Barangkali manusia terlalu rumit untuk dilukis sebagai manusia. Mungkin itulah mengapa Ade Habibie memilih kera. Melalui 35 lukisan dalam pameran The Monkey Spirit di Blue Karma (BK) Creative Hub, Seminyak, ia mengubah primata menjadi potret paling jujur tentang ambisi, kekuasaan, ego, kerentanan, dan harapan yang terus dibawa manusia sepanjang hidupnya. Pameran yang berlangsung pada 19 Juni hingga 31 Agustus 2026 ini bukan hanya menyajikan karya-karya figuratif yang ekspresif, melainkan juga mengajak setiap pengunjung bercermin pada naluri yang sering kali berusaha disembunyikan.

Kera dan Jaket Merah
Salah satu karya yang paling memikat menghadirkan seekor kera mengenakan jas bergaris merah (pinstripe jacket), kemeja hijau, dasi bermotif bunga, serta mahkota kecil berwarna kuning. Di tangan kanannya tergenggam seikat bunga aster, sementara tangan kirinya mengangkat sebuah botol dengan tekstur yang mengingatkan pada lanskap urban. Ade menyusun simbol-simbol yang tampak akrab itu menjadi sebuah narasi visual tentang prestise, pencitraan, dan absurditas kehidupan modern tanpa harus menjelaskan apa pun secara verbal.

Contemporary Figurative Art
Bahasa visual Ade Habibie tumbuh dari semangat contemporary figurative art yang diperkaya energi neo-ekspresionisme. Goresan hitam yang spontan, sapuan kuas yang liar, tekstur cat berlapis, hingga distorsi anatomi figur menghadirkan kesan mentah yang justru terasa hidup. Ada resonansi estetika yang mengingatkan pada semangat Jean-Michel Basquiat maupun George Condo, tetapi Ade tidak sedang menapak jejak keduanya. Ia membangun identitas visual yang lahir dari persilangan seni rupa, musik, desain, budaya jalanan, dan pengalaman hidupnya sendiri.

Karakter Kera
Pilihan warna merah bata, hijau mint, kuning terang, merah muda, serta hitam pekat menciptakan benturan visual yang berani. Di sinilah nuansa Pop Surrealism menemukan momentumnya. Mahkota, jas formal, dan karakter kera hidup dalam satu ruang yang sama, menghasilkan humor visual yang terasa ringan sekaligus menyimpan kritik sosial yang tajam. Semakin lama dipandangi, semakin jelas bahwa tokoh-tokoh tersebut bukan sedang memerankan binatang, melainkan manusia.

Formalitas Satir
Satir menjadi denyut yang menghidupi hampir seluruh karya dalam pameran ini. Kera-kera Ade tampil sebagai bangsawan, pemimpin, atau figur yang seolah memiliki kuasa, tetapi ekspresi mereka justru memperlihatkan kegamangan. Mata yang setengah terpejam, wajah yang ambigu, serta gestur yang sengaja dibiarkan kasar menjadi sindiran terhadap formalitas, hierarki sosial, dan sandiwara kejayaan yang kerap dipentaskan dalam kehidupan sehari-hari. Kemewahan hadir, tetapi kebahagiaan tidak selalu ikut menyertainya.


Bittersweet tapi Playful
Menariknya, kritik tersebut tidak pernah terasa pahit. Kehadiran bunga aster, warna-warna pastel, dan ritme sapuan kuas yang bebas justru menghadirkan energi yang menyenangkan. Ade menciptakan keseimbangan antara humor dan kegelisahan. Karya-karyanya tampak playful, tetapi menyimpan lapisan emosi yang bittersweet. Ada kegembiraan yang mengembang di permukaan, sementara di bawahnya tersimpan kelelahan, kesepian, dan keraguan yang sangat manusiawi.

Konflik Ego dan Sukacita
Melalui karakter-karakter simpanse itu, Ade Habibie merefleksikan berbagai ketegangan sosial dan politik yang membentuk kehidupan hari ini. Gestur mereka berbicara mengenai ambisi, dominasi, konflik, ego, hingga naluri untuk bertahan hidup. Namun, bukannya menghakimi, Ade memilih membuka ruang kontemplasi. Di balik kekacauan, ia percaya kesadaran masih mungkin ditemukan, dan harapan selalu memiliki ruang untuk tumbuh. Ade sendiri mengatakan bahwa setiap karakter mewakili naluri yang sering disembunyikan manusia; ambisi, rasa takut, ego, sukacita, kasih sayang, hingga kontradiksi yang hidup berdampingan dalam diri setiap orang. Melalui figur-figur tersebut, ia ingin menciptakan ruang refleksi, tempat publik dapat membaca dunia sekaligus menemukan bagian paling personal dari dirinya sendiri.

Ekspresi Positif
Namun ada pengalaman lain yang sama menariknya. Jika pengunjung memilih untuk tidak membaca teks kuratorial dan hanya mengandalkan respons visual, melalui pendekatan yang bisa disebut sebagai The Nugget Test, kesan pertama yang muncul justru penuh kegembiraan. Lukisan-lukisan Ade memancarkan energi yang bebas, optimistis, dan menghidupkan ruang. Setiap karya memiliki daya untuk menghadirkan suasana yang kocak dan positif. Kritik sosialnya baru perlahan muncul setelah mata mulai menelusuri setiap detail, setiap simbol, dan setiap lapisan cat yang membangun narasinya.

Visual dan Audio
Sebagai seniman multidisiplin yang berbasis di Bali, Ade Habibie memiliki praktik kreatif yang melintasi seni rupa, musik, desain, fashion, dan budaya populer. Lulusan Fine Arts dari Valparaiso University, Amerika Serikat, serta Audio Engineering dari SAE Institute Amsterdam ini telah berkolaborasi dengan berbagai merek internasional seperti Adidas Originals, Oakley, Royal Enfield, Ducati, Dita Eyewear, Obey, hingga Wrangler. Pengalaman lintas disiplin tersebut membentuk bahasa visual yang cair, dinamis, dan sangat relevan dengan lanskap seni kontemporer saat ini.


Blue Karma Creative Hub
Melalui The Monkey Spirit, BK Creative Hub kembali mmenjadi wadah ruang kreatif independen yang mempertemukan seni, komunitas, dan publik dalam pengalaman yang intim. Berlokasi di Jl. Plawa Gg. Melati No. 2, Seminyak, Bali, ruang ini tidak hanya menghadirkan pameran, tetapi juga lokakarya, diskusi seniman, pertunjukan, hingga berbagai program budaya yang memperluas akses terhadap seni kontemporer Indonesia. Pada akhirnya, The Monkey Spirit bukan sekadar pameran tentang kera. Ia adalah potret tentang kita yang sedang menertawakan diri kitaa sendiri, dan mungkin, untuk pertama kalinya, berani mengakuinya.



