“Proyek ini menunjukkan kepada saya apa yang bisa Anda capai ketika Anda menempatkan perempuan dan alam pada keputusan utama yang Anda ambil”, Rolex Awards Laureate Riadini-Flesch.
Saat ini kita sudah masuk ke fase dimana kata “sustainable” sudah terlalu sering dipakai sampai kehilangan bobotnya. Green sudah menjadi estetika, bukan lagi aksi dan keputusan sistem. Padahal inti dari sustainability seharusnya sederhana: kemampuan kita untuk mengembalikan nilai. Nilai yang dianut oleh Rolex lewat Perpetual Planet Initiative. Ke bumi, ke air, ke pengetahuan dan ke manusia yang membuat sesuatu terjadi. Dan salah satu studi kasus paling kuat, terjadi bukan di Paris, bukan pula di Copenhagen atau Tokyo. Tapi di desa-desa di pulau Jawa dengan jenama SukkhaCitta. Yang mana pendirinya adalah Denica Riadini-Flesch, salah satu peraih Rolex Awards pada tahun 2023 lalu. Yang mana Luxina berkesempatan mengunjungi pada beberapa waktu lalu.
Yang dilakukan para petani mereka bukanlah farming tunggal seperti industri kapas pada umumnya. Mereka menanam kapas berdampingan dengan tanaman lain, atau secara tradisional disebut Tumpang Sari.Ini ilmu regeneratif dari para Ibu dan generasi terdahulu yang dihidupkan kembali: tanaman saling mendukung, bukan saling berebut nutrisi. Ekosistem pulih. Lahan kembali hidup. Produktivitas naik karena alam bekerja bersama, bukan dipaksa melawan.

Saat banyak petani Indonesia berpindah ke komoditas lain yang dianggap lebih cepat menghasilkan, SukkhaCitta menawarkan jalan berbeda: membayar layak untuk menjaga agar kapas tradisional tetap hidup. Denica bangga dengan pendekatan tradisional yang diadopsi SukkhaCitta. “Yang terbaik adalah ini bukan teknologi baru yang mewah. Ini adalah kearifan lokal yang telah terbukti dan dipraktikkan di Indonesia selama beberapa generasi.” Sistem ini bukan charity tapi restoration of value.
Di craft school mereka, Rumah SukkhaCitta, saya menemukan fakta yang tidak banyak terjadi di brand fashion manapun: usia rata-rata pengrajin batik turun dari usia 60 tahun menjadi 28 tahun. Yang artinya, generasi baru kembali masuk dan mengerjakan teknik tradisional ini. Mereka tidak hanya karena bangga akan budaya, tapi karena ini bisa jadi penghidupan.
Yang Jarang Dibahas Oleh Dunia Luxury: Continuity of Knowledge

Warisan hanya bisa bertahan ketika ia bernilai untuk hidup — bukan hanya bernilai sebagai dekorasi gala atau museum.Natural dye yang mereka gunakan pun bukan gimmick “eco dye”. Daun indigo SukkhaCitta ditanam bersama 20 jenis tanaman lain di bawah pohon kopi, diproses dengan fermentasi air hujan — dan ini mencegah lebih dari 3 juta liter limbah kimia masuk sungai Indonesia sejak SukkhaCitta berdiri.
Angka-angka seperti ini perlu masuk percakapan di ranah luxury, karena luxury masa depan bukan hanya soal tampilan dan bukan pula semata clean aesthetic. Luxury adalah seberapa besar kita bisa menikmati sesuatu tanpa menghancurkan masa depan orang lain yang tidak hadir dalam showroom atau runway.
SukkhaCitta Menjadi Blueprint

Bahwa luxury Indonesia tidak perlu mengejar reputasi global house, karena kita memiliki jalur kita sendiri: luxury yang pulihkan. Dan farm-to-closet mereka hanya sekedar bukan slogan tapi realitas yang menghubungkan kembali manusia — tanah — craft — dan value.
Dan inilah definisi luxury paling relevan di dekade ini: sustainability sebagai kemampuan mengembalikan nilai.
The Rolex Award
Penghargaan yang diterima Denica Riadini-Flesch selanjutnya akan mendukung tiga elemen baru proyeknya: pembelian lahan tambahan untuk pembangunan gedung baru bagi 30 pengrajin tambahan, renovasi sekolah membatik dan penyempurnaan lebih lanjut dalam pengajaran keterampilan membatik di empat desa, dan pengembangan aplikasi yang akan mendigitalkan pengetahuan pertanian regeneratif untuk membantu usaha sosial ini menjangkau lebih banyak perempuan di komunitas terpencil.


