Home LifestyleArt & CultureArya Sudrajat dan Jelekongisme – Dongeng Modern dari Kampung Seni yang Terkesampingkan di Jawa Barat

Arya Sudrajat dan Jelekongisme – Dongeng Modern dari Kampung Seni yang Terkesampingkan di Jawa Barat

by Syahmedi Dean
0 comments
Bagikan

Seekor buaya hijau berenang di bawah langit merah membara. Di belakangnya, daratan bergaris kuning-hitam menyerupai kulit harimau, dikelilingi pepohonan dan lanskap tropis yang terasa seperti dunia dongeng. Lukisan Arya Sudrajat ini jenaka, surealis, tetapi deras menyimpan kegelisahan. Melalui bahasa visual yang memadukan Pop Surrealism, seniman kelahiran Kampung Seni Jelekong, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, ini menghadirkan imajinasi liar untuk membicarakan tradisi melukis sebuah kampung yang selama puluhan tahun kerap terpinggirkan dalam percakapan seni rupa Indonesia.

“Juru Lukis”, 2026, Acrylic On Linen 155x155Cm

Tak Tunduk Pada Logika Realisme

Kekuatan lukisan Arya terletak pada pertemuan bentuk kekanak-kanakan, warna kontras, dan simbol yang tidak tunduk pada logika realisme. Buaya dekoratif, air berombak, serta langit merah menciptakan lanskap magis yang subur, sekaligus mengancam. Namun, di balik kesan dongeng modern tersebut, tersimpan rintihan tentang identitas dan kenangan warga sekampung. Arya Sudrajat berusaha menceritakan jejak kampungnya sendiri ketika dunia luar lebih sibuk dengan kawah seni rupa seperti Yogyakarta dan Bali.

“Belat”, 2026
Mixed Media on Linen Tepung Terigu 132x130Cm

Bertahan Hidup dengan Jelekongisme

Cerita tersebut menjadi landasan pameran tunggal Arya, JELEKONGISME: Membaca Tubuh, Bertahan Hidup, dan Mengarsipkan Jelekong dari Dalam. Bagi Arya, kenangan adalah arsip, arsip bukan sekadar dokumen masa lalu, melainkan pengetahuan yang hidup dalam gerak tangan, lapisan cat, kebiasaan, dan ingatan kolektif. Lukisan menjadi medium untuk merekam kehidupan masyarakat Jelekong, sekaligus membaca bagaimana tradisi melukis terus berubah mengikuti pengalaman dan kondisi zamannya.

“Seubring”, 2026 Acrylic on Linen 140x63Cm

Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Jelekong adalah sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Daerah ini sangat terkenal dengan sebutan Kampung Seni Jelekong atau Kampung Pelukis, tempat keterampilan melukis tumbuh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pemandangan alam, ikan koi, pacuan kuda, hingga kereta kencana menjadi tema yang akrab, dengan karya yang dipasarkan ke berbagai daerah hingga mancanegara. Ironisnya, reputasi sebagai sentra produksi juga membuat Jelekong kerap dipersempit menjadi pabrik lukisan massal. Label komersial itu berisiko meremehkan keterampilan, dan kreativitas yang menopang tradisi kampung tersebut.

“Seubring”, 2026 Acrylic on Linen 183x146Cm

Dongen Modern Jelekongisme

Melalui Jelekongisme, Arya menawarkan cara pandang lain. Gagasan ini bertumpu pada daya tahan hidup (survival), swakriya (do it yourself), dan kecerdikan mengolah keterbatasan material atau akal-akalan. Ini bukan romantisasi kesulitan, melainkan pengakuan terhadap kecakapan artistik yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari. Jelekongisme mengajak kita melihat lukisan bukan hanya sebagai produk, tetapi sebagai bagian dari ekosistem budaya yang dibentuk oleh manusia, ekonomi, keterampilan, dan hubungan sosial.

“Pinterestan Series #3”, 2026 Acrylic on Linen 147x161Cm

Arya Sudrajat dari Kampung Seni

Lahir dan besar di Jelekong, Arya menjadikan kampungnya lebih dari sekadar objek lukisan. Pengalaman personalnya berkelindan dengan sejarah komunitas, tradisi yang diwariskan, serta perubahan yang berlangsung dari generasi ke generasi. Melalui lukisan, instalasi, dan performans, ia mengeksplorasi bagaimana praktik artistik membentuk identitas dan ingatan kolektif. Tubuh seniman pun menjadi arsip hidup, tempat teknik, pengalaman, dan transformasi Jelekong bertemu.

“Seubring”, 2026 Acrylic on Canvas 119x115Cm

Pop Surealism Arya

Dalam karya-karyanya, fragmen keseharian diolah menjadi simbol yang mempertemukan identitas lokal dengan pengaruh dari luar. Pendekatan Pop Surrealism dan seni naif memberi Arya kebebasan untuk membengkokkan kenyataan, menciptakan lanskap yang terasa akrab sekaligus bagai patchwork yang asing. Imajinasi tidak digunakan untuk melarikan diri dari realitas, tetapi untuk membacanya melalui perspektif yang lebih personal. Di sinilah dongeng modernnya melontarkan daya tarik yang menebarkan positive vibes, dengan hasil akhir yang cerah dan berkesan gembira (aspek penting dalam lukisan sebagai alat pemanifestasi energi positif di dalam rumah).

“Belat”, 2026 Acrylic on Canvas 175x175Cm

Daya Cipta Lebih Luas

JELEKONGISME juga memancing percakapan tentang cara seni rupa kontemporer memandang praktik di luar pusat-pusat institusi seni. Ketika sebuah tradisi terlalu cepat dikategorikan sebagai kerajinan atau produksi dekoratif, aspek pengetahuan dan sejarah yang menyertainya berisiko terlemahkan. Di sini Arya tidak menghapus dimensi komersial Jelekong, ia justru mengajaknya masuk ke pembacaan yang lebih luas, tempat praktik melukis dipahami sebagai aktivitas budaya dengan kompleksitas dan daya ciptanya sendiri.

“Coret”, 2026 Acrylic On Canvas 115x60Cm

Arsip Perawat Ingatan

Membaca tubuh, bertahan hidup, dan mengarsipkan Jelekong dari dalam akhirnya menjadi tiga cara untuk memahami hubungan antara seni dan kehidupan. Arsip bukan sesuatu yang mati, melainkan proses aktif untuk merawat ingatan sekaligus membuka ruang bagi perubahan. Melalui JELEKONGISME, Arya Sudrajat membawa pengalaman lokal ke dalam wacana seni rupa kontemporer Indonesia, tanpa melepaskannya dari akar sosial tempat pengalaman itu tumbuh.

“Series Juru Lukis”, 2026 Acrylic On Linen 114x75Cm

Buaya HIjau dan Langit Merah

Buaya hijau di bawah langit merah mungkin terlihat seperti tokoh dongeng yang absurd. Namun, di baliknya ada Jelekong dengan tradisi, kecerdikan, dan perjuangan untuk menentukan narasinya sendiri. Kampung ini bukan sekadar tempat lukisan diproduksi, melainkan ruang budaya yang terus menciptakan pengetahuan dan imajinasi. Selama kuas masih bergerak, kisah Jelekong akan terus tercurahkan, melampaui label yang selama ini membatasinya.

“Coret”, 2026 Acrylic on Linen 140x111Cm

“Seubring”, 2026 Acrylic on Linen 107x120Cm


Bagikan

You may also like

UA-98339383-1