Home FeaturesPartnersCommunityMenyaksikan Pemberdayaan Dan Sistem Sirkular SukkhaCitta

Menyaksikan Pemberdayaan Dan Sistem Sirkular SukkhaCitta

by Ion Akhmad
0 comments
Bagikan

Setelah memenangkan Rolex Awards pada tahun 2023 lalu, Denica Riadini – Flesch founder SukkhaCitta, membuka pintu Ruma SukkhaCitta untuk dikunjungi dan melihat langsung proses dan langkah demi langkah yang ia lakukan dalam memberdayakan para ibu, proses pembuatan kain dan pemanfaatan lahan. Ion Akhmad berkunjung langsung ke Rumah SukkhaCitta yang pertama di Jawa Tengah.

Petani perempuan sedang memetik kapas di lahan pertanian dekat Jawa Timur. Budidaya kapas secara historis merupakan salah satu industri terbesar di Indonesia, tetapi dalam beberapa tahun terakhir banyak petani beralih ke tanaman yang lebih menguntungkan seperti jagung. SukkhaCitta mendorong mereka untuk mempertahankan praktik budidaya kapas tradisional mereka dengan menawarkan upah yang layak untuk hasil panen mereka.

Baju yang kita lihat sudah terpajang di toko SukkhaCitta dengan begitu indahnya, memiliki perjalanan dan cerita panjang sebelum baju tersebut sampai di tangan Anda. Cerita ini dimulai dari benih kapas yang ditanam secara Tumpang Sari di perkebunan masyarakat setempat, sehingga tidak memerlukan lahan luas yang dedikasikan khusus untuk tanaman kapas. Dengan sistem tradisional Tumpang Sari ini pula, kesuburan dan kandungan mineral pada tanah tetap terjaga. SukkhaCitta tentu saja memberikan kompensasi yang seimbang pada pemiliki lahan untuk keberlanjutan petani. Ini baru satu jenis tanaman yang akan menjadi material utama, selain kapas, Denica juga menanam indigo yang digunakan sebagai pewarna kain secara tumpang sari. Sampai disini, bentuk baju tentu saja belum terlihat. Perjalanan untuk menjadi sepotong baju masih panjang.

Komunitas petani SukkhaCitta menanam daun kopi di bawah pohon kopi yang rimbun di hutan di sekitar desa mereka. Setelah ditanam selama 4 bulan dengan bantuan sinar matahari dan hujan, daun kopi kemudian difermentasi dengan air pegunungan sebelum digunakan oleh para Ibu sebagai bahan pewarna kain.

Rumah SukkhaCitta yang berlokasi di sebuah desa ini, ditemukan oleh Denica lewat riset dan survey selama beberapa tahun. “Saya melakukan riset dan survey di beberapa lokasi di Jawa Timur, tapi daerah ini adalah yang terbaik yang kita temukan, karena di sini ternyata banyak ibu-ibu yang memilliki keahlian membatik tapi tidak lagi produktif saat itu”, ucap Denica. Keahlian membatik ini, yang apabila tidak terus dilakukan, tentu saja akan punah, yang juga merupakan bagian dari Rumah SukkhaCitta dalam menyelamatkan budaya membatik.

Para perajin batik di salah satu sekolah kerajinan SukkhaCitta, Rumah SukkhaCitta. Membatik adalah keterampilan yang telah diwariskan turun-temurun di Indonesia, yaitu menggambar di atas kain menggunakan lilin tahan pewarna yang kemudian meninggalkan desain rumit setelah kain diwarnai. Berkat sekolah kerajinan SukkhaCitta, pengetahuan lokal seperti ini dapat terus diwariskan.

Di Rumah SukkhaCitta ini, yang terjadi adalah proses membatik oleh para ibu, menggambar pola batik, pencelupan, pemanasan dan pengeringan kain. Proses membatik dilakukan menggunakan kain katun yang merupakan hasil panen kapas sendiri yang kemudian dipintal di lokasi lain yang khusus untuk memeroses kapas menjadi benang dan kain. Untuk informasi, proses benang kapas menjadi kain adalah menggunakan cara tenun tradisional tanpa menggunakan mesin modern atau yang disebut ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Menurut Denica, ini menambah nilai dari kain tersebut dan Denica masih terus melakukan riset trial & eror dalam menemukan teknin tenun lain untuk tekstur kain yang berbeda.

Dengan melihat langsung, saya memahami bagaimana Denica berjuang dari awal ia memulai Rumah SukkhaCitta 9 tahun yang lalu. Dengan menjalankan sistem sirkular ini,SukkhaCitta bukan hanya memberdayakan, secara tidak langsung juga mengedukasi masyarakat setempat untuk tetap mempertahankan tradisi dan mengembalikan alam sebagaimana mestinya.

Menjadi bagian dari Perpetual Planet Initiative melalui Rolex Award, ini akan memberi Denica kesempatan untuk memperkuat karya SukkhaCitta: “Hal yang luar biasa tentang Rolex adalah mereka memberi Anda kesempatan. Mereka memungkinkan Anda berbicara tentang hal-hal yang benar-benar Anda yakini, untuk menginspirasi orang lain melakukan hal yang sama. Hal itu tertanam dalam DNA Rolex, untuk mendukung para pionir.”

Dengan dukungan dari Rolex ini, Denica berencana untuk melipatgandakan jumlah sekolah kerajinan. Pada tahun 2030, ia menargetkan untuk memberi dampak pada 10.000 jiwa dan meregenerasi 1.000 hektar lahan. Ia juga meluncurkan aplikasi yang berisi kurikulum digital SukkhaCitta, yang memungkinkan proyek ini menjangkau perempuan bahkan di komunitas paling terpencil di Indonesia, di berbagai pulau, dan berbicara dengan berbagai dialek.

Rolex Awards Laureated dan founder dari SukkhaCitta, Denica Riadini-Flesch.

Bagikan

You may also like

UA-98339383-1