Menghadiri undangan A Night of Wax and Gold dari La Maison Diptyque memberi pengalaman baru yang menggabungkan seni, wangi-wangian, dan imajinasi dalam satu perayaan penuh kehangatan. Koleksi Holiday 2025 ini menghadirkan dunia magis yang terinspirasi dari semangat fantastis Saint-Germain-des-Prés, tempat di mana seni, imajinasi, dan aroma berpadu menjadi pengalaman multisensori yang memikat. Bertempat di Cartéa Books & Bistro, Gandaria, acara ini sengaja dibuat intimate—membawa para tamu seolah memasuki sebuah cerita musim dingin di Paris.

Diptyque kembali merayakan musim liburan dengan menghidupkan dongeng modern yang penuh kehangatan dan sentuhan surealis. Tahun ini, kisah Archibald sang kucing menjadi pusat cerita. Seekor kucing kecil yang cerdas, penuh rasa ingin tahu, dan menjadi pengantar bagi para tamu untuk memasuki pengalaman sensorial antara lilin, wangi pinus, dan narasi puitis yang membawa kita jauh dari keseharian.

Acara yang digelar pada Kamis, 4 Desember 2025 ini dikembangkan sebagai bentuk apresiasi Diptyque kepada para penikmat aroma dan seni. Luxina pun menjadi bagian dari momen tersebut, merasakan langsung bagaimana parfum, lilin, sastra, dan seni visual diolah menjadi satu pengalaman yang disebut Diptyque sebagai “holiday enchantment”.
Nalam Ketika Cerita Menjadi Nyata
Shahnaz Soehartono—penulis, pembawa acara, dan model—membawakan sesi storytelling yang menghidupkan cerita A Night of Wax and Gold. Dalam narasi yang bersumber dari karya Victor Pouchet, para tamu diajak masuk ke empat babak kisah:

Chapter 1
Diptyque mengajak kita ke malam bersalju di Paris di mana toko buku kecil menjadi tempat segala keajaiban bermula. Seorang bookseller, seekor kucing nakal, dan sebuah pine cone berkilau yang dipenuhi wax—semua menjadi simbol awal dari musim yang penuh kehangatan.
Chapter 2
Di sinilah Archibald, sang kucing literat namun canggung, memicu transformasi surreal pada kota. Paris perlahan berubah menjadi hutan musim dingin yang mempesona.
Chapter 3
Kisah ini membawa kita bertemu karakter-karakter penuh rasa penasaran, menggambarkan bagaimana keajaiban seringkali bersembunyi di balik hal-hal sederhana.
Chapter 4
Archibald kini bermain petak umpet, muncul di butik-butik Diptyque, seolah menyapa para pencinta wewangian yang mencari sentuhan imajinasi di musim liburan.
Cerita ini adalah undangan untuk memasuki dunia fantasi, sebuah dongeng modern yang hanya Diptyque mampu bangun melalui aroma, ilustrasi, dan cahaya lilin.
Pernyataan Para Penggiat Industri di Tengah Keajaiban
Indri Utari, Brand Manager Diptyque Indonesia, membuka acara dengan penuh antusias. “Tahun ini Diptyque membawa kita ke dunia imajinasi dan keajaiban. Sebuah modern fairy tale tentang Archibald, kucing kecil penuh rasa ingin tahu yang mengubah wax menjadi gold. Kisah inilah tema utama koleksi musim dingin kali ini.”

Sementara itu, Lia Amelia, Country Manager Luxasia Indonesia, menyampaikan bahwa konsep acara memang dipersiapkan lebih dekat dan hangat. “Sesuaikan dengan arahan brand, suasana yang intimate sangat penting, dan Cartéa Books & Bistro menjadi lokasi sempurna untuk menghadirkan atmosfer tersebut.”
Kehadiran para tamu, para penggiat seni, media lifestyle, dan komunitas parfum menjadikan sore itu terasa penuh apresiasi dan percakapan artistik.
Sapin: Signature Gift Set yang Jadi Sorotan
Salah satu highlight acara adalah Sapin Seasonal Scented Candle, lilin edisi terbatas yang menjadi ikon musim dingin Diptyque. Dengan finishing mewah bertatah manual, Sapin menawarkan aroma evergreen yang hangat—seakan menciptakan suasana hutan pinus yang baru ditebang.

Label putih dan emasnya menampilkan huruf-huruf menari khas Diptyque yang bersatu dengan ilustrasi pohon pinus, menciptakan kesan puitis sekaligus festive. Lilin ini tak hanya menghadirkan keharuman musim dingin, tetapi juga membawa elemen visual yang menghidupkan narasi A Night of Wax and Gold.
Trio Seniman di Balik Cerita
Kisah dan koleksi ini diciptakan oleh tiga seniman yang mencerminkan semangat tiga pendiri Diptyque:
- Victor Pouchet, penyair kontemporer yang menulis kisah musim dingin
- Vincent Puente, ilustrator dan pemilik toko buku yang menciptakan visual surreal nan humoris
- Inès Mélia, seniman multidisiplin yang membuat objek seni puitis, menjadikan cerita hadir secara nyata melalui material dan bentuk
Melalui perpaduan narasi, ilustrasi, dan objek seni, konsep holiday Diptyque terasa semakin utuh—menjadi perayaan yang tidak hanya indah secara visual, namun juga menggugah rasa dan imajinasi.
Ketika Musim Liburan Menjadi Sebuah Perayaan Seni
Diptyque Holiday 2025 mengajak kita kehilangan diri dalam dongeng modern yang memadukan seni, aroma, dan cahaya. Semua detail—dari kisah Archibald hingga Sapin Candle—menciptakan sebuah perjalanan yang membawa kita pulang pada inti liburan: kehangatan, rasa ingin tahu, dan keindahan kecil yang memantik kebahagiaan.




Melalui acara intimate ini, Luxina dapat merasakan bagaimana Diptyque tidak hanya menjual produk, tetapi menghadirkan pengalaman multisensori yang merayakan imajinasi. Dan di tengah kesibukan Jakarta, kami seakan dibawa ke Saint-Germain-des-Prés yang bersalju—dengan lilin yang bersinar lembut dan kisah yang mengalir, berubah menjadi emas.


