Teater Koma menghadirkan produksi ke-237 bertajuk Rumah Sakit Jiwa. Produksi ini adalah penggarapan kembali karya mereka pada tahun 1991. Meski menggunakan naskah yang sama, lakon karya almarhum N. Riantiarno ini hadir dengan pendekatan artistik baru yang lahir dari pembacaan ulang terhadap perubahan zaman. Perbedaan konteks sosial, perkembangan teknologi, hingga meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mental.
Rumah Sakit Jiwa berkisah tentang Rogusta, seorang dokter baru di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin oleh Profesor Sidarta. Berbekal keyakinan bahwa pendekatan yang penuh empati dan persahabatan mampu membantu proses penyembuhan pasien, Rogusta berupaya membawa perubahan bagi kehidupan para pasien. Namun, upaya tersebut justru memicu benturan dengan sistem yang telah lama mengakar serta pihak-pihak yang merasa kekuasaan dan posisinya mulai terancam. Melalui konflik tersebut, lakon ini mengajak penonton merefleksikan apakah manusia masih mampu memperlakukan sesamanya sebagai manusia di tengah dunia yang perlahan berubah menjadi sebuah “rumah sakit jiwa”, tempat relasi antarmanusia dipenuhi ketakutan, prasangka, dan perebutan kuasa.

Karya ini sendiri menjadi tonggak sejarah penting dalam perjalanan Teater Koma. Naskah Rumah Sakit Jiwa lahir setelah kelompok teater tersebut mengalami sejumlah pencekalan pementasan pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Berangkat dari diskusi bersama para anggota Teater Koma mengenai berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, almarhum N. Riantiarno kemudian merangkumnya menjadi sebuah naskah yang tidak hanya berbicara tentang sebuah institusi rumah sakit jiwa, tetapi juga tentang manusia, kekuasaan, dan harapan untuk menghadirkan perubahan.
Sutradara pementasan Rumah Sakit Jiwa tahun ini, Rangga Riantiarno menjelaskan, “Komposisi pemain kali ini juga menjadi pengalaman yang menarik. Dari total 115 orang yang terlibat, hanya enam orang yang pernah terlibat dalam Rumah Sakit Jiwa tahun 1991. Selebihnya adalah generasi baru Teater Koma yang memiliki kesempatan mengeksplorasi karakter-karakter dalam lakon ini dengan sudut pandang mereka sendiri. Harapannya, penonton tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga diajak pulang membawa refleksi untuk terus memperlakukan manusia lain sebagai manusia.”

Selain proses pendalaman karakter, identitas visual setiap tokoh juga menjadi perhatian dalam pementasan ini. Samuel Wattimena bersama Rima Ananda merancang kostum yang tidak hanya merepresentasikan profesi masing-masing tokoh, tetapi juga mengekspresikan kondisi kejiwaan, dinamika psikologis, serta perjalanan karakter sepanjang pertunjukan.
Pementasan ini juga menghadirkan pengalaman artistik yang memperkuat perjalanan cerita melalui perpaduan tata panggung, tata cahaya, tata musik, dan multimedia yang saling melengkapi. Tata panggung dirancang dengan permainan level melalui struktur bertingkat dan elemen tangga yang menjadi metafora hubungan antartokoh, sekaligus merepresentasikan jarak, hierarki, dan dinamika kuasa antara para dokter dan pasien di rumah sakit jiwa. Dialog pun tak luput disisipi bahasa kekinian seperti cuplikan lirik lagu Rollerblade, “Udah siap belum?” sebelum para pasien bernyanyi yang tentunya mengundang tawa penonton.
Pementasan Rumah Sakit Jiwa hadir berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation, dipentaskan pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

