Di tengah trend demi trend di semesta fashion, Jabu Bonang memilih berbicara dengan bahasa yang lebih dalam, mengangkat Tenun Songket Batak dan mempertemukannya dengan keelaganan modern luxury. Koleksi ditampilkan pada Indonesia Fashion Week 2026, dengan pilihan Songket berwarna low-key. Wastra Batak yang biasanya hanya disarungkan dan disampirkan di bahu, kali di tempatkan di ranah desain eveningwear modern, memunculkan kemewahan yang lahir dari kinerja tenun tangan.

The Grand Gala Jabu Bonang
Melalui agenda BTN Prioritas: The Grand Gala, Jabu Bonang memperlihatkan kekayaan teknik Tenun Songket Batak yang lahir dari craftsmanship lebih dari 300 perajin binaan. Berbasis di Pematang Siantar, Sumatra Utara, yayasan ini membangun jejaring perajin dari berbagai wilayah Tanah Batak, mulai dari Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Dairi, Simalungun, Pulau Samosir, hingga Pematangsiantar. Setiap motif teranyam pengetahuan wastra turun-temurun yang terus dijaga agar tetap hidup di tengah dinamika industri kreatif.

Wastra Batak Kemilau
Yang membuat presentasi ini menarik adalah keberanian Jabu Bonang mengembangkan teknik songket ke dalam pendekatan yang lebih segar. Teknik penambahan benang pakan yang menghasilkan motif bertekstur dipadukan dengan inspirasi dari beragam tradisi wastra Batak, mulai dari Ulos Batak Toba, Uis Batak Karo, Oles Batak Pakpak-Dairi, Hiou Batak Simalungun, hingga Abit Mandailing dan Angkola. Pada sejumlah karya, teknik songket bahkan berdialog dengan teknik tenun ikat, melahirkan komposisi visual dimensional yang terasa modern.

Tobatenun dan Djuita
Nuansa tersebut semakin terasa ketika Tenun Songket Batak dipadukan dengan koleksi Tobatenun dan rancangan Djuita. Permainan konstruksi desain, aplikasi tekstil, serta detail dekoratif diarahkan menuju estetika yang seru. Tidak ada ornamen yang terasa off-beat, setiap elemen dihadirkan dengan harmonisasi yang menciptakan kesan anggun dan dewasa. Inilah gaya yang perlahan memikat melalui kualitas material, kecermatan teknik, dan proporsi yang nyaris arsitektural.

Tekstil Mewah dari Tanah Batak
Pilihan desain menunjukkan perubahan menarik dalam perkembangan wastra Indonesia. Tenun Batak tidak lagi hanya dipersepsikan sebagai material untuk busana seremoni tradisional, melainkan menjadi tekstil mewah yang mampu memasuki lanskap fashion global. Lewat pendekatan yang berorientasi pada kualitas, Jabu Bonang menawarkan interpretasi baru tentang kemewahan Indonesia, yang bergantung pada kedalaman cerita, keterampilan para perajin, dan nilai budaya yang melekat di setiap helai benangnya.

Ulos Simetria Indonesia Fashion Week 2026
Penampilan Jabu Bonang menjadi bagian penting dari BTN Indonesia Fashion Week 2026 yang mengusung tema “Ulos Simetria”. Tema ini membuka ruang eksplorasi bagi para desainer dan pelaku industri kreatif untuk membaca ulang warisan budaya Batak melalui pendekatan kontemporer. Di sinilah kekuatan wastra Indonesia terlihat: tradisi bukan museum yang membeku, melainkan sumber inspirasi yang terus melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru.

Yayasan Rumah Komunitas Wastra
Di balik keindahan karya tersebut, terdapat misi sosial yang menjadi fondasi Yayasan Rumah Komunitas Wastra. Sejak berdiri, Jabu Bonang menjadikan pemberdayaan perempuan sebagai bagian utama dari pelestarian Tenun Batak. Pendampingan yang diberikan tidak hanya menyentuh aspek teknis menenun, tetapi juga peningkatan kualitas produk, eksplorasi desain, penguatan kapasitas komunitas, hingga membuka akses yang lebih luas ke pasar nasional maupun internasional.

Tradisi dan Inovasi
Komitmen terhadap pelestarian juga diwujudkan melalui keseimbangan antara tradisi dan inovasi produksi. Jabu Bonang tetap mempertahankan penggunaan Alat Tenun Gedogan yang diwariskan lintas generasi untuk menghasilkan tenun berkualitas tinggi. Bersamaan dengan itu, mereka juga mengembangkan produksi menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), sehingga kain yang dihasilkan lebih adaptif untuk kebutuhan industri fesyen modern, termasuk koleksi pakaian siap pakai.

Kekayaan Botani Sumatra Utara
Langkah inovatif lainnya hadir melalui Jabu Borna, pusat riset pewarnaan alam yang dikembangkan YRKW. Dengan memanfaatkan kekayaan botani Sumatra Utara, Jabu Borna menghasilkan formulasi warna alami yang mengacu pada standar Pantone. Pendekatan ini memungkinkan konsistensi warna yang dibutuhkan industri kreatif global, sekaligus menjaga prinsip keberlanjutan yang semakin menjadi perhatian dalam dunia fesyen internasional.

Simbol Kemewahan Baru
Kehadiran Jabu Bonang di Indonesia Fashion Week 2026 menjadi pengingat bahwa masa depan wastra Indonesia dibangun melalui kolaborasi antara tradisi, inovasi, dan manusia yang menjaganya. Ketika para perajin, desainer, dan komunitas bergerak bersama, Tenun Songket Batak tidak hanya bertahan sebagai peninggalan budaya, tetapi juga tumbuh sebagai simbol kemewahan baru yang berakar kuat pada identitas Nusantara. Di panggung fesyen modern, setiap helai tenun membuktikan bahwa karya terbaik selalu lahir dari penghormatan terhadap asal-usulnya.



