Inovasi sustainable fashion sudah dimulai oleh Ermenegildo Zegna pada koleksi winter 2019 lalu. Dan untuk koleksi winter 2020/ 2021 kali ini, yang diadakan di sebuah bekas pabrik besi diluar kota Milan, pada 10 Januari kemarin, inovasi tersebut masih tetap dilakukan. Bahkan hampir pada semua koleksi. Yang mana ini membuat Zegna menjadi pelopor sustainable di industri fashion.
Alessandro Sartori, yang memegang kendali sebagai direktur kreatif, mengatakan bahwa ini bukan lagi sebuah kampanye untuk Zegna. Tapi telah menjadi pola pikir. Menggunakan material daur ulang kini telah menjadi sebuah kebutuhan agar kesinambungan pabrik (dimana Zegna mengolah sendiri kainnya) dan ekosistemnya tetap terjaga. Koleksi yang dibuat kali ini merupakan koleksi dari berbagai pilihan serat kain daur ulang dengan hasil akhir yang prima, dan disebut sebagai new luxury fabrics 2.0. Daur ulang dalam konsep Zegna adalah memanfaatkan sisa kain yang kemudian dilebur menjadi serat sintetis. Yang mana serat tersebut diolah lagi dengan material baru dari bulu domba atau kasmir, sehingga tercipta serat benang baru.
Benang baru ini kemudian ditenun dengan mesin sehingga menghasilkan berbagai material baru, mulai dari bahan rajut hingga wool. Maka tidak heran, pada koleksi ini terlihat kaya akan berbagai tekstur halus hingga kasar.
Untuk koleksinya sendiri, Sartori yang dikenal kuat dengan desain dan potongan tailoringnya, menyuguhkan berbagai inovasi jaket dan stelan jas. Sartori mengatakan bahwa ia menantang dirinya untuk membuat koleksi klasik menjadi lebih baru. Hasilnya adalah jas dengan konsep timpang tindih atau overslagh sehingga mirip kimono dengan ikatan diluar yang menggunakan kancing bertali. Begitu juga yang menggunakan kancing. Sartori menempatkan posisi kancing depan jauh dari pinggiran jas, sehingga pada saat dikancing tampak seperti double breast dengan efek kerah kimono di dada. Dengan siluet longgar dan oversize, koleksi ini diperkaya dengan pilihan jaket bomber puffer, blouson, jumper dan coat.
Dibuat dalam gradasi warna yang sangat mahal seperti burgundy, biru cobalt, terakota dan abu-abu. Kombinasi warna yang sangat maskulin dan gaya. Ditambah dengan ragam aksesoris seperti tas kamera (yang berkolaborasi dengan kamera merek Jerman, Leica), postman bag (yes this bag is back!), tote bag, body bag dan briefcase. Yang semua terbuat dari kulit dengan bentuk yang sangat tidak biasa. Pada beberapa bagian seperti buckle ikat pinggang dan embossed logo pada crossbody bag dan motif di sweater, logo Z kembali lagi. Logo ini dibuat pertama kali pada tahun 1980 oleh grafis desainer Zegna, Bob Noorda, dan dilahirkan kembali oleh Sartori menjadi ikon yang modern.
“Saya ingin memastikan, generasi muda untuk mulai berpakaian dengan stelan jas (suit), bahkan lebih baik lagi, membantu mereka untuk menemukan material pakaian pria yang mereka (pria muda) belum pernah temukan sebelumnya. Untuk musim ini, saya menciptakan lagi waistcoat, yang bisa dipakai sendiri atau dengan stelan jas tiga potong (jas, rompi dan celana). Ini saya lakukan agar waistcoat terlihat lebih kontemporer dan modern” kata Sartori.
Untuk informasi, set runway yang digunakan pada fashion show ini juga merupakan material “pakai ulang”. Pita yang bergantungan sebagai fungsi backdrop runway dinamakan dengan “Art for Earth” kreasi seniman Amerika, Anne Petterson. Pita ini berasal dari sampah produksi di pabrik Zegna. Begitu besarnya keperdulian sustanable fashion dalam Ermenegildo Zegna, sehingga apapun yang dibuat harus berdasarkan komitmen ini. Membuktikan, brand ini bukan hanya memikirkan soal desain dan profit. Bravo!
Foto NowFashion