Luxina, Di tengah industri fashion global yang identik dengan kecepatan dan luxury yang instan, Denica Riadini-Flesch justru memilih jalan yang sunyi: memperlambat proses, kembali ke tanah, dan menempatkan manusia di pusat cerita. Lewat label SukkhaCitta, ia mengajukan definisi baru tentang luxury—bukan sebagai simbol status, melainkan sebagai hasil dari proses yang jujur, adil, dan berkelanjutan.
“What we wear matters. It affects the soil, the rivers, and the people who make it,” ujar Denica dalam salah satu seri video Rolex Awards yang mendokumentasikan perjalanannya membangun sistem farm-to-closet di Indonesia.
Dari Fast Fashion ke Farm-to-Closet
Didirikan pada 2016, SukkhaCitta lahir dari kegelisahan Denica terhadap sistem fashion arus utama yang kerap mengorbankan lingkungan dan pekerja di balik layar. Alih-alih memproduksi pakaian secara massal, SukkhaCitta membangun rantai pasok terintegrasi—dimulai dari kapas yang ditanam secara regeneratif, pewarna alami dari tumbuhan lokal, hingga pengerjaan tangan oleh pengrajin perempuan di desa-desa Indonesia.
Dalam sistem ini, pakaian tidak dibuat untuk mengejar musim. Setiap helai kain memiliki waktu, asal-usul, dan identitas yang jelas. “We don’t start with design. We start with the land,” kata Denica, menegaskan bahwa kesehatan tanah adalah fondasi utama dari seluruh proses produksi.
Pendekatan tersebut bukan hanya soal keberlanjutan lingkungan, tetapi juga tentang mengembalikan kendali kepada komunitas lokal—terutama perempuan.
Pertiwi dan Bahasa Visual SukkhaCitta

Di sinilah peran Anastasia Setiobudi, Creative Director SukkhaCitta, menjadi krusial. Berangkat dari pemahaman mendalam terhadap tekstil dan bentuk, Pertiwi menerjemahkan filosofi farm-to-closet ke dalam desain yang tenang, tak lekang waktu, dan subtil—sebuah estetika yang tidak berteriak, namun justru mengundang perhatian.
Alih-alih mengikuti siklus tren musiman, arah kreatif SukkhaCitta menekankan longevity: potongan yang bisa dikenakan lintas waktu, detail yang menghormati teknik tangan, serta siluet yang memberi ruang bagi kain untuk “berbicara”.
Pendekatan ini sejalan dengan visi Denica bahwa luxury sejati tidak terletak pada kompleksitas desain, melainkan pada kedalaman proses dan kejujuran material. Di tangan , kain hasil kerja para ibu’s tidak dipaksa tunduk pada trend global, tetapi justru diposisikan sebagai pusat desain itu sendiri.
Rumah SukkhaCitta dan Perempuan sebagai Penjaga Pengetahuan
Melalui Rumah SukkhaCitta, Denica membangun ruang belajar dan bekerja bagi perempuan desa yang disebut sebagai ibu’s. Di tempat ini, mereka tidak hanya mempraktikkan teknik batik, tenun, dan pewarnaan alami, tetapi juga mempelajari literasi keuangan, kepemimpinan, serta pemahaman ekologi.
“These women are not workers at the end of the supply chain. They are knowledge holders,” ujar Denica. Baginya, kerajinan tradisional bukan artefak masa lalu, melainkan teknologi hidup yang relevan dengan tantangan masa kini—krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan hilangnya makna dalam produksi.
Dampaknya terasa nyata: peningkatan pendapatan, kemandirian ekonomi, dan keberlanjutan pengetahuan lintas generasi. Bagi SukkhaCitta, pemberdayaan perempuan bukan program tambahan, melainkan inti dari model bisnis itu sendiri.
Pengakuan Global: Rolex Awards 2023
Kerja yang berakar kuat di komunitas lokal ini mendapatkan pengakuan internasional ketika Denica Riadini-Flesch terpilih sebagai Laureate Rolex Awards 2023. Penghargaan ini diberikan kepada individu yang menghadirkan solusi inovatif terhadap tantangan global—dan dalam konteks Denica, tantangan itu adalah bagaimana membuat fashion bekerja tanpa merusak bumi dan manusia.
Dalam video resmi Rolex, Denica menyampaikan bahwa visinya bukan sekadar menciptakan produk berkelanjutan, melainkan membangun sistem yang bisa direplikasi. “If we can prove that this works economically, then there is no reason the industry cannot change,” ujarnya.
Penghargaan tersebut membuka panggung global bagi SukkhaCitta, sekaligus mempertegas posisinya sebagai salah satu contoh bagaimana luxury dapat berjalan seiring dengan etika dan dampak sosial.
Luxury yang Memiliki Makna
SukkhaCitta menawarkan perspektif yang berbeda. Di sini, luxury tidak diukur dari logo atau trend, melainkan dari ketelusuran, keterampilan tangan, dan nilai yang melekat pada setiap proses. Pakaian menjadi medium cerita—tentang tanah yang dipulihkan, perempuan yang diberdayakan, dan budaya yang dijaga.
Di era ketika konsumen semakin sadar akan dampak pilihan mereka, karya Denica Riadini-Flesch hadir sebagai pengingat bahwa luxury sejati adalah ketika keindahan tidak lahir dari eksploitasi.
Dan mungkin, justru di sanalah letak relevansi SukkhaCitta hari ini: bukan hanya sebagai label busana, tetapi sebagai gerakan yang mengajak kita berpikir ulang—tentang apa yang kita kenakan, dan nilai apa yang ingin kita bawa bersamanya.


