Ada satu momen ketika sebuah tas berhenti menjadi sekadar benda mewah, ketika kuas menyentuh kulitnya dan mengubah permukaan yang sebelumnya sempurna menjadi sebuah kanvas personal. Di Paris, tradisi leather hand-painting telah lama menjadi bagian dari dunia bespoke luxury, terutama di kawasan atelier Le Marais hingga Rue Saint-Honoré. Cat akrilik atau enamel khusus ditorehkan dengan presisi untuk menciptakan monogram, garis personal, bahkan ilusi trompe-l’œil, tanpa menghilangkan karakter material kulit. Sebuah benda produksi massal pun memperoleh sesuatu yang tak bisa dibeli dari etalase: identitas.

Leka memulainya di Jakarta
Tradisi tersebut menemukan gema yang menarik di Jakarta melalui Leka Putra, seorang visual artist sekaligus luxury artisan painter yang menjadikan tas dan aksesori sebagai medium ekspresi. Kiprahnya telah membawanya berkolaborasi dengan nama-nama luxury seperti Dior, Max Mara, dan Tumi, termasuk pengalaman mengikuti program In-House Luxury Artisan Painter/Expert Advisor Louis Vuitton Indonesia. Kini, Leka mengembangkan bisnis bersama tim kecilnya, mengerjakan painting on luxury bags, live sketching untuk berbagai acara, hingga painting workshop. Di sebuah arena yang masih sangat spesifik di Indonesia, pendekatannya terasa seperti pekerjaan seorang pemain tunggal yang memahami betul bahwa detail sekecil apa pun dapat mengubah persepsi terhadap sebuah objek.

Styloz di atas Luxury Leather Goods
Menariknya, perjalanan Leka selama empat tahun terakhir juga bertaut erat dengan Styloz. Sebagai luxury artisan painter yang sangat mengandalkan karakter warna, Leka menemukan kecocokan dengan cat Styloz dan kemudian dipercaya menjadi brand ambassador. Hubungan tersebut kini berkembang menjadi sesuatu yang lebih personal melalui Styloz x Leka Putra, koleksi warna yang dikurasi dan dikembangkan langsung berdasarkan colour palette milik sang seniman. Ini bukan sekadar kolaborasi komersial, tetapi semacam pemindahan DNA artistik Leka ke medium yang dapat disentuh dan digunakan oleh lebih banyak orang.

Leka Putra dan 12 Warna
Ada 12 pilihan warna dalam koleksi Styloz x Leka Putra, masing-masing membawa nuansa dan karakter berbeda yang merefleksikan sensibilitas visual sang seniman. Warna bagi Leka bukan sekadar elemen dekoratif; ia adalah perangkat untuk membangun mood, kedalaman, ritme, sekaligus cerita. Dari sebuah tas luxury yang dilukis tangan hingga sebuah eksperimen visual di atas kanvas, pilihan warna dapat menjadi titik awal dari perjalanan kreatif yang sangat personal. Di sinilah koleksi ini menjadi menarik: Leka tidak hanya membagikan paletnya, tetapi juga membuka pintu menuju cara melihat warna.


Warna Leka di Slow Luxury
Dalam lanskap luxury yang semakin menghargai personalisasi, kehadiran leather painting memperlihatkan bagaimana craft kembali memperoleh tempat penting dalam budaya kontemporer. Barang mewah tidak lagi selalu berbicara tentang logo atau kelangkaan produksi, tetapi tentang hubungan emosional antara objek dan pemiliknya. Leka Putra berada di wilayah tersebut—di antara seni, craftsmanship, fashion dan slow luxury—ketika sebuah tas dapat berubah menjadi artefak personal dan sebuah warna dapat menjadi bagian dari memori seseorang. Koleksi Styloz x Leka Putra kini tersedia melalui official marketplace Styloz di Tokopedia, TikTok Shop, Shopee, dan Blibli.

Ruang Ekspresi Luxury
Mungkin masa depan personalisasi memang akan semakin berwarna. Ketika semakin banyak orang berani memperlakukan benda yang mereka miliki sebagai ruang untuk berekspresi, sebuah tas, sepatu, koper, atau sekadar selembar kanvas dapat menjadi awal dari cerita yang sama sekali baru. Dari atelier Paris hingga studio kecil di Jakarta, seni memberi kita kemungkinan untuk melihat kembali benda-benda sehari-hari dengan mata yang lebih imajinatif—dan Leka Putra, bersama palet 12 warnanya, seperti sedang mengajak kita membuka pintu itu, satu sapuan kuas demi satu sapuan warna.




Karya-karya Leka Putra di atas kanvas.

