Lama tak terdengar namanya, perupa Prajna Dewantara, muncul di ajang perayaan menjelang usia 500 tahun Jakarta, berjudul Jakarta PROVOKE! 2026, sebuah pameran seni rupa yang mempertemukan gagasan, identitas, dan kreativitas para perupa Jakarta. Prajna menampilkan tiga lukisan yang benar-benar memprovokasi mata dan batin. Melontarkan karya narasi visual yang sangat intens, teatrikal, dan sarat akan dualitas psikologis. Menggabungkan elemen mitologi klasis dengan estetika surealisme modern, karya ini mengeksplorasi tema pembebasan, dominasi kekuasaan, dan pergulatan eksistensial.

Akrilik dan cat minyak di atas kanvas 110cm x 150cm
2026
Mitologi dalam Bahasa Kontemporer
Prajna menjadikan sosok centaurette, sebagai pusat komposisi. Figur mitologis ini hadir dengan tubuh atletis yang bergerak menuju cahaya kosmis, menghadirkan gambaran tentang pembebasan, keberanian, dan transformasi diri. Dalam tradisi mitologi klasik, centaur adalah kuda berbadan pria, sebagai simbol tarik menarik antara naluri dan rasionalitas. Melalui pendekatan surealisme modern, Prajna mengubah simbol tersebut menjadi centaurette, kuda berbadan wanita, sebagai metafora tentang manusia yang berusaha melampaui keterbatasan batinnya dan menemukan kebebasan yang sejati.

Akrilik dan cat minyak di atas kanvas 110cm x 150cm
2026
Pertarungan Cahaya dan Bayangan Menjadi Narasi Psikologis
Pada lukisan berjudul “The Tender Brutality of Liberation”, emosi kuas Prajna begitu melesat dan menggetarkan namun terkontrol. Perhatikan pada bagian bawah kanvas, tiga figur menyerupai iblis bertanduk muncul dari balik kabut dengan nuansa biru dingin. Kehadiran mereka menghadirkan simbol ketakutan, trauma, dan bayangan masa lalu yang akan membayangi dan dihadapi siapa saja, terutama wanita. Namun posisi sang centaurette yang menjulang di bawah sorotan cahaya memperlihatkan kemenangan atas belenggu luka. Kontras visual ini bukan sekadar pertarungan antara tokoh protagonis dan antagonis, tetapi ungkapan kisah tentang keberanian menghadapi sisi tergelap masa lalu.
Palet Warna Sinematik
Kekuatan lain karya Prajna terletak pada permainan warna yang sangat ekspresif. Magenta, merah muda, dan ungu mendominasi tubuh centaurette dan langit di sekitarnya, menciptakan atmosfer spiritual yang hangat sekaligus megah. Sebaliknya, biru elektrik dan cyan mengisi ruang para monster, menghadirkan kesan dingin dan sunyi. Perjumpaan dua spektrum warna tersebut menghasilkan kedalaman visual yang mengingatkan pada pencahayaan sinematik, membuat setiap elemen terasa hidup, berlaga, sekaligus dramatis. Polesan gradasi Prajna cukup mencengangkan, mengingatkan pada gerak emosi kuas pelukis Lucia Hartini. Mengingat Lucia Hartini sudah berpulang, senang sekali ada Prajna yang melesat ke permukaan.

Akrilik dan cat minyak di atas kanvas 110cm x 150cm
2026
Realisme dan Surealisme
Eksekusi teknis Prajna memperlihatkan penguasaan anatomi yang matang. Tubuh manusia dan tubuh kuda menyatu secara proporsional dengan detail otot yang memberikan kesan tenaga yang sedang mencapai puncaknya. Kabut yang menyelimuti latar dikerjakan dengan teknik yang lembut sehingga menciptakan ilusi ruang yang dalam. Pendekatan ini membuat lukisan terasa monumental, seolah menjadi potongan adegan dari sebuah epos yang sedang berlangsung.
Jakarta PROVOKE! 2026 dan Ekosistem Seni Rupa
Mochamad Miftahulloh Tamary dari Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta menegaskan bahwa Jakarta PROVOKE! 2026 merupakan bagian dari langkah besar menuju Jakarta sebagai kota global berbudaya. Pameran ini menjadi ruang bagi para perupa Jakarta untuk menghadirkan gagasan artistik sekaligus membuka akses literasi seni kepada masyarakat. Kehadiran pemerintah bersama Yayasan Artpora Jakarta PROVOKE!, para seniman, kurator, moderator, dan narasumber memperlihatkan komitmen bersama dalam membangun ekosistem seni rupa yang semakin kuat dan berkelanjutan.

Refleksi Masa Depan Jakarta
Lukisan Prajna tidak berhenti sebagai pencapaian estetika. Karya ini menjadi refleksi mengenai keberanian menghadapi masa lalu, membangun identitas, dan menatap masa depan dengan keyakinan baru. Sejalan dengan semangat Jakarta PROVOKE! 2026, karya tersebut menunjukkan bahwa seni mampu menjadi medium yang mempertemukan sejarah, imajinasi, dan harapan. Di tengah transformasi Jakarta menuju kota global berbudaya, karya Prajna berdiri sebagai simbol bahwa kekuatan sebuah kota juga dibangun oleh kemampuan gerak tangan warganya melalui lukisan, untuk mengajak berpikir, berkarya, dan menciptakan makna.
Kampus Prajna Dewantara
Prajna lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) dari program studi Sarjana Seni Rupa dengan konsentrasi Seni Lukis. Kini ia tinggal dan berkarya dari studionya di Tangerang Selatan, Banten. Karya-karyanya dikenal melalui sofistikasi teknik realisme yang dibangun lewat penguasaan neo-chiaroscuro, menghadirkan permainan dramatis antara warna-warna psikedelik yang mencolok, cahaya, dan bayangan untuk memperkuat intensitas emosional setiap komposisi. Keimanan, resiliensi, dan pemberdayaan menjadi tema-tema utama yang terus hadir dalam praktik artistiknya, diperkaya oleh penggunaan metafora visual yang memperluas lapisan makna dan menghadirkan kedalaman interpretasi pada setiap karya.

