif floral, sehingga semua gaun terjaga kelasnya, dan akan mampu menampung apa pun jenis aksoserinya. Setiap dres diberi aksen metalik keemasan dari bentuk ragam hias Baroque yang penataannya ala formasi kancing militer

Pakaian Premium Yosafat
Bahan yang Yosafat gunakan adalah jersey, voile, tweed, viscose rayon, dan lyocell dengan hasil akhir yang terasa premium tetapi tetap memiliki kelembutan dan fluiditas. Pilihan viscose rayon dan lyocell dari Asia Pacific Rayon (APR) sekaligus membawa percakapan mengenai material berbasis serat alam dan keberlanjutan ke dalam fashion kontemporer. Teknologi mesin bordir mutakhir serta teknik laser cutting dari NOMATEX memperkaya permukaan busana, sementara seluruh tampilan dilengkapi aksesori dari NOMA.

Après 15 ans de création
Yang membuat koleksi ini terasa lebih personal adalah kegelisahan yang berada di belakangnya. Setelah 15 tahun berkarya, Yosafat mengaku semakin awas terhadap perubahan dunia, rasa tidak aman, masa depan, serta berbagai kekecewaan terhadap arah kemanusiaan. Maka revolusi dalam koleksi ini bukan sekadar permainan referensi sejarah. Ia adalah refleksi seorang desainer terhadap dunia yang bergerak terlalu cepat, sekaligus respons terhadap kebutuhan untuk bertahan, beradaptasi, dan terus menemukan bentuk baru.

Ajakan Eksplorasi
“Setelah 15 tahun, saya masih bisa menemukan hal menarik untuk diangkat,” ujar Yosafat yang juga dikenaI sebagai akademisi dan pengajar. Sebagai edukator pun Yosafat ingin menyampaikan bahwa, “walaupun kalian sudah punya garis rancang yang ramai dikenal, jangan pernah takut eksplorasi. Rancangan itu hanyalah sebuah bahasa, dan bahasa itu terus berkembang. Untuk apa presentasi mode bila terus menerus menunjukkan hal yang sama?” Tutup Yosafat dengan pesannya.

















