Waktu dan sejarah bergerak perlahan, meninggalkan jejak-jejak yang tak selalu tercatat di dalam buku, tetapi hidup di telapak tangan para penenun, pada genggaman para pembelah kayu, dan di setiap serat yang dipersiapkan dengan kesabaran. Di sana, kerja keras berbaur dengan luka, harapan berjalan berdampingan dengan duka. Kisah-kisah itu kemudian dijemur di ranting-ranting kering, seolah menunggu seseorang yang bersedia membacanya dengan hati. Namun, hanya angin yang menjadi saksi paling setia, meniupkan kesejukan pada deru kehidupan yang terus berputar.

Keris dan Leluhur Perempuan
Karya Mapping Ancestral Guidance menjadi salah-satu titik emosional dalam presentasi tersebut. Menggunakan barkcloth dari paper mulberry, berbagai pewarna nabati, pigmen tanah, tinta, hingga sapuan emas, Novieta membangun sebuah peta spiritual tentang asal-usul dan identitas. Sosok perempuan yang tenggelam namun tetap membawa keris berwarna tembaga-keemasan serta mangkuk berisi kembang tujuh-rupa seakan bergerak menembus sejarah. Enam figur leluhur perempuan hadir bagai konstelasi yang memandu perjalanan batin, sementara simbol-simbol seperti perahu, motif kawung, kepompong, bulu harimau, lingkaran pohon bertuliskan suwung dan sumeleh, hingga bunga gambir di bawah atap Rumah Gadang menjadikan karya ini sebuah kartografi tentang penyembuhan lintas-generasi.

Cinta Bumi
Praktik artistik Novieta tidak pernah berhenti pada keindahan permukaan. Sebagai seniman tekstil, natural dyer, penulis, sekaligus pendiri Cinta Bumi Artisans, ia membangun karya melalui perjumpaan antara pengetahuan tradisional, kesadaran ekologis, dan pengalaman personal sebagai perempuan serta ibu. Di tangannya, kulit kayu, serat alami, pigmen tanah, hingga limbah tekstil kehilangan statusnya sebagai material biasa. Semuanya berubah menjadi medium yang menyimpan memori, menyuarakan sejarah, sekaligus menawarkan harapan tentang masa depan yang lebih berkelanjutan.

Tanah, Tinggi, dan Tubuh
Narasi serupa berlanjut dalam instalasi Tanah, Tingi, dan Tubuh, sebuah karya monumental yang menyatukan barkcloth dari Lembah Bada, tenun warisan Kerek Tuban, tenun Tumanggal Purbalingga hasil upcycling limbah garmen, hingga tenun tangan dari Sumba Timur. Pewarna yang berasal dari kulit kayu tingi, oker merah, pigmen tanah hitam, serta air karat membentuk palet bumi yang terasa hangat sekaligus purba. Kain-kain itu menggantung pada ranting kayu alami, membiarkan gravitasi menciptakan lipatan-lipatan organik yang menghadirkan kesan hening. Instalasi ini bukan sekadar komposisi tekstil, melainkan dialog panjang antara tubuh manusia, tanah, pohon, air, dan waktu.

Gagasan Lihat Kebunku
Jika karya-karya sebelumnya berbicara mengenai asal-usul, maka Daur Kebunku berusaha memahami kehidupan sebagai siklus yang terus berputar. Lima-puluh karya kecil berukuran A5 tersusun seperti taman imajiner yang tumbuh dari kertas daur-ulang, sisa kain, barkcloth, benang katun, serta warna-warna yang lahir dari secang, marigold, indigo, biji alpukat, daun jati, kulit bawang, hingga bunga-bunga yang telah gugur. Mengingatkan pada lagu masa kecil Lihat Kebunku, karya ini menyampaikan gagasan sederhana namun mendalam: setiap kehidupan selalu bermula dari benih, bertumbuh melalui perawatan, lalu kembali menjadi awal yang baru.

Rembulan dan Eco-print
Sementara itu, Tilem dan Purnama menghadirkan refleksi mengenai ritme kosmis yang sejak lama menjadi bagian dari kebudayaan Nusantara. Melalui teknik eco-print pada barkcloth menggunakan daun jati, ketapang, mawar, kesumba, jarak, hingga senduduk, Novieta memaknai bulan sebagai penuntun kehidupan. Purnama dan tilem bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan pasangan yang saling melengkapi—terang untuk bertumbuh, gelap untuk beristirahat. Dalam karya ini, alam semesta tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh, tetapi hadir begitu dekat melalui tubuh manusia yang sama-sama mengikuti irama air, musim, dan waktu.

Penghormatan pada alam, 25 Juli – 3 Oktober 2026
Yang membuat keseluruhan praktik Novieta terasa relevan adalah keberaniannya memadukan kriya tradisional dengan gagasan kontemporer mengenai keberlanjutan. Material dari berbagai wilayah Indonesia tidak diperlakukan sebagai artefak nostalgia, melainkan sebagai pengetahuan hidup yang terus berkembang. Upcycling limbah garmen, penggunaan pewarna nabati, teknik eco-print, jahit tangan, hingga barkcloth menjadi bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus kritik halus terhadap budaya konsumsi yang serba-cepat. Setiap helai kain menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa depan. Karya-karya Novieta Tourisia ini dipamerkan bersama dalam “SAMATRA: Quiet Gestures” di Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud, Bali, pada 25 Juli hingga 3 Oktober 2026. Buki mengundang pengunjung untuk kembali memperhatikan hal-hal kecil yang selama ini mungkin teracuhkan, mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari segala sesuatu yang terlupakan.
Novieta Tourisia dari Ubud
Berbasis di Ubud, Bali, Novieta Tourisia (1987) adalah seniman tekstil, peramu pewarna alami, penulis, sekaligus pendiri Cinta Bumi Artisans yang mengeksplorasi pertemuan antara tekstil, kain kulit kayu, kertas, dan bahasa. Praktik artistiknya merajut ingatan leluhur, kehidupan domestik, serta nilai-nilai perawatan yang tumbuh dalam keseharian. Berakar pada kekayaan flora Nusantara dan pengetahuan tradisional, Novieta mengembangkan proses berkarya melalui pewarnaan alami, pembuatan kain kulit kayu, ecoprint, dan jahit tangan. Baginya, peran sebagai seniman dan ibu menyatu dalam sebuah living loom—alat tenun yang hidup—yang terus menenun pengalaman menjadi karya. Terinspirasi oleh warisan para penenun dan peramu tanaman obat dalam keluarganya, ia mengangkat tema migrasi, penyembuhan lintas-generasi, serta pelestarian kisah-kisah di luar arsip resmi.

