Di balik setiap helai wastra Indonesia tersimpan cerita, jejak sejarah, identitas, dan nilai kehidupan yang melampaui zaman. Semangat itulah yang menjadi napas perayaan 50-tahun Museum Tekstil Jakarta dan Himpunan Wastraprema (HWP) melalui pameran bertajuk Menjaga Warisan untuk Masa Depan. Di antara puluhan koleksi bersejarah yang dipamerkan, perhatian tertuju pada kontribusi Torang Sitorus, kolektor sekaligus pelestari ulos yang selama dua dekade terakhir mengabdikan dirinya untuk merawat salah satu warisan budaya paling penting dari Tanah Batak.

Torang Sitorus dan Ulos Kebanggaan
Nama Torang Sitorus telah lama menjadi bagian penting dalam perjalanan ulos menuju panggung dunia. Ia bukan sekadar pewaris tradisi keluarga, tetapi juga sosok yang secara konsisten mengumpulkan, mendokumentasikan, dan memperkenalkan ulos kepada masyarakat internasional. Koleksinya tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Sumatera Utara, tetapi juga berhasil dihimpun dari para kolektor di sejumlah negara. Dedikasi tersebut sebelumnya dituangkan dalam buku Identity In A Piece Of Cloth – The Batak Ulos, yang diterbitkan pada 2022 sebagai dokumentasi perjalanan koleksinya selama lebih dari 20-tahun.

114 Helai Ulos
Komitmen itu kembali diwujudkan melalui hibah 114 helai ulos kepada Himpunan Wastraprema pada 4 Mei 2026. Donasi tersebut kemudian menjadi bagian dari koleksi Museum Tekstil sebagai warisan yang dapat dipelajari oleh generasi mendatang. Dalam pameran kali ini, sebanyak 12 ulos pilihan dari koleksi Torang Sitorus ditampilkan bersama deretan wastra bersejarah lain yang memperlihatkan kekayaan tekstil Nusantara dari berbagai daerah dan periode. Kehadiran ulos-ulos tersebut menjadi penanda bahwa pelestarian budaya lahir dari kepedulian individu yang kemudian berkembang menjadi gerakan kolektif.

Himpunan Wastraprema sejak 1976
Pameran ini menjadi perayaan penting atas perjalanan panjang Himpunan Wastraprema yang sejak berdiri pada 28 Januari 1976 telah berkomitmen mengangkat citra, pemahaman, dan apresiasi terhadap kain tradisional Indonesia. Bersama Museum Tekstil yang diresmikan pada tahun yang sama atas dukungan Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, HWP mengawali sejarahnya dengan menghibahkan 500 helai wastra sebagai fondasi koleksi museum. Lima puluh tahun kemudian, semangat yang sama terus dijaga melalui penambahan koleksi dari para pencinta wastra, termasuk hibah Torang Sitorus.

Usia Emas Museum Tekstil Jakarta
Pameran dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, yang menegaskan bahwa usia emas Museum Tekstil bukan sekadar peringatan perjalanan sebuah institusi, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kekayaan budaya Indonesia. Menurutnya, pelestarian wastra merupakan proses panjang yang tidak dapat diselesaikan dalam satu generasi. Museum, karena itu, harus terus berfungsi sebagai ruang dialog, edukasi, dan pembelajaran bagi masyarakat luas.

Kurasi dan Hibah
Ketua Umum Himpunan Wastraprema periode 2023–2027, Sri Sintasari Iskandar, menambahkan bahwa seluruh koleksi yang dipamerkan merupakan hasil kurasi terbaik dari berbagai hibah sejak organisasi ini berdiri. Pada awal pendiriannya, HWP menerima sumbangan dari sejumlah tokoh bangsa seperti Ibu Tien Soeharto, Ali Sadikin, Go Tik Swan atau Panembahan Hardjonegoro, Gusti Putri Mangkunegoro VIII, Lasmidjah Hardi, hingga Herawati Diah. Seiring waktu, koleksi tersebut terus bertambah, termasuk hibah 114 helai ulos dari Torang Sitorus yang melengkapi perjalanan sejarah museum memasuki usia setengah abad.

Ulos Langka
Sebanyak 62 helai wastra pilihan kini menjadi pusat perhatian dalam pameran yang berlangsung hingga 30 Agustus 2026. Koleksi tersebut terdiri atas 19 wastra legendaris dari para pendiri HWP, 31 wastra hibah para donor, dan 12 ulos langka koleksi Torang Sitorus. Setiap lembar kain menghadirkan kisah berbeda mengenai tradisi, teknik, filosofi, hingga dinamika sosial yang membentuk perjalanan bangsa Indonesia melalui tekstil.

Mahakarya
Salah satu koleksi yang paling menyita perhatian adalah Umbul-umbul Caruban Nagari dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Mahakarya abad ke-19 ini dibuat menggunakan teknik batik keris dengan motif kaligrafi yang merepresentasikan lambang kenegaraan Kesultanan Cirebon. Nilai historisnya begitu tinggi karena dipercaya pernah menjadi simbol semangat perjuangan masyarakat pribumi dalam menghadapi kolonialisme di kawasan Sunda Kelapa. Bersama Destar Singa Ali dan sejumlah karya adiluhung lainnya, koleksi tersebut memperlihatkan bahwa wastra Indonesia tidak hanya indah secara visual, tetapi juga menyimpan narasi kebangsaan yang kuat.

Program Edukatif
Tidak berhenti pada pameran, rangkaian perayaan 50-tahun Himpunan Wastraprema juga menghadirkan program edukatif berupa Bincang-Bincang Wastra pada 4 Juli 2026 yang membahas sejarah serta filosofi Dwaja Pusaka Caruban Nagari bersama budayawan dan sejarawan Cirebon, Astaqim Asteja. Kehadiran para duta besar dari Belanda, Turki, dan Ekuador turut memperlihatkan bahwa wastra Indonesia semakin mendapat perhatian dalam percakapan budaya di tingkat internasional.

Dedikasi untuk Wastra Nusantara
Bagi Torang Sitorus sendiri, perjalanan menjaga warisan belum berakhir. Setelah mempersembahkan koleksi ulos terbaiknya kepada Museum Tekstil, ia telah menyiapkan koleksi-koleksi baru yang kelak akan diperkenalkan kepada publik. Menariknya, kali ini fokusnya tidak lagi hanya pada ulos. Langkah tersebut menjadi isyarat bahwa dedikasinya terhadap pelestarian wastra Nusantara akan terus berkembang, menghadirkan perspektif baru sekaligus memperkaya pemahaman masyarakat tentang kekayaan tekstil Indonesia yang tak pernah habis untuk dijelajahi.



