Seekor buaya hijau berenang di bawah langit merah membara. Di belakangnya, daratan bergaris kuning-hitam menyerupai kulit harimau, dikelilingi pepohonan dan lanskap tropis yang terasa seperti dunia dongeng. Lukisan Arya Sudrajat ini jenaka, surealis, tetapi deras menyimpan kegelisahan. Melalui bahasa visual yang memadukan Pop Surrealism, seniman kelahiran Kampung Seni Jelekong, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, ini menghadirkan imajinasi liar untuk membicarakan tradisi melukis sebuah kampung yang selama puluhan tahun kerap terpinggirkan dalam percakapan seni rupa Indonesia.

Tak Tunduk Pada Logika Realisme
Kekuatan lukisan Arya terletak pada pertemuan bentuk kekanak-kanakan, warna kontras, dan simbol yang tidak tunduk pada logika realisme. Buaya dekoratif, air berombak, serta langit merah menciptakan lanskap magis yang subur, sekaligus mengancam. Namun, di balik kesan dongeng modern tersebut, tersimpan rintihan tentang identitas dan kenangan warga sekampung. Arya Sudrajat berusaha menceritakan jejak kampungnya sendiri ketika dunia luar lebih sibuk dengan kawah seni rupa seperti Yogyakarta dan Bali.

Mixed Media on Linen Tepung Terigu 132x130Cm
Bertahan Hidup dengan Jelekongisme
Cerita tersebut menjadi landasan pameran tunggal Arya, JELEKONGISME: Membaca Tubuh, Bertahan Hidup, dan Mengarsipkan Jelekong dari Dalam. Bagi Arya, kenangan adalah arsip, arsip bukan sekadar dokumen masa lalu, melainkan pengetahuan yang hidup dalam gerak tangan, lapisan cat, kebiasaan, dan ingatan kolektif. Lukisan menjadi medium untuk merekam kehidupan masyarakat Jelekong, sekaligus membaca bagaimana tradisi melukis terus berubah mengikuti pengalaman dan kondisi zamannya.

Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
Jelekong adalah sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Daerah ini sangat terkenal dengan sebutan Kampung Seni Jelekong atau Kampung Pelukis, tempat keterampilan melukis tumbuh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pemandangan alam, ikan koi, pacuan kuda, hingga kereta kencana menjadi tema yang akrab, dengan karya yang dipasarkan ke berbagai daerah hingga mancanegara. Ironisnya, reputasi sebagai sentra produksi juga membuat Jelekong kerap dipersempit menjadi pabrik lukisan massal. Label komersial itu berisiko meremehkan keterampilan, dan kreativitas yang menopang tradisi kampung tersebut.

Dongen Modern Jelekongisme
Melalui Jelekongisme, Arya menawarkan cara pandang lain. Gagasan ini bertumpu pada daya tahan hidup (survival), swakriya (do it yourself), dan kecerdikan mengolah keterbatasan material atau akal-akalan. Ini bukan romantisasi kesulitan, melainkan pengakuan terhadap kecakapan artistik yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari. Jelekongisme mengajak kita melihat lukisan bukan hanya sebagai produk, tetapi sebagai bagian dari ekosistem budaya yang dibentuk oleh manusia, ekonomi, keterampilan, dan hubungan sosial.

Arya Sudrajat dari Kampung Seni
Lahir dan besar di Jelekong, Arya menjadikan kampungnya lebih dari sekadar objek lukisan. Pengalaman personalnya berkelindan dengan sejarah komunitas, tradisi yang diwariskan, serta perubahan yang berlangsung dari generasi ke generasi. Melalui lukisan, instalasi, dan performans, ia mengeksplorasi bagaimana praktik artistik membentuk identitas dan ingatan kolektif. Tubuh seniman pun menjadi arsip hidup, tempat teknik, pengalaman, dan transformasi Jelekong bertemu.

Pop Surealism Arya
Dalam karya-karyanya, fragmen keseharian diolah menjadi simbol yang mempertemukan identitas lokal dengan pengaruh dari luar. Pendekatan Pop Surrealism dan seni naif memberi Arya kebebasan untuk membengkokkan kenyataan, menciptakan lanskap yang terasa akrab sekaligus bagai patchwork yang asing. Imajinasi tidak digunakan untuk melarikan diri dari realitas, tetapi untuk membacanya melalui perspektif yang lebih personal. Di sinilah dongeng modernnya melontarkan daya tarik yang menebarkan positive vibes, dengan hasil akhir yang cerah dan berkesan gembira (aspek penting dalam lukisan sebagai alat pemanifestasi energi positif di dalam rumah).

Daya Cipta Lebih Luas
JELEKONGISME juga memancing percakapan tentang cara seni rupa kontemporer memandang praktik di luar pusat-pusat institusi seni. Ketika sebuah tradisi terlalu cepat dikategorikan sebagai kerajinan atau produksi dekoratif, aspek pengetahuan dan sejarah yang menyertainya berisiko terlemahkan. Di sini Arya tidak menghapus dimensi komersial Jelekong, ia justru mengajaknya masuk ke pembacaan yang lebih luas, tempat praktik melukis dipahami sebagai aktivitas budaya dengan kompleksitas dan daya ciptanya sendiri.

Arsip Perawat Ingatan
Membaca tubuh, bertahan hidup, dan mengarsipkan Jelekong dari dalam akhirnya menjadi tiga cara untuk memahami hubungan antara seni dan kehidupan. Arsip bukan sesuatu yang mati, melainkan proses aktif untuk merawat ingatan sekaligus membuka ruang bagi perubahan. Melalui JELEKONGISME, Arya Sudrajat membawa pengalaman lokal ke dalam wacana seni rupa kontemporer Indonesia, tanpa melepaskannya dari akar sosial tempat pengalaman itu tumbuh.

Buaya HIjau dan Langit Merah
Buaya hijau di bawah langit merah mungkin terlihat seperti tokoh dongeng yang absurd. Namun, di baliknya ada Jelekong dengan tradisi, kecerdikan, dan perjuangan untuk menentukan narasinya sendiri. Kampung ini bukan sekadar tempat lukisan diproduksi, melainkan ruang budaya yang terus menciptakan pengetahuan dan imajinasi. Selama kuas masih bergerak, kisah Jelekong akan terus tercurahkan, melampaui label yang selama ini membatasinya.



