Didirikan di Madrid pada tahun 1846 sebagai kolektif pengrajin kulit, Loewe merupakan salah satu maison mewah tertua di dunia yang masih aktif hingga kini. Reputasinya dibangun dari keahlian leathercraft Spanyol yang sangat tinggi, bahkan jauh sebelum banyak rumah mode Prancis mendominasi industri luxury modern. Inilah asal mula dari Loewe yang kita kenal saat ini.
Tahun ini, Loewe merayakan hari jadi yang k 180 tahun, dan ini bukan sekadar angka bagi sebuah rumah mode. Tapi adalah rentang waktu yang cukup panjang untuk menyaksikan lahirnya telepon, ditemukannya lampu pijar, dua perang dunia, pendaratan manusia di bulan, hingga revolusi digital yang mengubah cara manusia hidup dan berbelanja.
Ketika merayakan ulang tahunnya yang ke-180 ini, LOEWE mengingatkan publik akan fakta sederhana namun mengesankan: rumah mode ini sudah ada bahkan sebelum sebagian besar penemuan modern yang kini dianggap biasa. Bukan sekadar sebuah merek yang bertahan melewati zaman, LOEWE adalah saksi hidup dari bagaimana keterampilan manusia dapat melampaui perubahan teknologi, politik, dan budaya.

Pada awal berdiri tahun 1846 di Madrid oleh sekelompok pengrajin kulit, LOEWE lahir jauh sebelum konsep luxury fashion seperti yang kita kenal saat ini terbentuk. Cita-cita para pengrajin saat itu hanya ingin menyambung hidup dan meneruskan keahlian orang tua dan nenek moyang. Tidak ada runway, tidak ada influencer, tidak ada kampanye digital. Yang ada hanyalah tangan-tangan terampil yang bekerja dengan kesabaran, presisi, dan penghormatan terhadap material yang disediakan oleh alam.
Dari sebuah bengkel kecil di jalan berbatu Madrid, LOEWE tumbuh menjadi salah satu rumah mode mewah tertua di dunia. Namun kisahnya tidak pernah semata-mata tentang pertumbuhan bisnis. Sejak awal, identitasnya dibangun di atas hubungan yang intim antara manusia dan kerajinan tangan.
Pada 1872, seorang pedagang asal Jerman bernama Enrique Loewe Roessberg menyatukan kolektif para artisan tersebut di bawah satu nama: Loewe. Nama itulah yang kemudian berkembang menjadi simbol keunggulan kerajinan kulit Spanyol. Tiga dekade kemudian, pada 1905, rumah ini memperoleh penunjukan sebagai pemasok resmi Kerajaan Spanyol, sebuah pengakuan yang mengukuhkan reputasinya sebagai standar tertinggi dalam craftsmanship.

Namun jika sejarah menjadi satu-satunya modal, mungkin LOEWE hanya akan menjadi catatan kaki dalam buku sejarah fashion. Yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya untuk terus menemukan makna baru dari warisan yang dimilikinya.
Selama bertahun-tahun, banyak rumah mode heritage memilih merayakan masa lalu. LOEWE justru memilih berdialog dengannya. Warisan tidak diperlakukan sebagai artefak yang harus dipajang di museum, melainkan sebagai sumber inspirasi yang terus hidup. Filosofi inilah yang terasa kuat dalam perayaan 180 tahunnya.
Sebuah kampanye yang dipotret oleh Talia Chetrit menampilkan sejumlah figur lintas generasi dan disiplin, mulai dari Julia Garner, GISELLE, Salma Abu Deif, Kara Wai, hingga legenda Hollywood Sissy Spacek dan seniman Kara Walker. Mereka tampil bersama tas-tas yang menjadi penanda perjalanan kreatif LOEWE selama beberapa dekade: Flamenco, Puzzle, dan Amazona. Ketiganya mewakili cara berpikir yang berbeda, namun berbicara dalam bahasa yang sama. Bahasa konstruksi. Bahasa material. Bahasa keterampilan.

Namun di antara semuanya, Amazona memiliki makna yang sangat simbolis. Pertama kali diperkenalkan pada 1975, tas ini lahir pada masa transformasi sosial di Spanyol. Saat semakin banyak perempuan memasuki ruang profesional, publik, dan sipil, Amazona hadir sebagai simbol kebebasan baru, kemandirian, dan rasa percaya diri. Untuk ulang tahun ke-180, tas tersebut diinterpretasikan kembali oleh direktur kreatif baru, Jack McCollough dan Lazaro Hernandez, melalui Amazona 180.
Pilihan ini terasa penting karena menunjukkan bahwa bagi LOEWE, perayaan bukan tentang nostalgia. Sebaliknya, ulang tahun menjadi kesempatan untuk melihat kembali fondasi yang telah dibangun, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa yang relevan bagi masa kini.
Lalu, setelah 180 tahun, apa sebenarnya LOEWE? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana sebuah label fashion. LOEWE tentu menjual tas, pakaian siap pakai, aksesori, dan benda-benda luxury lainnya. Namun yang sesungguhnya dijual oleh rumah ini adalah penghormatan terhadap proses penciptaan.
Hal itu terlihat dari dedikasinya terhadap leather craft, dari keberadaan LOEWE Foundation yang didirikan pada 1988, hingga Craft Prize yang kini menjadi salah satu penghargaan kerajinan kontemporer paling prestisius di dunia. Melalui berbagai inisiatif tersebut, LOEWE secara konsisten mengangkat artisan sebagai tokoh utama, bukan sekadar pelaksana di balik layar.

Di era ketika banyak brand luxury membangun nilai melalui eksklusivitas dan visibilitas logo, LOEWE menawarkan sesuatu yang lebih subtil. Mereka mengajak kita untuk melihat bagaimana sebuah objek dibuat, siapa yang membuatnya, dan mengapa keterampilan manusia masih relevan dalam zaman yang semakin otomatis. Mungkin itulah alasan mengapa LOEWE terasa berbeda.
LOEWE bukan sekadar rumah mode Spanyol dan buka pula hanya spesialis kulit luxury. Ia bahkan bukan hanya sebuah heritage brand berusia 180 tahun. LOEWE adalah rumah kerajinan yang menjadikan imajinasi sebagai alat dan craftsmanship sebagai bahasa. Sebuah maison yang memahami bahwa kemewahan sejati tidak lahir dari kemegahan semata, melainkan dari kualitas yang mampu bertahan melewati waktu. Dan setelah hampir dua abad, nilai itu tampaknya tidak pernah berubah.


