Memang berteriak yang paling melegakan jiwa adalah ketika sunyi telah memeluk bumi. Analoginya ditebarkan oleh jenama Tanah le Saé dalam koleksi berjudul “Analogi Jiwa”, koleksi yang menyelami lanskap emosional paling sunyi di lorong-lorong jiwa. Dirancang oleh Denniel Richard dan Andika Wiradiputra, koleksi ini lebih kaya akan teriakan detail, lebih lirih, lebih puitis. Dengan teriakan detail yang begitu bergema, dimana letak sunyinya? Sunyi dihantarkan oleh alam, makanya koleksi ini dipeluk oleh warna-warna earth tone, yang hangat, peredam gejolak hati yang ditinggalkan cinta, yang merindu.

Ingatan, Luka, dan Keindahan dalam Kelegaan
Inspirasi koleksi ini dimulai dari imaji sebuah ruang, di rumah, yang pernah dipenuhi kehangatan. Namun karena waktu berlari dan seperti tamu abadi, yang membawa kedatangan, perubahan, dan kepergian. Tanah le Saé mengubah gerak waktu yang terkadang meninggalkan luka menjadi seni terapan berupa karya fashion, bagaimana kemeja oversized yang bagaikan ruang lega, bermotif kembang penghias ruang, terbuat dari sambungan-sambungan vertikal yang sambungannya tertampak dipermukaan, bagai cabikan luka yang berusaha diperbaiki. Percikan merah bunga, adalah harapan yang bermekaran.

Musik, Ritme, dan Gerak Jiwa
Sebagian energi koleksi terpantik dari musik, termasuk “Pacarona” karya Barasuara, menghadirkan ritme yang membuat setiap look bergerak seolah mengikuti detak perasaan. Di antara kesunyian batin dan kebangkitan, mengenakan blazer gelap bertabur mawar crochet putih, bagai perjalanan malam yang tetap dihiasi cahaya, perjalanan untuk menemukan diri setelah kehilangan. “Emosi membentuk wujud,” ujar Andika, kalimat kunci dari konsep desain koleksi ini “Analgoi Jiwa”.

18 Look Ikonik dan Kolaborasi Kreatif
Untuk JFW 2026, Tanah le Saé mempersembahkan 18 look yang merangkum filosofi brand, kaya dengan hand crafted, keberlanjutan, dan narasi emosional. Tiga di antaranya merupakan kolaborasi dengan BYD dan Denza, sementara aksesori diperkuat oleh Aesthetic Pleasure, THA, dan By Her bersama Ahadi Bintang. Keseluruhan presentasi terasa seperti elegi visual: tenang, tajam, dan sangat manusiawi—sebuah pengingat bahwa setiap jiwa, pada akhirnya, adalah kumpulan analogi tentang apa yang pernah kita cintai dan apa yang berani kita lepaskan.

Puitisasi ‘Analogi Jiwa” terlihat kuat dengan konsep peasant berestetika Bohemian, gaya yang terinspirasi dari pakaian Eropa pada abad ke-19, khususnya wilayah Eropa Timur, Prancis, hingga Balkan. Dalam fashion modern, peasant dress menjadi simbol romantisisme, kebebasan gerak, dan estetika rustic yang effortless. Detail penghias termasuk; Smocking (kerut bordir elastis), embroidery, renda-renda, ruffle dan gather.

















