Wajah adalah benda paling akrab sekaligus paling gampang mengecoh. Kita baru melihatnya beberapa detik, tetapi otak sudah sibuk membuat cerita bahwa orang itu ramah, dingin, galak, kaya, lelah, familiar, atau entah kenapa terasa seperti pernah dikenal. Kita melakukan hal yang sama di media sosial, di kafe, di bandara, bahkan ketika sedang menunggu lampu merah. Semakin belia usia kita, semakin banyak kita mencarai jawaban pada wajah sekian banyak orang. Mungkin untuk mencari rasa aman, atau cinta kasih, atau kegembiraan. Mungkin ini juga yang terjadi pada seniman muda, Rajata Hakim, 22 tahun, yang memaparkan wajah-wajah dalam pameran tunggalnya “TERLIHAT/TERASA”, di Artsphere Gallery Jakarta, 29 Agustus–27 September 2026.


150 Potret Wajah Orang Asing
Para pengunjung pameran menyaksikan sebanyak 150 potret orang asing yang dipamerkan, mereka tergelak, berbisik, sembari membahas wajah-wajah tersebut. Dengan keberisikannya mereka tampak sedang memperhatikan wajah-wajah ciptaan Rajata tersebut, namun kalau diperhatikan dengan seksama dengan mata batin, justru wajah-wajah ciptaan Rajata tersebutlah yang tengah memperhatikan pengunjung, diam, seksama, tanpa berkedip. Satu ironi di dalam ruang seni rupa.

Energi Dinamis dan Raw Impulse
Tarikan kuas dan gestur emosional Rajata dalam lukisan ini adalah penggerak utama karakter semua wajah. Kuas bergerak cepat tanpa ragu, meninggalkan jejak stroke yang terlihat tegas dan jujur. Rajata tidak berusaha memperhalus atau menyembunyikan sapuan warnanya, melainkan membiarkan tekstur dan arah garis menciptakan ritme visual yang penuh energi dinamis, spontan, raw impulse. Garis-garis tegas berwarna pekat berfungsi sebagai kerangka struktural yang menahan dinamika warna cerah di sekitarnya. Formulasi tarikan warna terang yang kerap didampingi dengan warna gelap adalah pemberi bobot emosional yang pekat dan menghujam.


Mata di Antara Kecamuk
Kalau kita perhatikan 150 wajah yang terpampang, dengan kebiasaan kita memandang wajah-wajah fotografi berfilter, mungkin kita cenderung menjadi apatis, pusing dengan tarikan kuas Rajata yang agresif dan cadas. Namun kalau kita bisa menenangkan diri dan tak terpengaruh dengan gerak tangan Rajata, alihkan fokus pada semua bola mata pada wajah di atas kanvas, kita akan temukan pancaran sinar mata yang tenang dan lembut di antara kecamuk kuas. Mata-mata yang mempertanyakan kehidupan, tidak melotot, tidak pula mengantuk. Mata yang melihat, mata yang merasakan dan menyaksikan kehidupan dengan pasrah.

Siapa yang berhak mendeskripsikan wajah orang lain?
Pameran ini menjadi lebih dari sekadar parade wajah. Ia adalah pertanyaan tentang siapa yang berhak melihat, mencatat, dan mendeskripsikan orang lain. Sebuah potret bisa tampak seperti saksi mata, tetapi pengamatan tidak otomatis menjadi kebenaran absolut. Rajata mengajak kita bertanya, kalau kita merasa mengenal seseorang hanya dari wajahnya, sebenarnya siapa yang sedang kita baca? Orang itu, atau prasangka dan pengalaman kita sendiri? “Saya tidak berkarya untuk menuntaskan suatu pengalaman atau melindunginya dari kemungkinan menghilang. Saya berkarya untuk tinggal bersamanya cukup lama hingga kompleksitasnya dapat dikenali—sekaligus menyisakan ruang bagi orang lain untuk menemukan sesuatu dari dirinya sendiri di dalam karya tersebut,” ujar Rajata.

Multidisipliner Rajata Hakim
Rajata Hakim, seniman multidisipliner yang berbasis di Jakarta, bekerja melalui seni lukis dan tulisan dengan ketertarikan pada arsip, memori, kegembiraan, keintiman, serta kerentanan manusia. Bersama kurator Melissa Sunjaya dalam perannya sebagai Artist-in-Residence di Tulisan, praktik ini bergerak dari pertanyaan personal menuju pengamatan terhadap orang lain, lalu kembali menjadi semacam rekonstruksi memori kolektif. Setelah menempuh pendidikan di Tanglin Trust School (Singapura), ia mempelajari seni rupa selama satu tahun di University of British Columbia (Kanada), tempat ia meraih predikat Dean’s List.

Emosi Perjalanan Waktu
Saat ini, ia menempuh pendidikan di BINUS University (Indonesia) sembari ikuti Artist-in-Residence di Tulisan. Ia juga pernah mewakili Indonesia dalam cabang olahraga bola basket dan beberapa kali meraih penghargaan MVP. Persinggungan unik antara disiplin atletik dan intuisi kreatif ini turut membentuk praktik profesionalnya, yang dilandasi oleh fokus, ambisi, serta kepekaan terhadap pengalaman interaksi manusia. Sebagai audiens, rasanya tak sabar menunggu perjalanan waktu, melihat perkembangan Rajata ke depan nanti. Apakah semua emosi gerak keras tangannya akan menguasai kanvas? Atau, apakah ketenangan pancaran bola mata wajah-wajah ciptaanya akan mendominasi dan menenteramkan kanvas? Atau, apakah gerak tangan dan pancaran mata-matanya akan berimbang?


