Koleksi aksesori wanita Hermès spring-Summer 2026, maison asal Prancis ini kembali membuka arsip, menengok dunia yang selama hampir dua abad menjadi sumber inspirasinya: dunia berkuda. Namun alih-alih menghadirkan nostalgia, Hermès mengolah simbol-simbol tersebut menjadi bahasa desain yang ringan, modern, dan relevan bagi perempuan masa kini. Mungkin ini juga membawa keburuntungan untuk siapapun yang ber-Shio kuda.
Koleksi ini bergerak di antara dua kutub identitas Hermès yang paling kuat. Di satu sisi, terdapat warisan equestrian yang menjadi fondasi rumah mode tersebut sejak didirikan sebagai pembuat perlengkapan berkuda pada abad ke-19. Di sisi lain, terdapat kemampuan Hermès untuk menyederhanakan bentuk hingga mencapai esensi yang paling elegan. Hasilnya adalah rangkaian perhiasan yang tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga sebagai objek desain yang membawa cerita.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah lini Tonnerre, yang hadir dalam bentuk kalung dan anting. Siluet kepala kuda tampil sebagai elemen utama, diterjemahkan melalui garis-garis bersih dan proporsi yang nyaris grafis. Material logam berlapis lacquer dalam warna New Rouge H—warna khas yang identik dengan identitas visual Hermès—memberikan karakter yang tegas sekaligus halus.
Di tangan Hermès, kepala kuda tidak tampil sebagai simbol literal. Ia menjadi sebuah bentuk abstrak yang cukup subtil untuk dikenakan sehari-hari, namun tetap menyimpan referensi yang kuat terhadap DNA maison tersebut. Pendekatan inilah yang selama bertahun-tahun menjadikan Hermès berbeda: kemampuan mengubah simbol warisan menjadi desain kontemporer tanpa kehilangan makna aslinya.

Narasi arsip juga berlanjut melalui keluarga Chaîne d’H. Terinspirasi oleh motif rantai yang tersimpan dalam koleksi historis Hermès, desain ini menginterpretasikan ulang bentuk curb chain klasik melalui detail khas H Nautique. Material tanduk alami dipadukan dengan logam, menghadirkan kontras antara kehangatan organik dan presisi pengerjaan logam.
Penggunaan tanduk bukan sekadar pilihan estetika. Setiap potong memiliki warna dan pola yang berbeda, menjadikan setiap kalung maupun anting sebagai karya yang unik. Di tengah industri mode yang semakin mengarah pada produksi massal, sentuhan individual seperti ini justru menjadi kemewahan yang sesungguhnya.

Kemudian hadir Jockette Necklace, yang mungkin menjadi representasi paling jelas dari dialog antara tradisi dan modernitas. Menggabungkan logam dan kulit, kalung ini mengambil inspirasi langsung dari perlengkapan berkuda. Motif tapal kuda tampil sebagai aksen utama, terkadang dalam bentuk yang eksplisit, terkadang melalui interpretasi yang lebih abstrak dan feminin.
Keunggulan desainnya terletak pada fleksibilitas. Panjang liontin dapat disesuaikan sehingga mudah beradaptasi dengan berbagai gaya busana dan siluet leher. Sebuah detail sederhana yang menunjukkan bagaimana Hermès memahami kebutuhan perempuan modern tanpa mengorbankan estetika.
Melihat keseluruhan koleksi, Hermès tampaknya tidak sedang berusaha menciptakan perhiasan yang spektakuler dalam arti yang paling mudah dipahami. Tidak ada permainan volume yang berlebihan, tidak ada dekorasi yang agresif. Sebaliknya, maison ini memilih jalan yang lebih sunyi: menghadirkan objek-objek yang berbicara melalui proporsi, material, dan memori budaya.
Kekuatan terbesar Hermès bukan sekadar kemampuannya membuat produk luxury. Kekuatan itu terletak pada konsistensi menjaga hubungan antara masa lalu dan masa depan—antara pelana kuda yang pernah menjadi awal segalanya dan perempuan kontemporer yang mengenakannya hari ini dalam bentuk sebuah kalung, anting, atau liontin yang tampak sederhana, namun sarat makna.


