Ada pergeseran tersembunyi namun tampak di produk fashion global. Setelah bertahun-tahun memuja quiet luxury yang bersih dan nyaris tanpa ekspresi, industri kini bergerak menuju sesuatu yang jauh lebih emosional: tekstur yang kaya, permukaan yang hidup, dan karya tangan yang tak mungkin digantikan algoritma. Inilah gelombang New Materialism yang tampaknmenguasai panggung Paris Fashion Week Fall/Winter 2026 kemarin. Kemewahan tidak lagi diukur dari kesederhanaan visual, melainkan dari bagaimana sebuah busana mampu menghadirkan pengalaman yang dapat disentuh dan dirasakan. Di Jakarta, arah yang sama diterjemahkan dengan sangat meyakinkan oleh SAPTO DJOJOKARTIKO melalui koleksi Fall/Winter 2026 terbarunya.
Craftsmanship dan Jeumpa Kawung
Sapto Djojokartiko membangun koleksi dengan craftsmanship tekstur tekstil yang dominan porsi. Ia memperkenalkan motif #SAPTOJOPattern Jeumpa serta painterly plaid embroidery, seiring narasi tekstil hand-beaded Kawung, bordir Yayi, dan interpretasi baru kain Songket. Setiap teknik hadir bukan sebagai dekorasi, melainkan sebagai elemen dari struktur pakaian, memperlihatkan bagaimana craftsmanship menjadi fondasi desain, bukan sekadar aksen-aksen pemanis visual.

Warna Tak Berisik
Pilihan warna Lava, Clay, Oyster, Slate, Bijou, Herb, Malaga, Armadillo, Plum, Nero, hingga sentuhan Aurum membentuk atmosfer yang tenang sekaligus berwibawa. Tidak ada kontras yang berisik. Yang muncul justru dialog antara tekstur dan volume. Proporsi panjang dipadukan dengan volume yang skulptural, sementara peplum, flounces, dan struktur yang dilunakkan menghadirkan ritme yang anggun tanpa kehilangan ketegasan. Koleksi ini menunjukkan bahwa kemewahan modern lahir dari penguasaan bentuk, bukan dari kemegahan yang berlebihan.
Tinggalkan Desain Berbasis AI
Pendekatan tersebut menjadi sangat relevan di tengah maraknya citra digital dan karya desain pakaian berbasis AI. Ketika gambar dapat diproduksi dalam hitungan detik, kehadiran tangan manusia justru menjadi nilai yang paling berharga. Sapto Djojokartiko memulai setiap koleksi melalui riset, sketsa, dan eksperimen material sebelum memasuki atelier. Setiap tekstil dikembangkan bersamaan dengan siluet yang akan dihuni, menciptakan hubungan organik antara kain dan bentuk. Inilah esensi New Materialism: material bukan lagi medium pasif, melainkan elemen utama yang membangun identitas sebuah busana.

Jejak Tangan Manusia
Melalui Fall/Winter 2026, SAPTO DJOJOKARTIKO tidak sekadar mengikuti arah baru mode global, tetapi membuktikan bahwa tradisi kriya Indonesia memiliki relevansi yang semakin kuat dalam lanskap fashion internasional. Saat banyak orang mulai jenuh terhadap estetika minimalis yang terasa seragam dan mudah direplikasi AI, koleksi ini menawarkan sesuatu yang jauh lebih bernilai: kesabaran, konsistensi, serta jejak tangan manusia yang tertinggal di setiap jahitan. Di era ketika teknologi mampu menciptakan gambar sempurna, justru ketidaksempurnaan yang lahir dari proses manual menjadi definisi baru sebuah kemewahan.

