Ada masa ketika (jam tangan) luxury identik dengan kompleksitas, dengan lapisan demi lapisan detail yang menunjukkan kemampuan manusia menaklukkan material, teknologi, dan estetika. Namun di tahun 2026 ini, Audemars Piguet justru mengajak kita bergerak ke arah yang berlawanan: kembali kepada hal-hal yang esensial.
Melalui peluncuran Royal Oak Concept Flying Tourbillon Limited Edition, rumah horologi asal Le Brassus tersebut menggandeng dua figur kreatif lintas disiplin yang selama dua dekade terakhir membentuk percakapan budaya global: Yoon Ahn dan Verbal, duo pendiri label fashion AMBUSH. Hasilnya bukan sekadar kolaborasi antara dunia jam tangan dan fashion, melainkan sebuah refleksi tentang waktu, energi, dan identitas kreatif yang terus bergerak.

Pada pandangan pertama, jam tangan berdiameter 38,5 mm ini tampak sederhana. Case titanium yang ringan dan futuristis membungkus dial aventurine hitam yang berkilau seperti langit malam. Namun di tengah komposisi yang tenang itu, sebuah elemen merah menyala langsung mencuri perhatian: flying tourbillon pada posisi pukul enam.
Warna merah tersebut bukan keputusan estetika semata. Bagi Verbal, merah merepresentasikan inti bumi—sumber energi yang terus berdenyut dan menjadi awal dari segala perhitungan waktu. Sebuah simbol yang sangat personal sekaligus universal. Tourbillon merah itu menjadi jantung visual dari jam tangan ini, sebuah titik fokus yang mengingatkan pemakainya untuk kembali kepada pusat, kepada apa yang benar-benar penting.

Pendekatan tersebut terasa selaras dengan filosofi desain Yoon Ahn. Selama kariernya, Yoon dikenal karena kemampuannya menyaring kompleksitas menjadi bentuk yang bersih, tajam, dan relevan. Dalam proyek ini, ia dan Verbal tidak berusaha menambahkan lebih banyak elemen. Sebaliknya, mereka memilih menghilangkan distraksi.
Pilihan tersebut tercermin pada konstruksi dial yang sebagian terbuka. Bukannya memamerkan seluruh mekanisme secara agresif, Audemars Piguet menghadirkan arsitektur terbuka yang terukur. Pengguna diajak melihat aliran energi dari mesin Calibre 2982, memahami bagaimana waktu bekerja, dan menikmati keindahan mekanik yang biasanya tersembunyi.

Di sinilah kolaborasi ini menemukan kedalaman yang jarang muncul dalam proyek-proyek lintas industri. Ia tidak berhenti pada pertukaran logo atau bahasa visual, tetapi berkembang menjadi dialog tentang makna. Audemars Piguet memang memiliki sejarah panjang dalam membangun percakapan lintas disiplin. Bagi manufaktur yang berdiri sejak 1875 ini, kreativitas tidak pernah hidup dalam ruang tertutup. Dunia musik, seni, desain, hingga budaya populer telah lama menjadi bagian dari ekosistem yang memperkaya identitas mereka.
Kemitraan dengan Yoon dan Verbal memperluas tradisi tersebut. Keduanya dikenal sebagai figur yang mampu bergerak bebas di antara luxury fashion, street culture, musik, dan desain kontemporer. Melalui AMBUSH, mereka membangun bahasa kreatif yang menolak sekat-sekat konvensional dan lebih memilih substansi daripada tren sesaat. Karena itu, tidak mengherankan jika hasil kolaborasi ini terasa begitu natural.

Royal Oak Concept sendiri merupakan kanvas yang tepat untuk eksperimen semacam ini. Pertama kali diperkenalkan pada 2002 untuk merayakan 30 tahun Royal Oak, koleksi ini lahir sebagai laboratorium inovasi Audemars Piguet. Terinspirasi oleh dunia concept car, Royal Oak Concept selalu menjadi ruang bagi material baru, komplikasi avant-garde, dan pendekatan desain yang melampaui tradisi.
Edisi terbaru ini melanjutkan semangat tersebut dalam format yang lebih ringkas dan inklusif. Diameter 38,5 mm membuatnya nyaman dikenakan oleh berbagai ukuran pergelangan tangan, sementara sistem interchangeable strap yang pertama kali hadir pada ukuran ini memberikan fleksibilitas karakter. Pilihan strap karet hitam dan merah memungkinkan pemiliknya berganti suasana tanpa mengubah identitas dasar jam tangan.
Namun daya tarik terbesar tetap berada di balik dial. Calibre 2982, mesin hand-wound yang dikembangkan khusus untuk edisi terbatas sebanyak 150 unit ini, merupakan evolusi dari Calibre 2964. Dengan cadangan daya hingga 72 jam, mesin tersebut menampilkan flying tourbillon yang melayang tanpa penyangga bagian atas, menciptakan ilusi visual yang memukau sekaligus menunjukkan tingkat keterampilan horologi yang sangat tinggi.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Audemars Piguet, sangkar tourbillon aluminium tersebut diberi pelat atas anodisasi merah. Sebuah detail kecil yang menjadi identitas kuat seluruh proyek.
Ilaria Resta, Chief Executive Officer Audemars Piguet, menyebut kolaborasi ini sebagai cara baru melihat arsitektur Royal Oak Concept. Melalui perspektif Yoon dan Verbal, mekanisme waktu tidak hanya menjadi instrumen teknis, tetapi juga medium ekspresi kreatif yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai yang lebih mendasar. Pada akhirnya, Royal Oak Concept Flying Tourbillon Yoon & Verbal bukanlah jam tangan tentang luxury yang berteriak. Ia justru berbicara dengan nada yang lebih tenang.


